AAA

Doa kan saudara-saudara kita yang tertimpa musibah saat ini, dan ulurkan tanganmu untuk meringankan beban mereka.

Jumat, 10 Desember 2010

MASYARAKAT


  1. Kehidupan Kolektif
Kehidupan kolektif pada hewan
Selain manusia, makhluk-makhluk disekitar kita yaitu hewan juga memiliki konsep kehidupan kolektif. Salah satu contohnya semut, lebar, serangga, dll. Dalam kolektif-kolektif serangga misalnya: ada individu yang secara khusus menjaga sarang dari serangan makhluk lain, ada pekerja yang khusus mencari makan, dan ada individu yang khusus menghasilkan madu. Dari pengamatan sederhana tersebut terhadap kelompok makhluk-makhluk lain di muka bumi termasuk juga manusia, maka dapat kita simpulkan, ada cirri khas dari kehidupan kolektif yaitu:
a.       Pembagian Kerja Yang Tetap. Masing-masing pembagian atau individu memiliki tanggung jawab yang jelas untuk melaksanakan berbagai fungsi hidupnya. Masing-masing anggota terikat dengan kewajiban yang telah di sepakati bersama.
b.      Kebergantungan, sebagai akibat dari pembagian kerja yang tetap maka masing-masing individu merasakan adanya kebergantungan sebagai mana layaknya system.
c.       Kerja sama, karna sifatnya saling ketergantungan, maka untuk mewujudkan tujuan hidup harus dilaksanakan secara bekerjasama. Jadi kerjasama merupakan sebuah hal yang sifatnya mutlak dalam kehidupan kolektif.
d.      Komunikasi, komunikasi adalah hal yang mutlak dalam menjalin kerjasama. Setiap rangkaian kelompok dikomunikasikan sebagai masing-masing anggota memiliki tanggung jawab yang jelas termasuk apa yang menjadi hak dan kewajibannya.
e.       Diskriminasi, terhadap pelaksanaan hak dan kewajiban dalam kelompok maka kehidupan kolektif harus memunculkan suatu diskriminasi, khususnya antara makhluk pendukung dalam suatu kehidupan kolektif dengan pendukung kehidupan diluar kelompok.

Mengenai azaz-azaz pergaulan antar makhluk dalam kehidupan alami itu, Herbert Spencer menyatakan bahwa azaz egoisme atau azaz “mendahulukan kepentingan diri sendiri diatas kepentingan orang lain” mutlak dilakukan untuk dapat bertahan di alam yang kejam. Sebaliknya ada beberapa ahli filsafat lain, lawan dari azaz egoisme yaitu azaz altruisme atau azaz “hidup berbakti untuk kepentingan orang lain” juga dapat membuat jenis makhluk itu menjadi sedemikian kuatnya sehingga dapat bertahan dalam proses seleksi alam yang kejam.

Kehidupan kolektif makhluk manusia.
Manusia juga menggunakan azaz kehidupan kolektif dalam hidupnya dan dapat juga disamakan dengan kehidupan kolektif hewan. Tapi ada suatu perbedaan azazi yang sangat dasar antara manusia dan hewan, yaitu bahwa system pembagian tugas, kerjasama, dan komunikasi dalam kehidupan manusia bukan bersifat naluri tetapi didasari oleh akal.
Akal manusia mampu untuk membayangkan dirinya serta peristiwa-peristiwa yang mungkin terjadi terhadap dirinya sehingga dengan demikian manusia dapat mengadakan pilihan-pilihan serta seleksi terhadap berbagai alternative dalam tingkah lakunya. Untuk mencapai efektivitas yang optimal dalam mempertahankan hidupnya terhadap kekejaman sekelilingnya.
Kelakuan binatang kolektif (animal behavior) yang berakar dalam naluri dan sudah dimilikinya tanpa belajar, contohnya refleks atau kelakuan membabi buta disebut dengan kelakuan atau behaviour, sedangkan pada manusia, perilaku manusia yang prosesnya tidak terencana dalam gennya tetapi harus dijadikan milik dirinya dengan belajar, disebut tindakan atau tingkah laku (action).

  1. Berbagai Wujud Kolektif
Konsep antropologi, ras secara sederhana dapat dirumuskan sebagai pengelompokan manusia atas dasar kesamaan ciri-ciri tertentu, baik ciri tampak luar maupun cirri organ bagian dalam. Dibumi ini terdapat beberapa ras manusia, tetapi tidak secara otomatis menimbulkan berbagai perilaku yang khas sebab aneka prilaku yang muncul dari masing-masing manusia sedikit banyak juga ditentukan oleh pergaulan dan interaksinya antara manusia lainnya.
Pada manusia wujud nyata dari kolektif-kolektif manusia yaitu Negara-negara nasional, hampir semua manusia didunia tergolong kedalam salah satu Negara nasional.

  1. Unsur-Unsur Masyarakat.
Adanya bermacam-macam wujud kesatuan manusia menyebabkan kita memerlukan beberapa istilah untuk membedakan berbagai bentuk macam kesatuan manusia tersebut. Berikut ini akan dijelaskan istilah sebutan tersebut beserta konsepnya, sarat-sarat pengikatnya, serta cirri-ciri lainnya.
a.       masyarakat
Istilah yang paling lazim dipakai untuk menyebut kesatuan-kesatuan hidup manusia. Istilah ini berasal dari akar kata arab yaitu “syarak” yang berarti ikut serta atau berpartisipasi. Jadi masyarakat adalah sekumpulan orang atau manusia yang bergaul atau berinteraksi.
Suatu kesatuan manusia harus mempunyai pra-sarana melalui apa warga-warganya dapat saling berinteraksi. Pada masyarakat moderen, masyarakat dapat berinteraksi melalui prasarana seperti televisi, radio, jalan raya, jaringan telekomunikasi, terminal kereta api, dll. Adanya prasarana tersebut sangat mendukung sebuah interaksi.
Konsep masyarakat untuk keperluan analisa antropologi, definisi masyarakat secara khusus:
“masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu system adapt-istiadat tertentu yang bersifat terus menerus dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama.”
b.      kategori social
kategori social adalah kesatuan manusia yang terwujud karena adanya suattu cirri atau suatu kompleks cirri-ciri objektif yang dapat dikenakan kepada manusia-manusia itu. Kecenderungan kompleksitas cirri-ciri tersebut diberikan olek kelompok-kelompok diluar struktur social dimana kelompok tersebut berada.
Contoh: didalam suatu Negara ditentukan malalui hukumnya bahwa ada warga yang berumur 18 tahun dan kategori warga dibawah umur18 tahun dengan maksud untuk membedakan antara warga Negara yang mempunyai hak pilih dan yang tidak memiliki hak pilih pada Pemilu.
Kondisi persamaan cirri-ciri objektif tadi yang dikenakan kepada mereka oleh pihak di luar kelompok, biasanya tidak ada unsure lain yang mengikat suatu kategori social.
c.       golongan social
meskipun ada sedikit kemiripan dengan kategori social, dalam golongan social sudah muncul suatu ikatan social. Hal ini lebih disebabkan oleh adanya suatu kesadaran dalam kelompok golongan social sebagai akibat dari respon terhadap cara pandang orang luar terhadap kelompok.
Contohnya: penyebutan “golongan pemuda”, semula yang masuk dalam kelompok pemuda adalah seseorang yang berusia di bawah 18 tahun dan belum menikah. Tetapi dalam perkembangannya anggota kelompok ini merasa perlu mengembangkan dirinya sehingga dengan penyebutan seorang pemuda, termasuk juga didalamnya seseorang yang berusia 18 tahun dan sudah menukah, tetapi sangat peduli dengan kehidupan kepemudaan dan mempunyai untegritas tinggi, mampu meluangkan waktu untuk mengelolah organisasi.
d.      Komunitas
Suatu komunitas mempunyai cirri berupa kesatuan kelompok kehidupan manusia yang mempunyai kesatuan wilayah yang nyata, berinteraksi menurut suatu system adat-istiadat serta terikat oleh suatu rasa identitas komunitas.
e.       kelompok dan perkumpulan
kelompok dan perkumpulan sebagai salah satu kelompok yang memiliki cirri-ciri mendekati masyarakat pada umumnya, dalam masyarakat banyak kelompok dan perkumpulan dengan berbagai aktivitas dan tujuan. Makin besar dan kompleks suatu masyarakat, maka makin banyak pula jumlah kelompok dan perkumpulan didalamnya. Meskipun 2 istilah ini ada kemiripan tetapi sesungguhnya 2 konsepsi ini agak berbeda, yaitu
kelompok
perkumpulan
Primary group
Bersifat kekeluargaan
Kelompok social
Hubungan kekeluargaan
Dasar organisasi adalah adapt
Pemimpin berkarisma dan wibawa

Hubungan berasas perseorangan
Association
Bersifat individualis
Organisasi solidaritas
Hubungan kesepakatan
Dasar organisasi buatan
Pemimpin berdasarkan wewenang dan hukum
Hubungan anonym dan berasas guna

Akhirnya masih perlu disebut walaupun kelompok atau perkumpulan memiliki keempat syarat dasar dari suatu masyarakat yaitu prasarana untuk interaksi, terus menerus, memiliki system norma, dan identitas social, namun hanya kelompok yang dapat dikatakan sebagai masyarakat.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar