AAA

Doa kan saudara-saudara kita yang tertimpa musibah saat ini, dan ulurkan tanganmu untuk meringankan beban mereka.

Jumat, 10 Desember 2010

ARTIKEL PENGUSAHA

Laris Karena Tuah Pitik Rambut Syetan dan Sambel Iblis


Wednesday, 25 July 2007
Page 1 of 2
Setelah sukses mengembangkan rumah makan steak Ben Tuman, Ajeng Astri Denaya berhasil mengelola rumah makan Mbah Jingkrak. Keduanya kini dikembangkan dengan model waralaba. Haris RK

Jalan-jalan ke kota Semarang, kurang lengkap rasanya bila tidak menikmati pitik rambut syetan atau sambel iblis. Jangan kaget dulu, belakangan menu yang terkesan menyeramkan itu memang sedang popular di ibu kota propinsi Jawa Tengah ini. Untuk mendapatkannya tidak perlu laku ritual, tapi cukup datang ke Rumah Makan Mbah Jingkrak.
Rumah makan yang berada di kawasan Jl. Taman Beringin tersebut, memang sedang naik daun. Itu karena kepintaran pengelolanya dalam menyajikan menu-menu yang membuat penasaran para pemburu makanan enak.“Selain penasaran dengan nama menu, mereka cocok dengan makanan yang kami sajikan, “ kata Ajeng Astri Denaya, pemilik restoran tersebut.

Dalam jagad bisnis resto, nama Mbah Jingkrak bisa dibilang pendatang baru. Ia baru muncul setahun belakangan ini. Hebatnya dalam tempo yang terbilang singkat itu, ia telah memiliki pelanggan fanatik. Menariknya, mereka justru berasal dari kalangan menengah ke atas, yang sebenarnya tidak dibidik secara khusus pada awal pendirian rumah makan ini. “Semula kami membidik pasar semua lapisan, tapi ternyata yang muncul justru kalangan menengah ke atas, padahal harga menu kami sangat terjangkau kalangan mana pun,” tutur ibu tiga anak ini.
Kemunculan rumah makan ini, memang terbilang fenomenal. Ia melesat cepat bak meteor. Maklum dalam waktu yang relatif singkat, telah berhasil menarik hati masyarakat. Tak  mengherankan, bila dalam tempo tidak sampai sebulan pengelola rumah makan ini mengklaim telah berhasil mengembalikan modal yang ditanamkannya. “Kami sangat bersyukur karena tidak genap sebulan, modal yang kami tanam langsung balik,” imbuh Ajeng.

Menurut pengakuan Ajeng, Mbah Jingkrak baru resmi beroperasi sejak akhir 2005 lalu. Pendirian rumah makan ini, merupakan pengembangan bisnis resto yang telah dijalaninya sejak tahun 1997 silam. Wanita penghobi masak ini, sebelumnya memang telah berhasil mengembangkan  bisnis jasa boga. Ia tercatat sebagai pemilik Warung Steak Ben Tuman, yang berada di Semarang dan kini telah berkembang di Jakarta.. “Setelah warung steak berkembang, saya kok pengin mengembangkan rumah makan dengan menu makanan tradisional,”  ungkapnya.
Ajeng berterus terang bahwa pendirian rumah makan Mbah Jingkrak terinspirasi dari beberapa warung makan tradisional yang ada di Yogyakarta dan Solo. Dia melihat ada beberapa warung di kedua kota tersebut yang cukup laris walaupun tempat dan cara penyajiannya sangat sederhana. Mereka laris bukan karena tempat tapi karena menu yang disajikan dirasakan cocok bagi kebanyakan orang, termasuk dari kalangan menengah.
Namun ada sebagian besar kaum berduit yang merasa malu makan di tempat seperti ini, walaupun mereka sebenarnya merasa cocok dengan menu yang disajikan.”Mereka sebenarnya mau, tapi juga malu apalagi yang biasa jaga image atau sok gengsi,” tandas Ajeng.

Melihat fenomena banyaknya warung makan tradiosional yang cukup laris, Ajeng merasa ada peluang pasar yang bisa diraihnya. Ia tertarik membuat rumah makan dengan menyajikan menu tradisional, tapi disajikan di tempat yang representative sehingga bagi kalangan menengah ke atas tidak sungkan untuk datang menikmatinya.
Bila melihat menu yang disajikan di rumah makan Mbah Jingkrak, memang terasa tidak asing lagi. Karena semua bisa ditemukan di warung-warung makan lain. Hanya saja yang membuat berbeda, Ajeng menamakan beberapa menunya dengan nama yang nyleneh seperti pitik rambut syetan, sambel syetan, sambel iblis, es tobat, dll. Sambel iblis, sebenarnya hanya sambel biasa tapi dibuat dari cabe rawit, yang terasa pedas sekali. Siapa pun yang menikmati tentu akan merasa kepedasan. Penamaan menu-menu aneh tersebut, memang menjadi strategi promosi untuk membuat konsumen penasaran. Dan strateginya memang membuahkan hasil , karena setiap muncul menu baru selalu ada yang merasa penasaran dan ngin mencobanya. “Biasanya setelah mencoba mereka akan ketagihan, nah membuat orang ketagihan ini yang sulit,” paparnya.
Pernyataan Ajeng, memang tidak berlebihan. Nyatanya, dengan  nama-nama menu yang terkesan “sangar” tersebut, ternyata telah mengangkat citra Rm Mbah Jingkrak, hingga cepat dikenal masyarakat. “Kami memang sengaja membuat menu aneh yang bikin penasaran konsumen,”  katanya lagi. 
Nama Mbah Jingkrak itu, sendiri menurut Ajeng  diperoleh secara tidak sengaja. Itu terjadi ketika dia bersama sang suami, Henry Pramono hendak pergi ke sebuah desa di Kecamatan Munggi, Kabupaten Gunungkidul, DIY. Di desa itu ada sebuah warung makan yang sangat terkenal karena menyajikan menu nasi beras merah dan sayur lombok tempe. Dalam  perjalanan tersebut, Ajeng tidak ingat nama rumah makan yang akan ditujunya. Tiba-tiba sang suami nyebut nama “Mbah Jingkrak”, padahal yang dimaksud adalah desa Jirak. “Saya mendadak punya inspirasi untuk menamakan Mbah Jingkrak menyadi nama rumah makan, ini kayaknya pas sekali,” tutur Ajeng.
Sejak itulah, ia merasa mantap menggunakan nama Mbah Jingkrak di rumah makan yang kemudian dibukanya di Semarang hanya beberapa hari sepulang dia menyempatkan makan di Gunungkidul. Nama ini sangat cocok karena dalam bahasa Jawa, jingkrak berarti melompat-lompat karena kegirangan.
Masih menurut Ajeng, untuk mendirikan rumah makan tersebut, ia hanya mengggunakan modal Rp 40 juta. Modal ini digunakan untuk penyiapan alat dan promosi. Tanpa dinyana modal sebanyak itu ternyata langsung balik dalam tempo tidak sampai satu bulan. “Padahal perhitungan saya, modal paling tidak baru bisa balik selama tiga bulan,” ujarnya.
Tidak mengejutkan bila, dalam tempo singkat Ajeng berhasil mengembangkan Mbah Jingkrak. Maklum ia memang sudah paham betul strategi apa yang harus dilakukannya, salah satunya adalah strategi promosi. Ketika pertama buka, ia langsung memblow up promosi lewat media lokal dan menghubungi semua relasi bisnis yang telah dimilikinya.

Bagi Ajeng, menjalankan bisnis rumah makan agaknya sudah menjadi jalan hidupnya. Ia kini bisa dibilang meraih kesuksesan hidupnya karena bisnis jasa boga yang digelutinya. Saat ini Ajeng tercatat mengelola dua rumah makan, Ben Tuman dan Mbah Jingkrak. Keduanya berlokasi di tempat yang sama.
Sekedar informasi, sebelum sukses menggeluti bisnis resto, Ajeng tercatat sebagai karyawan sebuah perusahaan garmen di Semarang. Tekad untuk pindah kuadran menjadi pengusaha memang sudah bulat. Itu karena kondisi ekonomi yang mendorong semangat berbisnisnya bangkit. “Bayangkan mas saya harus menanggung tiga anak, sementara saya single parent,” tutur wanita bertubuh kuning langsat ini.
Restoran Ben Tuman yang secara khusus menyediakan menu steak dirintisnya sejak 1997 silam. Modal awalnya hanya Rp 14 juta yang digunakan untuk sewa tempat dan persiapan peralatan produksi. Ia mengaku tertarik membuka warung steak setelah melihat bisnis makanan asal Eropa ini cukup digemari dan menjadi trend bisnis di kota Jakarta dan Bandung. “Saya memang suka masak dan mencoba makanan apa saja ,” jelasnya.

Ben Tuman bisa dibilang pelopor bisnis steak di Semarang. Ketika itu, Ajeng juga sudah menggunakan nama menu yang aneh seperti, Sapi bingung dan ayam linglung. “Ternyata menu yang aneh bisa menjadi daya tarik tersendiri untuk membuat orang penasaran,” katanya.
Ia mengawali usaha di kawasan Jl Kiai Saleh dengan mengontrak tanah seluas 100 meter persegi. Modal awalnya hanya Rp 14 juta yang merupakan uang tabungan. Bisnis berkembang bagus, sehingga tak mengherankan bila dalam tempo singkat, modalnya segera kembali dan ia membuka cabang lagi di tempat lain. Bahkan dalam perjalanannya, ia berhasil mengembangkan modal sebanyak itu menjadi asset ratusan juta dalam tempo tiga tahun. Ini terbukti dengan keberhasilannya membeli  tanah sendiri yang digunakannya membuka cabang baru senilai Rp 750- juta.

Awalnya, Ajeng mencoba membidik pasar mahasiswa. Tentu saja, steak yang dijualnya telah melewati proses modifikasi baik dari rasa maupun harga. Ia meramu bumbu sendiri dan membuat harga yang terjangkau untuk kalangan mahasiswa. “Ternyata banyak lidah orang Semarang yang juga gemar dengan steak,” katanya.
Dalam perjalanannya, ternyata yang datang ke Ben Tuman justru berasal dari kalangan menengah ke atas. Padahal semula, ia tidak membidik pasar ini secara khusus. Yang diinginkannya justru pasar dari kalangan menengah ke bawah. “Tapi yang datang ternyata mereka yang bermobil dan kini justru malah anak-anak orang kaya,” tukasnya.
Menurut Ajeng bisnis makanan di Semarang terbilang tidak gampang. Sekali salah melangkah, katanya, bisnis bisa hancur. Karena itulah, sebelum memulai bisnis ini, pengetahuan tentang karakter masyarakat mutlak dikuasai.” Kebetulan saya orang Semarang, jadi sudah paham dengan keinginan mereka,” katanya.

Sejak awal, Ajeng memang berusaha menjual steak tersebut dengan harga yang bisa dijangkau masyarakat dan terbilang  murah. Ia menyediakan menu antara Rp 12.750 hingga Rp 30.000-an. “Harga ini murah dibandingkan dengan harga di restoran besar,” ungkapnya.
Untuk penamaan menu, Ajeng juga menggunakan nama yang aneh-aneh, seperti Merapi Meletus Sapi Bingung Steak, Ayam Mabuk Steak, Ben Tuman Spesial Steak, dan Aborigin Beef Steak. Pemberian nama ini, terkesan asal comot, tapi ternyata sangat menguntungkan. Karena membuat konsumen tersenyum bila membaca, paling tidak mereka bisa terkesan dibuatnya. Nama merapi meletus  terinspirasi oleh letusan Gunung Merapi yang melontarkan batu-batuan. Hujan abunya menyebar ke daerah sekitar.
"Batu-batuan dari Gunung Merapi itu saya ibaratkan kentang yang dibungkus dengan alumunium foil. Makanya, (daging) sapinya bingung, kok ada kentang dibungkus kertas. Di sekelilingnya terdapat sayur wortel, buncis, dan saus yang seperti meleleh," katanya sambil tertawa.

Secara ekonomi, Ajeng memang sudah terbilang sukses. Yang menarik, ia kini sering diundang ke beberapa forum pelatihan kewirausahaan untuk menjadi nara sumber. Keberhasilannya mengelola kedua rumah makan tersebut, kayaknya memang patut ditularkan kepada calon pebisns lain untuk menirunya.”Dengan senang hati, kami menularkan ilmu agar mereka bisa mengikuti jejak kami,” tuturnya.
Ajeng tidak hanya mengembangkan bisnis di Semarang,.Ia telah melebarkan sayap ke Jakarta. Ben Tuman dan Mbah Jingkrak sudah merambah ke ibukota Negara ini dengan cara waralaba. “Kebetulan ada kawan-kawan yang tertarik, karena itulah saya mencoba mengembangkan dengan cara waralaba,” imbuhnya.
Saat ini, Ajeng menjual waralaba untuk Ben Tuman sebesar Rp 150 juta. Sedangkan untuk Mbah Jingkrak, hanya sebesar Rp 50 juta.” Yang minta untuk membuka sudah banyak, kami masih mengkaji kelayakannya,” tuturnya.

Dari Lumpur Hingga SPBU

Monday, 12 November 2007
Menapaki jenjang dari seseorang penjual es kelapa muda, Urpan Dani sukses mendirikan beberapa perusahaan. Kiatnya; keikhlasan dan doa. Sukatna
Kru sebuah production house sedang sibuk menyorotkan kamera untuk merekam beberapa adegan di sebuah rumah di Citra Gran Blok E17 No. 6 Cibubur.
Beberapa adegan dari sinetron tersebut memang mengambil lokasi di rumah Urpan Dani, pendiri beberapa perusahaan yang bergerak di bidang lumpur pengeboran, eksportir kayu manis, pemasok pasir, pengelola SPBU Petronas dan jual-beli properti.
Namun kisah sukses Urpan bukanlah sebuah kebetulan, seperti yang banyak terjadi dalam kisah-kisah sinetron kita. Sebelum memiliki beberapa perusahaan Urpan harus berjuang keras, bahkan sempat menjadi penjual es kelapa muda di Pintu II Senayan, dan menjual penjual tempe goreng. Semuanya dilakoni dengan ikhlas.
Sebenarnya, setamat kuliah di Fakultas ekonomi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta pada tahun 1989, pria kelahiran tahun 1964 ini sempat diterima menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di Departemen Koperasi di tanah kelahirannya Kerinci. Tetapi ia mengaku tidak berminat menjadi PNS. Justru Urpan pergi ke Jakarta ikut pamannya.
Lantaran tidak setuju dengan pilihan anaknya, orangtua  Urpan tidak mengirimi uang belanja sehari-hari. Tetapi Urpan tidak menyerah begitu saja. Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari ia harus berjualan es kelapa muda, kemudian menjadi penjual tempe goreng.

Di sela-sela menekuni ‘profesinya’ itu, Urpan mengirimkan lamaran ke sejumlah perusahaan. Sempat tes di Pertamina sampai tahapan ketiga, tetapi akhirnya gagal. “Jumlah lamaran sampai 300 lebih,” ungkap Urpan belum lama ini.
Dari salah satu lamarannya, Urpan diterima di sebuah perusahaan lumpur pengeboran yang kantor pusatnya di Jakarta. Tetapi Urpan ditempatkan di Palangkaraya. Pada pagi hari, Urpan menyelesaikan pekerjaan kantor. Di siang harinya, belajar mengoperasikan alat-alat berat, dan sore harinya belajar mengelas. Praktis tidak ada waktu luang untuk Urpan.
Tak lama berselang, Urpan ditarik ke Jakarta tetapi ditempatkan di pabrik. Di pabrik Urpan banyak belajar, mulai dari memproduksi bahan-bahan pendukung lumpur pengeboran sampai mengelas plastik. Ia ingin menyerap semua ilmu tersebut. Ia yakin ilmu itu akan berguna kelak di kemudian hari. Keyakinannya tidak meleset. Prestasinya terus melesat, hingga akhirnya dipercaya menjadi general manager yang mengurusi semua kebutuhan perusahaan dari A sampai Z.
Di tengah karirnya yang terus menanjak, Urpan menyunting anak mantan bupati Kerinci, Gladia Rahmawati, pada tahun 1995. Dalam posisinya sebagai general manager, sering Urpan mengambil keputusan-keputusan penting diantaranya memilih rekanan perusahaan. Ternyata banyak rekanan perusahaan yang memberikan ‘uang terimakasih’. Hal ini justru membuatnya tidak nyaman. Hal ini ia sampaikan ke pemilik malah berujar,” ambil saja uang itu. Keuntungan perusahaan lebih besar daripada yan kamu dapatkan.”
Urpan merasa tidak nyaman. Ia berkeputusan untuk mengundurkan diri. Sebelum mengundurkan diri pada tahun 1997, Urpan melakukan sholat istikharah, untuk meminta petunjuk kepada Allah. Tak lupa ia meminta dukungan dari keluarganya maupun dari keluarga istrinya. Tak satu pun yang setuju ia mengundurkan diri, kecuali satu orang, yakni istrinya. Setelah sholat istikharah beberapa malam, Urpan mengambil keputusan bulat : mengundurkan diri dan siap-siap mendirikan usaha jual-beli mobil bekas.
Ternyata menjadi pengusaha itu tidak semudah membayangkannya. Usaha jual beli mobil bekas yang ia dirikan pada tahun 1997 dengan menggunakan bendera PT. Salsabila Rizky Pratama nyaris macet. Mobil-mobil terlanjur ia kirimkan ke Jambi untuk dijual ternyata seret. Tetapi ia sudah tidak bisa mundur lagi. Mobil-mobil itu ia tarik kembali ke Jakarta dan ia jual di Lapangan Ros dan Kalibata indah. Pada tahun-tahun awal hasilnya lumayan. Penjualan terus meningkat.
Di sela-sela mengiklankan mobil dagangannya, Urpan juga mengiklankan kayu manis dan menjalankan bisnis lumpur pengeboran, meski masih kecil-kecilan. Beberapa orang memesan kayu manisnya tetapi ternyata kebanyakan menipu. Setelah kayu manis dikirim, mereka tidak mengirimkan uangnya. Sudah jatuh tertimpa tangga, itu peribahasanya. Usaha kayu manis belum membuahkan hasil, bahkan ditipu, usaha jual-beli mobil bekasnya lesu. Apalagi, ia juga ditipu beberpa pedagang yan menjual mobil bodong. “Kerugian saat itu mencapai Rp. 250 juta,” tuturnya.
Di saat kondisi perusahannya letih lesu, Urpan justru mengambil keputusan untuk menunaikan ibadah haji bersama istrinya pada tahun 1991. Dengan uang seadanya, sebagian hasil pinjaman dari keluarganya, Urpan dan Gladia berangkat ke Tanah Suci.
Di Al-Mutazzam, Urpan berdoa dengan khusuk. Memohonkan ampunan untuk leluhurnya yang sudah meninggal serta meminta keselamatan dan kesehatan bagi keluarga yang masih hidup. Di akhir doa, ia meminta agar Allah menunjukkan jalan dan meridhoi usahanya. Tak lama berselang, telepon genggamnya berbunyi. Isi pesan yang dikirim adiknya mengatakan PT. Salsabila mendapatkan proyek lumpur pengeboran dari sebuah perusahaan ternama. “Doa saya dibayar tunai. Saking senangnya saya menangis sampai “nungging-nungging” ucap Urpan yang kini membina ribuan petani kayu manis di Kerinci. Dari Al Mutazzam inilah terjadi perubahan yang luar biasa pada perusahaannya.
Penjualan kayu manis, yang semula diniatkan untuk membantu mengangkat harga sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan petani, mulai membuahkan hasil. Usaha lumpur pengeboran yang tadinya kecil mulai menggurita. Bahkan untuk memperbesar pemasaran 35 item produk Lumpur pengeborannya, Urpan berpatungan dengan rekannya untuk mendirikan PT. Prima Hidrokarbon Internusa pada tahun 2002. PT. Salsabila menjual secara ritel dan PT. Prima Hidrokarbon masuk ke tender-tender besar. Selain memasok 35 item bahan pendukung Lumpur pengeboran, PT. Prima Hidrokarbon juga melakukan pengeboran sendiri.
Perusahaan terus menggurita. Keenam adik Urpan ikut terlibat untuk membesarkan usaha yang didirikan sulung dari tujuh bersaudara ini. Perusahaan yang memiliki kantor pusat di Cibubur dan pabrik di Karawang ini memiliki sekitar 800 karyawan. Ekspansi usaha terus dilakukan. Bisnis properti (membeli rumah kemudian merenovasinya) yang sebelumnya tidak dirambah mulai dimasukinya. Bisnis perkayuan juga mulai dimasuki. Semua bisnis ini ditangani oleh adik-adiknya.
Sekitar akhir tahun 2005 lalu, Urpan kembali mendirikan perusahaan pemasok pasir, PT Pasir Bumi Nusantara. Salah satu adiknya, Faizal Kadni dipercaya untuk menjalankan usaha tersebut. Dalam hitungan bulan saja, PT Pasir Bumi Nusantara mampu memasok pasir ke Cibubur dan Jalan Kali Malang sebanyak 600-800 kubik per hari.
Si bungsu, Faizin Kadni yang pilih tinggal di Yogyakarta mendirikan perusahaan travel PT. Radin Pratama yang mengusung bendera Radin Tour. “Keberhasilan bukan semata-mata diukur dari banyaknya materi, tetapi juga keberhasilannya dalam membimbing adik-adik dan merukunkan keluarga,” kata Urpan.
Urpan sendiri sering mengatakan bahwa usahanya masih kecil. Namun orang lain, melihat pria ini sosok yang sukses. Buktinya, salah satu rumah produksi meminjam rumahnya untuk dijadikan lokasi syuting. Pelanggan lumpur pengeborannya juga perusahaan ternama, di antaranya Pertamina. Sedangkan penjualan kayu manisnya sudah merambah negara-negara di seantero dunia.
Ketika ditanya kiat suksesnya, Urpan mengatakan keikhlasan dan doa. “Ikhlas bukan berarti kita menyerah terhadp keadaan. Dalam berbisnis kita tetap harus berusaha keras. Berusaha untuk menciptakan produk berkualitas dan berusaha mendapatkan order sebanyak-banyaknya. Walau kita sudah bekerja keras tetapi kalau hasilnya tidak sesuai dengan yang ditargetkan kita harus ikhlas menerimanya. Itulah makna ikhlas yang saya maksud. Selain ikhlas adalah doa. Bagi saya doa itu yang pertama, baru kemudian berusaha. Tetapi banyak orang yang mengatakan berusaha dulu baru berdoa. Silakan, itu pilihan masing-masing orang. Dan jangan lupa, di balik keuntungan yang kita peroleh terdapat harta hak orang lain, diantaranya fakir miskin dan anak yatim piatu. Kalau kita memberikan hak-hak mereka Insya Allah rejeki kita lancar, seperti Salsabila (oase di surga yang airnya terus mengucur,” pungkas pria yang Agustus tahun lalu mengoperasikan SPBU Petronas di Lenteng Agung ini.
Kiat RC Speed “Nggeber” Pasar Matik

Tuesday, 13 November 2007
Teddy, RC SpeedSepeda motor matik mulai naik populasinya. Suatu peluang bagi bengkel maupun produsen asesoris yang fokus di pasar matik. Wiyono
Populasi sepeda motor di tanah air telah sedemikian fantastis, menembus angka 30 juta lebih. Wajar di kota-kota besar terutama pada jam-jam kerja, sepeda motor selalu menyemut di sebagian ruas-ruas jalan atau menyelip di antara jajaran kendaraan roda empat. Tetapi hal yang acap menjadi pemicu problem lalu-lintas itu di lain pihak menjadi lahan bisnis menggiurkan untuk sebagian masyarakat. Tengoklah penangguk rejeki di sepanjang pinggiran jalan, mulai penyedia jasa tambal ban, penjual aksesoris kendaraan, hingga bengkel penyedia jasa servis lengkap, meliputi ganti oli, tune-up, variasi, dan sebagainya. Jumlahnya menjamur, namun semua pasti mengaku laris-manis.

Salah satunya yakni bengkel dan toko aksesoris sepeda motor RC Speed yang terletak di pertigaan Mabad, dekat kawasan Bintaro, Jakarta Selatan.  Pemiliknya, K. Bayu Kertadi atau kerap disapa Teddy, sebelumnya adalah eksportir furniture antik yang sukses merambah pasar benua Amerika dan Eropa. Namun ketika harga bahan baku produk olahan kayu melambung, apalagi saat ini pasaran dirasakan mulai jenuh, Teddy mulai tertarik beralih menjadi distributor aksesoris sepeda motor.
Pada awalnya, bisnis ini tidak beda seperti bengkel servis dan aksesoris pada umumnya, termasuk menyediakan beraneka onderdil untuk semua jenis motor. Tetapi setelah belajar dari pengalaman pasar kelahiran Surabaya 1964 itu segera menyadari, untuk satu merek kendaraan saja ia sudah berbelanja banyak sekali sparepart. Belum lagi ketika harus bersaing dengan bengkel-bengkel lain yang sudah ada, sehingga ia mesti memutar otak mencari celah pasar yang berbeda.
Gayung pun bersambut saat pada akhir-akhir ini keluar kendaraan roda dua berjenis mesin otomatis. Begitu melihat peluang, Teddy seolah tidak mau ketinggalan start. Semua barang-barang di tokonya segera ditukarkan sehingga sekarang usahanya hanya khusus menyediakan aksesoris motor matik. Itu pun tidak semua item, tetapi hanya jenis yang sekiranya banyak diminati. Keyakinannya cukup besar karena ia belum menjumpai pemain serupa, sementara dari bocoran yang dia peroleh, secara bertahap importir sepeda motor bakal mengurangi pasokan kendaraan jenis bebek dan digantikan model scootic. “Pertama keluar, saya dengar onderdilnya masih sulit,” imbuhnya beralasan.

Langkah berikutnya agar berbeda dengan bengkel kebanyakan, lulusan Trisakti  jurusan Product Design tersebut tidak mau melayani servis rutin, seperti ganti oli dan sebagainya. Sebaliknya RC Speed hanya dikhususkan menyediakan penjualan pernak-pernik kostum, aksesoris, dan jasa tune up mesin untuk meningkatkan akselerasi dan kecepatan kendaraan, maupun memperbaiki performa, seperti mengatasi masalah suspensi pada kendaraan matik. Mengaku bermitra dengan Adi Sutisna, seorang ahli mesin otomotif dan pemilik workshop, berdua mereka merancang inovasi produk-produk bikinan sendiri. “Kita punya program tidak hanya membeli dan memasang barang yang sudah jadi di pasaran,” tandasnya pula.

RC SpeedDicontohkan, di satu sisi sepeda motor matik lebih praktis karena pengendara tidak perlu menginjak gigi setiap hendak mengganti kecepatan, namun model ini kerap dianggap lemot terutama pada waktu tarikan awal. Untuk  membuat tarikan enteng biasanya bengkel lain menyiasati dengan mengganti roller mesin dengan produk berbahan lebih ringan (produk racing impor asal Thailand) sehingga Teddy berpendapat itu malahan berakibat riskan. Produk yang bukan standard tidak akan awet sebab memang bukan diperuntukkan daily using. Di samping itu konsumen juga merugi sebab dengan penggantian spare part otomatis garansi kendaraan ikut hangus. Maka ia mengaku memiliki treatment khusus untuk membuat tarikan motor sesuai dengan keinginan kita tetapi tanpa perlu penggantian spare part.

Namun lebih jauh ia mengingatkan bahwa mesin sepeda motor matik tidak mengenal pengereman oleh mesin (engine brake). Ironisnya pada umumnya sistem pengaman pada jetmatic belum ada yang menggunakan rem cakram. Dengan kemampuan kecepatan yang cukup tinggi jelas bisa berakibat fatal. Memikirkan hal itu Teddy dan Adi sengaja merancang disk brake motor matik yang bisa ditempatkan  di bagaian roda belakang di sebelah kiri. “Disk brake produk Thailand dipasang pada sisi kanan roda belakang sehingga perlu mengganti tuas rem yang dijual dalam satu paket,” jelasnya. “Dan kepala babi juga ada di bawah, itu khan, riskan,” tambahnya.

Masih ada beberapa lagi jenis produk hasil rancangan mereka berdua, di antaranya yaitu booster lampu. Apabila rem cakram, karena mengingat ongkos produksi yang cukup tinggi jadi hanya dibuat berdasarkan permintaan, alat bantu penerangan bisa dibuat lebih banyak. Adi mengungkapkan, dengan dibantu 5 orang pegawai ia mampu mengahsilkan lebih dari 1000 biji. Merek yang dipakai untuk semua produk adalah RC Speed Inovations. Harga jual disk brake Rp 2,5 juta, sedangkan booster lampu terdiri dua model, Rp 225 ribu untuk 2 lampu, dan Rp 200 ribu untuk satu lampu. Dari hasil penjualan dan jasa dalam satu bulan RC Speed mampu mengumpulkan omset Rp 30 juta-Rp 35 juta.
Kendala utama yang masih menghadang, seperti diakui, tidak lain adalah ketersediaan dana yang terbatas. Sementara biaya pengembangan yang dibutuhkan tiap-tiap jenis produk bisa mencapai Rp 100 juta hingga Rp 500 juta lebih. Bahkan dikarenakan permodalan sampai saat ini permintaan produk dari luar kota sama sekali belum bisa mereka dipenuhi. Sejauh ini konsumen hanya dilayani dengan model pasang di tempat.
Oleh karenanya Teddy mengharapkan adanya mitra kerja sama lain untuk mendapatkan suntikan modal atau pun investor yang bersedia membeli hak paten dengan imbalan royalti. “Permodalan, kalau sendirian kita cukup kesulitan,” Adi ikut mengamini. Apabila itu terlaksana barangkali suatu saat kita dapat menyaksikan hasil-hasil inovasi lainnya, seperti jaket dan helm berpendingin komponen elektronik, atau trail matik dengan monoshock breaker ditaruh di tengah seperti yang telah mereka janjikan.






DJ School Bisnis di Balik Hiburan Malam

Friday, 09 November 2007
Ali Mursidi, United DJ SchoolDengan semakin maraknya tempat hiburan malam, kebutuhan terhadap DJ pun juga bertambah. Peluang ini ‘dibaca’ Ali Mursidi dengan mendirikan United DJ School. Fisamawati

Istilah DJ ini pertama kali digunakan untuk menggambarkan seorang peyiar radio yang akan memperkenalkan dan memainkan rekaman gramophone yang populer. Rekaman model ini, juga dikenal sebagai "cakram" dimana dalam industri ini dimainkan oleh peyiar-penyiar radio, oleh karena itu nama disc jockey dan selanjutnya lebih akrab dikenal sebagai DJs atau deejays. Sekarang karena berbagai faktor, termasuk musik yang dipilih, para pendengarnya, penyetelan kinerja, media yang digunakan dan perkembangan dari manipulasi suara, telah menghasilkan berbagai macam teknik DJ.
Dalam beraksi memilih dan memainkan rekaman suara untuk pendengar yang menginginkan adalah sama untuk setiap DJ. Musik yang dipilih, media yang digunakan, dan tingkatan kesempurnaan dari manipulasi suara adalah faktor-faktor yang membuat tipe DJ yang berbeda-beda.
Hal inilah yang menjadi alasan kemunculan sekolah-sekolah DJ di Indonesia khususnya Jakarta. Dengan maraknya animo para ABG (Anak Baru Gede, red) menyinggahi klub-klub untuk mencari hiburan, menginspirasikan Ali Mursidi untuk mewadahi para ABG tersebut. “Mereka tidak hanya menjadi clubbers, tapi juga bisa mencari penghasilan dengan menjadi DJ-salah satunya,” kata Ali yang juga melekatkan tulisan DJ di depan namanya.
Ia pun menambahkan, sekolah yang dibangun berdasarkan hobby ini, mulanya dilatarbelakangi ketidaksetujuan orang tuanya akan kebiasaanya yang sering ke klub-klub malam. Dengan berbagai pertimbangan, orang tuanya pun membelikan seperangkat peralatan teknik untuk seorang DJ seperti piringan hitam, CD, file MP3 dan sebagainya. “Klub kan biasanya di-image-kan tempat yang negatif, rawan narkoba, minum-minuman, ditambah lagi pergaulan yang bebas. Dari image tersebut, saya mencoba memberikan pandangan positif dengan mendirikan DJ School, dimana dari sini dapat memberikan kemudahan bagi para calon DJ untuk belajar secara serius. Intinya dengan adanya DJ School bisa menjadi media atau sarana bagi calon DJ untuk terjun langsung dan diperhitungan,” ungkapnya.
Di bawah label perusahaan Sound Of Zeus, sekolah DJ miliknya pun diberi nama United DJ School. Alasan pemilihan nama tersebut tak serta merta datang begitu saja, ia  berkeinginan untuk menyatukan para DJ professional maupun calon DJ. Meskipun menyadari benar, bahwa bisnis yang digelutinya belum layak bagi kalangan tertentu apalagi yang masih tabu dengan hingar-bingar musik dan kerlap-kerlip lampu disko, Ali tetap optimis.
“Target dalam bisnis ini memang terbatas. Sekolah DJ khusus menarik minat bagi kalangan anak muda yang memang menyukai dunia gerlap malam dan ingin mencari penghasilan dari hobby yang dimilikinya. Tetapi, tak jarang pula para pelajar yang tertarik untuk menekuni teknik menjadi DJ yang baik dan benar. Bahkan, ada pula orang tua yang mengantarkan anaknya untuk latihan. Itu artinya, sekolah DJ mulai memiliki posisi bagus khususnya di dunia hiburan,” terangnya.
United DJ SchoolSeperti diakui Ali menanggapi tingkat persaingan bisnis mendirikan sekolah DJ, khususnya di Jakarta dirasakan masih jarang pemainnya. Meskipun, titik strategis ada di bilangan Jakarta Selatan, ia tak menampik memang ada beberapa pemain di bidang yang sama dengannya tetapi jumlahnya pun belum mencapai puluhan, bahkan untuk jumlah 10 pun rasanya belum terpenuhi.
“Jika dihitung-hitung paling hanya 4 di daerah Selatan, pusat titik hiburan. Salah satu dari jumlah tersebut pun sudah saling mengenal karena memang sudah sering ketemu di lapangan. Dengan minimnya jumlah sekolah tersebut yang memicu saya. Berhubung masih jarang pemainnya jadi pasti ada peluang kan,” akunya.
Beralamat di Ruko Ariss 99, Jakarta Selatan, pria yang juga memiliki pengalaman menjadi pembuka DJ internasional antara lain Steve Gerrald, Randi Katana, dan Kessen Tailler ini, mengaku menginvestasikan uang tidak lebih dari Rp 100 juta. Jumlah nominal tersebut ia gunakan untuk membeli peralatan teknik, penyewaan ruko dan lainnya. Untuk fasilitas sendiri, United DJ School memiliki studio bertingkat dua. Dengan ruang pelatihan terbagi tiga antara lain, dua ruangan digunakan untuk pelatihan dasar dan satu ruang dimanfaatkan sebagai tempat recording. Serta sarana lain yang turut mendukung.
Memiliki kurang lebih sepuluh siswa dan didukung empat pengajar dengan background DJ pula, Ali pun memasang harga Rp 1,5 juta per bulannya. Metode pembelajaran pun sifatnya menggabungkan antara teori dan praktek. Umumnya, teori yang diberikan bersifat pengetahuan seputar musik seperti istilah elemen musik, penggabungan musik maupun teknik dasar memainkan peralatannya. Sedangkan untuk prakteknya, biasanya siswa sudah mulai bereksperimen menggabungkan dua atau lebih elemen musik menjadi satu paduan sesuai karakternya.
“Untuk lulusannya sendiri pun disalurkan. Tetapi sebelum itu, ada istilah Praktek Kerja Lapangan (PKL), jika ada job manggung untuk saya atau pun pengajar dalam waktu empat jam, maka sisa waktu satu jam diberikan kepada siswa yang memang layak go public. Ini pun untuk melatih mental mereka di hadapan pengunjung, terkadang ada yang jago mix dan punya karisma tetapi belum tentu hal itu berlaku ketika terjun langsung,” paparnya yang menargetkan 60% all about DJ dan 40% mental bagi siswanya.
Pria kelahiran 13 Juni 1971 ini pun mengungkapkan, ketika timbul pertanyaan ‘Apakah profesi DJ menjanjikan?’, ia pun mengilustrasikan- jika dengan biaya Rp 1,5 juta per bulan, biasanya untuk manggung DJ baru bertarif Rp 500 ribu per dua jamnya, maka dapat dihitungkan berapa biaya akan kembali. Keuntungan lain, jika sudah punya ‘nama’ maka tarif pun akan berlipat-lipat ganda bahkan bisa mencapai Rp 10 juta sekali tampil ditambah banyaknya event-event yang memakai jasa DJ untuk memeriahkan acara.  Tampaknya, sekolah maupun profesi DJ patut dilirik.



Asah Kecerdasan Lewat Permainan

Friday, 02 November 2007
Jungle FriendsMahalnya harga alat permainan edukatif yang rata-rata masih impor, mengilhami ASC untuk menciptakan produk dengan harga yang relatif murah. Wiyono

Bayangkan, suatu saat selagi buah hati kecil tengah asyik bermain-main. Mainan adalah sesuatu hal yang tidak terpisahkan dari diri anak. Namun orang tua yang bijak perlu memahami alat bermain bukan sekadar obyek untuk bersenang-senang, melainkan juga untuk melatih kecerdasan otak si kecil. Tidak harus mahal, sebab yang utama dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan otak si kecil menjadi optimal.  Untuk balita, mainan yang paling baik adalah yang dapat merangsang semua panca indera yang dimilikinya. Semakin banyak panca indera yang aktif, maka sel-sel otak anak akan lebih berkembang, baik dari segi jumlah maupun dari segi kualitasnya.
Cukup banyak sarana bermain yang tergolong alat permainan edukatif tersedia di pasaran. Selain menyenangkan, model dan kemasannya pun menarik. Sayang harganya rata-rata terbilang lumayan, lebih-lebih kebanyakan memang merupakan produk impor. Salah satu produsen alat permainan pendidikan lokal yakni PT. Anugrah Selaras Cipta (ASC). Perusahaan yang berlokasi di daerah Cimanggis, Depok, Jawa Barat, ini mulai bergerak di bidang industri mainan pendidikan anak-anak sejak awal 2007.
Adalah Yana Herdiana dan Dwi Ratna Yulia yang mengaku mulai melirik usaha ini sejak November 2006. Mereka awalnya mengenal produk mainan semacam ini dari luar negeri Lalu keduanya memproduksi sendiri dengan sedikit perubahan untuk memperbaiki fungsinya sehingga memperkuat kesan yang timbul sebagai alat pendidikan. 
Singkatnya, selama hampir setahun ASC telah mengembangkan produk yang dinamakan alat permainan pendidikan 3-D (Edu Toys Figure 3-D). Mainan ini dimaksudkan sebagai alat bantu stimulasi untuk membangkitkan daya kreatifitas anak balita yang mampu merangsang daya pikir anak, termasuk di antaranya meningkatkan kemampuan berkonsentrasi dan memecahkan masalah.
“Saya melihat celah pasar yang bagus dari produk luar yang saya lirik tersebut. Dan berdasarkan research market juga ternyata produk mainan pendidikan belum terekspose, maka saya pikir ini merupakan celah pasar yang bagus asal ditambah dengan inovasi produk yang baik,” aku Yana yang sejak awal sudah menyukai seni dan tertarik dengan design grafis.
Saat ini produk yang sudah dikenalkan di tengah masyarakat yaitu Jungle Friend Series dan Fruity Family, terdiri dari karakter tokoh yang diambil dari para penghuni hutan.  Ada lima karakter utama di dalam produk Jungle Friend Series, yaitu Ryo, Macco (macan), Gimbo (gajah), Croco (buaya), dan Kero (kera). Tetapi di samping itu, menurut Yana, setiap tiga bulan akan dibuat seri-seri yang lain.
Mengenai desain produk yang dibuat selanjutnya, ditambahkan, akan dibikin didasarkan dengan melihat keinginan pasar. Bahan dasar yang paling banyak digunakan yaitu resin, di mana secara garis besar, desain yang semula berbentuk gambar dua dimensi dibentuk menjadi 3 D dengan cara dibuatkan moulding atau dicetak sehingga berbentuk patung atau boneka. “Produksi dilakukan secara kontinyu tetapi jumlah produksinya belum banyak karena pasar dan pendukung pemasaran belum tersedia karena terbentur modal,” ungkap bapak dua putera tersebut.
Nilai modal usaha yang diinvestasikan, diungkapkan, kurang lebih Rp 50 juta. Untuk menangani usahanya, Yana dibantu seorang orang desainer, ditambah karyawan di bagian produksi, termasuk capture design  dan orang-orang packing serta pemasaran, total berjumlah 8 orang. Kapasitas produksi dalam sebulan dapat selesai sebanyak 5000 pcs patung. Harga jual per set Rp 40 ribu untuk produk Jungle Friend Series, dan Rp 35 ribu untuk Fruity Family. “Satu set terdiri dari 3 patung dan satu set cat warna,” jelasnya.
Adanya perlengkapan cat air tersebut menjadi menarik, pasalnya selain bentuk mainannya itu sendiri, anak-anak sekaligus belajar tentang warna dan teknik pewarnaan. Jadi di samping bermain, secara tidak langsung mereka mengembangkan kemampuan dasar seperti mengenal rupa, warna, melatih motorik halus, ketekunan dan ketelitian, mengembangkan kemampuan berbahasa, serta merangsang kreatifitas yang sangat berguna sampai pada usia dewasa.
“Banyak kasus, dimana anak-anak yang sering bermain fisik dan terlalu sering menonton teve, di usia sekolahnya kurang bisa berkonsentrasi, kurang telaten, tidak tekun, dan mudah menyerah, karena mereka tidak terbiasa untuk duduk tenang dan tekun,” tukas bapak dua orang anak yang saat ini masih berstatus karyawan sebuah perusahaan minuman dan juga melayani jasa konsultan ini.

Lebih lanjut soal pemasaran produk, hingga sekarang baru meliputi area di Jakarta dan sekitarnya. Strategi awal ditempuh melalui upaya edukasi kepada masyarakat terlebih dahulu, terutama dengan cara sering mengikuti pameran di sekolah-sekolah. Sedangkan konsumen yang dibidik, sesuai dengan tingkat daya belinya yaitu segmentasi pasar menengah dan atas.
Apabila dilihat dari manfaat alat permainan pendidikan tersebut, Yana optimis produknya bakal memiliki prospek bagus namun dibutuhkan pengelolaan pemasaran yang baik. Langkah paling efektif menurutnya melalui kerja sama dengan lembaga pendidikan sehingga perlu pendekatan yang baik dengan sekolah-sekolah.

Sementara itu, mengingat adanya kendala permodalan dan operasional, Yana mengatakan, membuka kerja sama dengan perusahaan lain, misalnya yang ingin membuat icon perusahaan bersama dengan produk permainan pendidikan 3-D tersebut sebagai media promosi. Demikian pula kerja sama dalam hal pemasaran dan juga permodalan. “Untuk bentuk kerja samanya dapat dibicarakan kemudian,” tandasnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar