AAA

Doa kan saudara-saudara kita yang tertimpa musibah saat ini, dan ulurkan tanganmu untuk meringankan beban mereka.

Sabtu, 25 September 2010

Remaja dan Malam Minggu

Malam minggu adalah malam yang sangat ditunggu-tunggu bagi para remaja baik yang mempunyai pacar atau pun tidak mempunyai pacar. Kalau ada yang bertanya mengapa harus malam minggu saya yakin semua orang bisa menjawab, karena malam minggu adalah malam yang panjang dimana esok hari nya adalah hari libur. Oleh sebab itu malam minggu dimanfaatkan oleh kebanyakan para remaja yang masih sekolah, kuliah, maupun yang sudah bekerja untuk beristirat memikirkan pelajaran sekolah, kuliah atau masalah kerjaan artinya malam minggu adalah waktunya untuk bersenang-senang.
Para remaja putra putri yang mempunyai pacar atau kekasih biasanya menghabiskan malam minggu dengan melakukan hal-hal wajib seperti mengunjungi rumah sang kekasih atau sering disebut (ngapel), berjalan-jalan berdua di taman, pergi ke mall untuk nonton atau karaoke, pergi ke kafe, nonton konser musik, dan lain sebagainya. Mengapa saya bilang wajib karena jika malam minggu tidak dihabiskan dengan hal-hal seperti saya sebutkan tadi, maka ada kecurigaan bahwa si pacar baik perempuan maupun laki-lakinya sudah tidak mencintai atau sudah merasa bosan berpacaran dan hal ini bisa menyebabkan mereka putus. Kecuali bagi mereka yang melakukan pacaran jarak jauh (long distance reletionship) itupun masih ada kegiatan wajib yang harus mereka lakukan supaya tidak ada kecurigaan bahwa si pacar sudah tidak cinta atau bosan pacaran jarak jauh, kegiatan wajib itu adalah komunikasi dengan menelfon. Tidak jarang banyak dari mereka yang menghabiskan pulsa untuk menelfon pacarnya sampai berjam-jam.
Mereka sama sekali tidak memikirkan berapa uang yang harus dikeluarkan untuk biaya pacaran, seperti membeli pulsa, membeli tiket konser musik, mentraktir makan dan minum di kafe, membeli bensin motor untuk jalan-jalan mengelilingi kota. “Yah cinta itu kan butuh pengorbanan” kata mereka. Cinta memang butuh pengorbanan, apalagi pacaran butuh biaya banyak. Tapi itulah kekuatan cinta yang tidak diiringi dengan pengetahuan yang cukup ditambah jiwa muda yang masih penuh dengan gelora kesenangan sesaat, tidak peduli apakah pacar nya memang benar akan menjadi istri/suaminya kelak yang penting bisa merasakan indahnya pacaran.
Memang tidak ada yang salah dengan pengorbanan cinta, cinta memang harus diperjuangkan tapi dengan syarat raihlah cinta itu dengan cara-cara yang benar disertai rasa tanggungjawab. Yang sangat saya sesali banyak dari remaja baik putra maupun putri yang melakukan tindakan menyimpang (deviant behavior) untuk menuruti kehendak/nafsu berpacarannya. Mengapa saya berani bilang seperti itu, tentu ada alasanya. Coba lihat saja di berita-berita baik di media cetak, maupun elektronik. Kita bisa menemukan banyak berita tentang pembunuhan, pemerkosaan, penipuan, dan penganiayaan yang pelaku dan korbannya adalah remaja. Semua tindakan kejahatan tersebut bisa terjadi tentunya di sebabkan oleh kekuatan cinta yang tidak diiringi dengan pengetahuan yang cukup ditambah jiwa muda yang masih penuh dengan gelora kesenangan sesaat. Naudzubillahhi mindzalik
Aduh kok jadi serius ngomongin dampak negatif pacaran ya??
Pembaca yang sedang berpacaran atau memiliki pacar pasti ada yang kurang setuju dengan tulisan saya ni..Kalau pacaran itu banyak negatifnya. Hmm tenang maksud saya disini tidak untuk menghakimi kalian. Saya juga tidak bermaksud untuk sok menasihati. Terserah individu masing-masing kan mau melakukan apa saja baik yang dilarang maupun yang tidak dilarang semuanya kan dipertanggungjawabkan sendiri tidak ada urusannya dengan saya. Benar sekali,,Iya disini saya hanya memberikan sedikit unek-unek yang ada di pikiran saya. Semoga saja bermanfat bagi pembaca yang kiranya menganggap tulisan ini bermanfaat.
Oh iya kembali lagi ke judul “Remaja dan Malam Minggu”.
Tadi adalah bahasan malam minggu bagi remaja yang memiliki pacar, nah sekarang lanjut masih membahas tentang remaja dan malam minggu namun kali bukan remaja yang tidak memiliki pacar alias Jomblowan and Jomblowati.
Bagi para remaja putra putri yang tidak memiliki pacar alias Jomblowan and Jomblowati biasanya menghabiskan malam minggu dengan berkumpul bersama teman, pergi ke tempat-tempat gaul anak muda seperti kafe, untuk sekedar mejeng atau mencari kenalan yang nantinya bisa berlanjut kepacaran. Katanya si biar tidak dibilang anak Mami, Jadul, Primitif atau apalah ada ada saja . Sehingga tidak heran jika banyak teman yang menanyakan “Malam minggu acaranya ke mana ni?” kadang risih juga sih bosan dengarnya. Pembaca mungkin ada yang bertanya “Masa iya sih semua remaja seperti itu??
Memang tidak benar apabila saya mengatakan bahwa semua remaja seperti itu, tentu masih ada remaja yang menghabiskan waktu malam minggu nya dengan melakukan hal-hal positif seperti membaca buku di rumah, bercengkrama dengan keluarga, mengaji dan menonton tv di rumah. Tergantung bagaimana cara orang tua mereka memberi pemahaman kepada anak-anaknya tentang hal-hal yang baik untuk dilakukan dan yang tidak baik untuk dilakukan.
Tapi nampaknya hal itu sangat jarang saya jumpai sekarang ini, pernah ada satu kesempatan ketika saya sedang berjalan menuju ke rumah sepulang kuliah karena hari itu kebetulan cuaca tidak terlalu panas dan lokasi kampus tidak jauh dari rumah maka saya memutuskan untuk pargi ke kampus jalan kaki. Di jalan saya tidak sendiri ada sekitar 5 siswi SMP yang kebetulan juga baru pulang sekolah akhirnya kami saling menyapa dan berjalan beriringan.
“Baru jam 11 kok udah pada pulang? tanya ku mengwali percakapan. “Iya kan hari sabtu pulang awal ka”. jawab mereka serentak. “ooh sabtu pulang awal emang kelas berapa?”, jawabku santai. “Iya lah kak emang anak kuliahan aja yang sabtu pulang awal, anak SMP juga dong” tukas salah satu anak yang berjalan tepat di sebelah saya namanya Wida. “Memangnya kenapa hari sabtu harus pulang awal?” tanya ku lagi. “Ceileh kaka kaya ga tau aja, kaka kalau hari sabtu pasti siap-siap kan buat jalan ma pacar?” jawab salah satu anak yang posturnya paling tinggi di antara temenya namanya Wanti. Sejenak saya terdiam sambil berpikir apa hubunganya hari sabtu, pulang awal dan siap-siap buat jalan sama pacar??? “Memangnya kalian mau jalan nanti malam?” tanya ku lagi agak aneh. “Iyaa..kaka” mereka serentak menjawab, hanya satu anak berkaca mata yang tidak ikut menjawab namanya cici. “Jalan sama-sama? ada acara apa?”, Tanya ku lagi semakin penasaran, di benaku mungkin mereka akan menghadiri salah satu pesta ulang tahun temen nya.
“Jalan masing-masing lah, pacar ku sih tadi sms katanya mau ngajak nonton” jawab Wanti. “Hmm pacar ku palah belum ada sms ni, jangan-jangan nanti dia mau jalan sama cewe lain lagi.” , keluh teman di sebelahnya. “Iyaa pasti selingkuh tuu.. “ serentak 3 teman nya menyahut. Mereka sibuk membicarakan rencana malam minggu dengan pacarnya masing-masing. Saya masih diliputi rasa heran, bagaimana mungkin anak-anak SMP yang mungkin masih kelas 2 atau 3 ini sudah memiliki pacar dan diizinkan oleh orang tuanya untuk menikmati malam minggu dengan berjalan bersama pacar.
Mereka masih sibuk membicarakan hal tadi, sementara saya masih memikirkan hal yang sama sampai tiba-tiba saya dikejutkan oleh suara sorakkan mereka. “Iyah malam minggu masa belajar, hari gini gituloh!! kenapa ga ngaji sekalian?” teriak Wanti. Dan disambut oleh sorakan cemoohan teman-temannya. “Wah ada apa ko teriak gitu??” tanya ku yang kurang menyimak pembicaraan mereka karena disibukan oleh keanehan-keanehan tadi. “Ini loh kak si Cici katanya nanti malam mau belajar!” belum sempat saya menanggapi, kembali lagi yang lain menyahut “ Cici kan ga punya pacar jadi mau jalan sama siapa? paling sama mamanya ha..haa..dasar anak mami!”, mereka semakin mencemooh sambil tertawa.
Mungkin menurut mereka ini adalah sesuatu yang tidak lazim atau lucu sehingga membuat mereka tertawa. Sungguh sangat miris mendengarnya tapi mau berbuat apa, apabila di saat itu saya langsung menasihati mereka pasti mereka juga akan balik mentertawakan saya. Akhirnya saya diam saja pura-pura tidak terlalu mengkhawatirkan masalah ini, meskipun hati ini terus diliputi rasa seakan tidak percaya kalau pergaulan anak-anak zaman sekarang sudah separah itu.
Sudah reda mereka berceloteh, saya kembali bertanya” Kenapa sih kalian bisa mencela Cici sampai seperti itu, belajar kan hal yang bagus dan bermanfaat lagi.” saya mencoba membela cici yang mukanya nampak merah karena jengkel dengan olokan teman-temannya. “ Iya sih ka, memang cici itu pintar selalu ranking 1 di kelas tapi masa orang tuanya galak ga ngebolehin Cici pacaran. Kan kasian di sekolah dia jadi bahan tertawaan.” jawab Wida dengan semangat . “Iya orang tua nya Cici konyol masa hari gini pacaran aja dilarang.” Wanti menyahut seenaknya. Sebelum pembicaraan mereka semakin menyudutkan Cici, saya langsung ambil alih percakapan. “Ooh Cici pintar ya selalu ranking 1, pasti orang tua mu sangat bangga ya. Lebih bagus ga punya pacar dan berprestasi dari pada punya pacar tapi prestasinya nol kan betul ga?”. saya lihat wajah Cici mulai cerah mendapat pembelaan yang sangat berarti buat dia. . “Iya ka..”, jawab mereka, kali ini mereka berubah menjadi anak yang lebih menyenangkan. “Iya contohnya Wanti ka dia kan ga naik kelas tuh.” sahut Wida pelan, mungkin wida takut nanti akan dimarahi oleh Wanti karena nampaknya yang memiliki kuasa di situ adalah Wanti seorang anak yang postur tubuhnya paling tinggi diantara anak-anak lainnya dan ternyata dia adalah salah satu siswi yang tinggal kelas.
Percakapan pada siang itu akhirnya harus terputus karena saya sudah sampai di depan Komplek rumah. Saya harus belok sementara siswi-siswi SMP itu masih harus melewati 3 komplek untuk sampai ke rumahnya masing-masing.
Dari cerita di atas setidaknya menggambarkan bahwa seorang anak seperti Cici sekarang jumlahnya adalah 1 berbanding 5 artinya orang tua yang melarang anaknya untuk berpacaran dan benar-benar memperhatikan perilaku anaknya sangatlah sedikit. Bahkan ada orang tua yang terang-terangan membiarkan anaknya keluyuran hingga tengah malam entah apa yang dikerjakan oleh anak itu di luar mereka tidak perduli. Kebanyakan dari mereka terlalu sibuk memikirkan urusannya masing-masing sehingga melupakan peran pentingnya sebagai orang tua. Hal itu disebabkan oleh banyak faktor dari kebutuhan ekonomi, kondisi zaman yang telah berubah, demokrasi yang kebablasan dan lain-lain yang sudah sering dibahas di artikel, koran maupun buku.
Menikmati malam minggu bersama teman, pacar ataupun keluarga sekali lagi adalah hal yang sudah wajar dan boleh-boleh saja. Setiap orang memiliki hak untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Selama hak tersebut tidak menyebabkan kerugian bagi orang lain mengapa kita musti melarang ataupun mentertawakannya. Tapi ingatlah selalu menuruti kehendak/nafsu kita juga tidak baik, ada kalanya kita harus mengerem segala keinginan-keinginan yang belum tentu baik dan bermanfaat bagi kita.
Mohon selalu diingat!! Setiap orang memiliki hak untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Selama hak tersebut tidak menyebabkan kerugian bagi orang lain mengapa kita musti melarang ataupun mentertawakannya.
Janganlah menganggap suatu olokan adalah hal yang biasa yang mudah saja keluar dari mulut selagi bercanda, membuat hati puas dan tertawa di atas hati yang terluka. Ingatlah !! Mencemooh atau menterwawakan orang lain membuat kepuasan tersendiri bagi orang-orang yang bodoh, atau maaf..orang yang Tolol. Karena ketika dia sedang mengolok, menghina dan menyakiti perasaan seseorang, apalagi di depan orang-orang banyak dengan tujuan untuk mempermalukan seseorang itu dan menjadikan ini suatu lelucon yang memuaskan hatinya, pada hakekatnya dia adalah orang yang sedang mengubur kepintaranya dan menunjukan ke semua orang kalau dia adalah orang yang paling Tolol sedunia dan akhirat.
Kasus ini berdasarkan cerita Wanti dan teman-temanya tadi yang mengolok dan mentertawakan Cici seenaknya. Padahal apa yang dilakukan oleh Cici sama sekali tidak merugikan mereka. Jujur saja peran antagonis Wanti disini baik sengaja atau tidak sengaja seringkali terjadi baik di lingkungan sekolah, kampus, maupun masyarakat. Suatu olokan dianggap sebagai suatu kelucuan. Astagfirrullah semoga kita tidak menganggap ini adalah sesuatu hal yang wajar.
Menyalahkan Wanti dan teman-temannya sepenuhnya pun rasanya tidak adil karena banyak faktor yang menyebabkan hal itu bisa terjadi, dari kurangnya pendidikan dari orang tua, film, sinetron di TV yang seringkali mempertontonkan cara-cara melakukan tindakan kejahatan, yang menyakiti perasaan orang lain seperti mencemooh, menganiaya dan lain sebagainya.
Kita tidak perlu menjadi Cici tapi jangan sekali-sekali menjadi Wanti.
Pengalaman pribadi juga waktu masih SMA saya sering menjadi bahan olokan oleh teman-teman yang saya masih ingat jelas wajahnya. Tapi saya juga salah mengapa saya hanya diam seakan tak berdaya, Andai saja waktu itu saya bisa lebih berani menghadapi kenakalan mereka dan tidak memberi kesempatan untuk mereka mentertawakan saya pastinya mereka juga tidak akan terus mengolok-olok saya. Hmm ok just forget it. May Allah forgive me and them. Amin.
Terimakasih sudah membaca,
Maaf tulisannya masih amburadul karena baru belajar menulis. J
Alaways learn to be a good writer.
Nurhasanah
Edukasi
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan

Nurhasanah seorang mahasiswi STKIP-PGRI Pontianak. Daerah Asalnya, kec. Seponti Jaya. Kabupaten Kayong Utara. Lagi menimba ilmu sebanyak-banyaknya untuk bekal jadi guru
Remaja dan Malam Minggu
Nurhasanah
|  14 Maret 2010  |  09:27
628
2
1 dari 1 Kompasianer menilai Inspiratif.



Sebarkan Tulisan:
Tanggapan Tulisan
14 Maret 2010 13:14
0
hehehe emang anak zaman sekarang kek gitu semua mbak (termasuk saya hihihi)
oh ya saran donk: font tulisannya agak kegedean, paraghrapnya agak kepanjangan. capek bacanya. hehehhe
14 Maret 2010 19:58
0
he..hee Iya makasih ya sarannya.
Tulis Tanggapan Anda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar