AAA

Doa kan saudara-saudara kita yang tertimpa musibah saat ini, dan ulurkan tanganmu untuk meringankan beban mereka.

Jumat, 10 Desember 2010

CARA GILA JADI PENGUSAHA

Berani Gagal 

MODAL  AWAL  PENGUSAHA
Hanya orang yang berani gagal total, akan meraih keberhasilan total.  
PERNYATAAN  John. F. Kennedy ini  saya  yakini  kebenarannya. Itu  bukan 
sekedar retorika, tetapi memang sudah terbukti dalam perjalanan hidup saya. Gagal total 
itulah awal karier bisnis saya. 
Pada  akhir  1981, saya  merasa  tak  puas  dengan  pola  kuliah  yang  membosankan. 
Saya nekad meninggalkan kehidupan kampus. Saat itu saya berpikir, bahwa gagal meraih 
gelar sarjana  bukan  berarti  gagal  dalam  mengejar cita-cita  lain.  Di  tahun  1982, saya 
kemudian  mulai  merintis  bisnis  bimbingan  tes  Primagama,  yang belakangan  berubah 
menjadi Lembaga Bimbingan Belajar Primagama. 
Bisnis tersebut saya jalankan dengan jatuh bangun. Dari awalnya yang sangat sepi 
peminat  -  hanya  2  orang  -  sampai  akhirnya  peminatnya  membludak  hingga  Primagama 
dapat membuka cabang di ratusan kota, dan menjadi lembaga bimbingan belajar terbesar di Indonesia. 
Dalam  kehidupan  sosial,  memang kegagalan  itu  adalah  sebuah  kata  yang  tidak 
begitu  enak  untuk  didengar. Kegagalan  bukan  sesuatu  yang disukai, dan  suatu  kejadian 
yang setiap  orang tidak  menginginkannya. Kita  tidak  bisa  memungkiri  diri  kita, yang 
nyata-nyata  masih  lebih  suka  melihat  orang yang  sukses  dari  pada  melihat  orang yang 
gagal, bahkan tidak menyukai orang yang gagal. 
Maka, bila  Anda  seorang entrepreneur yang menemui  kegagalan  dalam  usaha,
maka  jangan  berharap  orang akan  memuji  Anda.  Jangan  berharap  pula  orang di  sekitar
anda maupun relasi Anda akan memahami mengapa Anda gagal. 
Jangan  berharap  Anda  tidak  disalahkan. Jangan  berharap  juga  semua  sahabat 
masih  tetap  berada  di  sekeliling Anda.  Jangan  berharap  Anda  akan  mendapat  dukungan 
moral dari teman yang lain. Jangan berharap pula ada orang yang akan meminjami uang 
sebagai  bantuan  sementara. Jangan  berharap  bank  akan  memberikan  pinjaman selanjutnya. 
Mengapa saya melukiskan gambaran yang begitu buruk bagi seorang entrepreneur 
yang  gagal?  Begitulah  masyarakat  kita, cenderung memuji  yang  sukses  dan  menang. 
Sebaliknya, menghujat  yang kalah  dan  gagal. Kita  sebaiknya  mengubah  budaya  seperti 
itu, dan memberikan kesempatan kepada setiap orang pada peluang yang kedua. 

Menurut pengalaman saya, apabila orang gagal, maka tidak ada gunanya murung 
dan memikirkan kegagalannya. Tetapi perlu mencari penyebabnya. Dan justru kita harus 
lebih tertantang lagi dengan usaha yang sedang kita jalani yang mengalami kegagalan itu.
Saya  sendiri  lebih  suka  mempergunakan  kegagalan  atau  pengalaman  negatif itu  untuk
menemukan kekuatan-kekuatan baru agar bisa meraih kesuksesan kembali. 
Sudah  tentu, kasus  kegagalan  dalam  bisnis  maupun  dunia  kerja, saat  krisis 
ekonomi kian merebak dan bertambah. Ribuan orang terkena Pemutusan Hubungan Kerja 
(PHK) dan  kehilangan  mata  pencahariannya.  Sungguh  ironis,  seperti  halnya  kita, suka 
atau tidak suka, setiap manusia pasti akan mengalami berbagai masalah, bahkan mungkin penderitaan.  
Bagi seorang entrepreneur, sebaiknya jangan sampai terpuruk dengan kondisi dan 
suasana seperti itu. Kita harus berani menghadapi kegagalan, dan ambil saja hikmahnya 
(kejadian  dibalik  itu). Mungkin  saja  kegagalan  itu  datang untuk  memuliakan  hati  kita,
membersihkan  pikiran  kita  dari  keangkuhan  dan  kepicikan, memperluas  wawasan  kita,
serta untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Tuhan. Untuk mengajarkan kita menjadi 
gagah, tatkala  lemah. Menjadi  berani  ketika  kita  takut. Itu  sebabnya  mengapa  saya  juga 
sepakat  dengan  pendapat  Richard  Gere, aktor terkemuka  Hollywood, yang mengatakan 
bahwa kegagalan itu penting bagi karier siapapun. 
Mengapa  demikian?  Karena  selama  ini  banyak  orang  membuat  kesalahan  sama,
dengan  menganggap  kegagalan  sebagai  musuh  kesuksesan. Justru  sebaliknya, kita 
seharusnya menganggap kegagalan itu dapat mendatangkan hasil. Ingat, kita harus yakin 
akan menemukan kesuksesan di penghujung kegagalan. 
Ada  beberapa  sebab  dari  kegagalan  itu  sendiri. Pertama, kita  ini  sering menilai
kemampuan diri kita terlalu rendah. Kedua, setiap bertindak, kita sering terpengaruh oleh 
mitos yang muncul di masyarakat sekitar kita. Ketiga, biasanya kita terlalu “melankolis” 
dan  suka  memvonis  diri  terlebih  dahulu, bahwa  kita  ini  dilahirkan  dengan  nasib  buruk. 
Keempat, kita cenderung masih memiliki sikap, tidak mau atau tidak mau tahu dari mana 
kita harus memulai kembali suatu usaha. 
Dengan mengetahui sebab kegagalan itu, tentunya akan membuat kita yakin untuk 
bisa  mengatasinya. Bila  kita  mengalami  sembilan  dari  sepuluh  hal  yang kita  lakukan 
menemui  kegagalan, maka  sebaiknya  kia  bekerja  sepuluh  kali  lebih  giat. Dengan 
memiliki  sikap  dan  pemikiran  semacam  itu, maka  akan  tetap  menjadikan  kita  sebagai 
sosok entrepreneur yang selalu optimis akan masa depan. Maka, sebaiknya janganlah kita 
suka  mengukur seorang  entrepreneur  dengan  menghitung berapa  kali  dia  jatuh. Tapi 
ukurlah, berapa kali ia bangkit kembali. 


Berani Mencoba 
Seandainya  kita  berani mencoba  dan  kita  lebih  tekun  dan  ulet, maka  pasti  yang 
namanya kegagalan itu tak akan pernah ada. 
ORANG  bukannya  gagal, tetapi  berhenti  mencoba. Ungkapan  ini  sengaja  saya 
kedepankan. Mengapa? Karena sesungguhnya seseorang untuk dapat meraih kesuksesan 
dalam karier atau bisnisnya, maka orang itu harus punya keberanian mencoba. 
Seorang entrepreneur  -  dalam  situasi  sesulit  apa  pun  -  akan  semakin  tertantang 
untuk tidak berhenti mencoba. Dengan kata lain “berani mencoba” dan orang yang selalu 
berani  mencoba  itulah  yang pada  akhirnya  justru  akan  meraih  kemenangan  atau kesuksesan. 
Dalam  bisnis, tampaknya  kita  perlu  mengedepankan  sikap  seperti  itu, dan  saya 
kira tidak ada salahnya bila kita bersikap positif semacam itu. Berdasar pengalaman, saya 
melihat, bahwa  seorang entrepreneur adalah  orang yang tidak  mudah  percaya  sebelum 
mencobanya. Meskipun  ketika  mencobanya, keyakinan  kita  hampir padam  karena  pasti 
akan  diterpa  ‘angin”. Dan  ternyata, terpaan  ‘angin”  tersebut  justru  dapat  membakar 
semangat  kewirausahaan  (the  spirit  of entrepreneurship) kita. Nalar bisnis  (sense  of
business) kita  semakin  optimal, dan  pada  akhirnya,  sebagai  entrepreneur, kita  semakin 
yakin akan kesuksesan yang akan kita raih. 
Tegasnya, keberhasilan  dalam  bisnis  memang  sangat  ditentukan  oleh  semangat 
kewirausahaan  kita  yang  tinggi. Dengan  demikian  sikap  mencoba  dan  mencoba  terus-
menerus itu akan dilakukannya. Pada akhirnya dengan sikap kita yang “berani mencoba’ 
itu, akan membuat kita tidak akan mudah terpuruk dengan keputus-asaan. Apalagi sampai 
menghancurkan hidup dan bisnis yang telah kita rintis lama. 
Selain  itu, pikiran  kita  juga  harus  tetap  diformulasikan  ke  arah  positif. Bukan 
sebaliknya, suka berpikir negatif, apalagi sampai putus asa. Sikap semacam ini harus kita buang jauh-jauh. 
Jika  pikiran  kita  tidak  melihat  hasil  akhir, bahwa  bisnis  kita  bakal  sukses, maka 
tentu  kita  akan  kehilangan  semangat  kewirausahaan. Sebab, dengan  kita  memiliki
bayangan  kesuksesan  di  masa  depan, tentu  akan  dapat  memotivasi  kita  untuk  bekerja 
lebih giat. Bahkan, menjadikan diri kita bersikap tidak mudah putus asa. 

Dalam  bisnis  modern, kita  tidak  akan  dapat  hidup  tanpa  kita  mempunyai  sikap
keberanian  mencoba. Kita  lihat  saja, masih  banyak  orang yang gagal  dalam  usahanya, 
yang  akhirnya  putus  asa  tanpa  mampu  lagi  berbuat  sesuatu, tanpa  berani  mencoba  lagi.
Sikap semacam itu jelas akan merugikan kita, bukan saja dari aspek materi atau finansial 
saja, tapi juga dari aspek psikologis. Oleh karena itu, walaupun di masa krisis, sebaiknya 
kita  harus  tetap  menjadi  entrepreneur yang  memiliki  semangat  kewirausahaan  yang tinggi. 
Kita  juga  harus  punya  keyakinan, bahwa  sesungguhnya  seseorang itu  tidak  ada 
yang gagal dalam bisnisnya. Mereka  yang gagal  hanyalah karena dia berhenti mencoba,
berhenti berusaha. Seandainya kita berani mencoba, dan kita lebih tekun dan ulet, maka 
pasti  yang namanya  kegagalan  itu  tidak  akan  pernah  ada. Artinya, dengan  kita  mau 
berjerih payah dalam berusaha, tentu kita akan menuai keberhasilan. 
Untuk itu, kita harus berani mencoba. Sebab, tidak satu pun di dunia ini, termasuk 
di dalam dunia entrepreneur yang dapat mengantikan keberanian mencoba. Dengan bakat 
bisnis? Tidak bisa. Sebab orang berbakat  yang tidak berhasil meraih sukses banyak kita 
jumpai. Bagaimana  dengan  kejeniusan  seseorang?  Juga  tidak. Sebab  kejeniusan  yang 
hanya  dipendam  saja, itu  sama  saja  dengan  omong-kosong. Tergantung  pendidikannya 
juga tidak. Sebab di dunia ini sudah penuh dengan pengangguran yang berijazah sarjana. 
Dan  ternyata, hanya  dengan  keberanian  mencoba  dan  mencoba  itulah  yang dapat 
menentukan kesuksesan bisnis kita.


Berani Merantau 
Kita  itu  memang  harus, punya  keberanian  merantau. Sebab, dengan  keberanian
merantau, kita akan lebih bisa percaya diri dan mandiri. 
BANYAK  entrepreneur  yang sukses  karena  ia  merantau. Orang Tegal  sukses
dengan  warteg-nya  di  Jakarta.  Begitu  juga  orang Wonogiri  sukses  menekuni  usaha 
sebagai  penjual  bakso. Orang Wonosari  sukses  sebagai  penjual  bakmi  dan  minuman.
Sementara orang Padang, sukses dengan bisnis masakan Padang-nya. 
Bahkan, orang Cina  pun  banyak  yang sukses  ketika  dia  merantau  keluar negeri. 
Dan, tak  sedikit  pula, orang Jawa  yang sukses  sebagai  transmigran  di  Sumatera. Juga 
banyak orang dari luar Jawa yang sukses bisnisnya ketika merantau di Yogyakarta. Tapi 
banyak juga orang Yogya yang sukses menjadi pengusaha atau merintis kariernya, ketika 
merantau  di  Jakarta. Hal  itu  wajar terjadi, karena  orang-orang tersebut  memang punya 
keberanian merantau. 


Sebenarnya, apa yang diungkapkan di atas hanyalah sekedar contoh, bahwa orang
bisa  sukses  sebagai  entrepreneur, kalau  orang tersebut  memiliki  keberanian  merantau.
Mengapa demikian? 
Menurut saya, keberanian merantau itu perlu kita miliki, karena dengan merantau 
berarti  kita  berani  meninggalkan  lingkungan  keluarga. Sebab, ketika  kita  berada  di 
lingkungan  keluarga, meskipun  kita  sudah  tumbuh  besar atau  dewasa,  namun  tetap 
dianggap sebagai anak kecil. 
Sehingga, hal itu akan membuat kita tergantung dan tidak mandiri. Akibat dari itu 
sangat  jelas, kita  mudah  patah  semangat  atau  putus  asa. Tidak  berani  menghadapi 
tantangan atau risiko bisnis. Kita pun akan mudah tergantung pada orang lain.  
Tapi  beda  halnya. kalau  kita  berani  merantau. Hal  itu  berarti  kita  siap  menjadi
“manusia baru”. Kita harus siap menghadapi lingkungan baru, yang barangkali tak sedikit 
tantangan  yang  harus  dihadapi. Dan, jika  saat  dulu  kita  belum  tahu  apa  sebenarnya 
kelemahan  kita, maka  dengan  merantau  hal  tersebut  bisa  diketahui. sedikit  demi  sedikit
kelemahan tersebut akan kita perbaiki di tanah perantauan. Itulah sebabnya mengapa saya 
yakin, keberanian  merantau  yang membuat  kita  punya  jiwa  kemandirian  itu, akan 
membuat kita lebih percaya diri dalam setiap langkah dalam bisnis maupun karier. 
Jadi  singkatnya, merantau  itu  akan  membuat  kita  berjiwa  “tahan  banting”.
Katakanlah, kalau  usaha  kita  ternyata  jatuh  dan  gagal, kita  tidak  terlalu  malu, toh  itu
terjadi di kota lain. Dengan kata lain, berusaha di kota lain akan mengurangi beban berat,
bila dibandingkan dengan merintis bisnis di kota kita sendiri. 
Selain  itu, keberanian  merantau  ke  daerah  lain, akan  membuat  kita dapat 
menyelesaikan persoalan sendiri. Bahkan, kita akan merasa tabu terhadap bantuan orang
lain. Kita ada rasa untuk tidak mau punya hutang budi pada orang lain.  
Oleh  karena  itulah, saya  berpendapat, bahwa  sesungguhnya  ke-mandirian  itu
adalah  semangat  paling  dasar dari  kita  untuk  bisa  meraih  kesuksesan. Dan, alangkah 
baiknya jika sikap mandiri semacam itu bisa kita bentuk sejak kita masih sekolah. 
Maka, jika kita ingin menjadi entrepreneur yang mampu meraih sukses dan “tahan 
banting”,  salah  satu  kuncinya  adalah  kemandirian  itu  sendiri. Dan, kemandirian  akan 
muncul jika kita berani merantau. Buktikan sendiri.


Berani Sukses 
Seberapa  besar  rejeki  yang  kita  inginkan, itu sama  dengan  seberapa  besar  kita
berani mengambil resiko. 

HANYA segelintir entrepreneur yang dapat mencapai tangga sukses teratas tanpa 
perjuangan dan pengorbanan. Resepnya, antara lain, kalau melakukan kesalahan, mereka 
melupakannya  dan  terus  bekerja, hingga  akhirnya  mencapai  kesuksesan. Menurut  saya,
kita  sebagai  entrepreneur harus  selalu  berani  berpikiran  sukses  dan  berani 
mengembangkan kepercayaan diri. 
Harus  selalu  ingat, bahwa  kita  adalah  orang yang  berpotensi  dalam  bisnis, yang 
setiap  saat  harus  selalu  melipatgandakan  kepercayaan  diri, dan  bisa  menghilangkan 
penyakit  exucitis, penyakit  mencari  alasan. Apakah  itu  alasan  yang berkaitan  dengan 
kesehatan, intelejensia  atau  kecerdasan,  usia, dan  nasib. Kita  pun  juga  harus  berani 
merubah kegagalan menjadi kemenangan atau kesuksesan. 
Untuk  sebuah  kesuksesan, dibutuhkan  keberanian  secara  terus  menerus  untuk
mempelajari  kemunduran  bisnis  kita  menuju  kesuksesan. Dalam  bisnis, sangat  wajar 
kalau  kita  belajar dari  kesuksesan  yang dicapai  pesaing kita. Namun  yang penting,
bagaimana  kita  harus  menghindari  kesalahan-kesalahan  yang pernah  diperbuat  oleh 
pesaing kita itu. Kita juga harus selalu siap menghadapi perubahan-perubahan yang selalu 
ada dalam kehidupan bisnis. 
Upaya-upaya  mencipta  ide-ide  terbaik  yang bersifat  competitive  advantage  saya 
kira menjadi sangat penting, dan kalau perlu kita gabung-gabungkan ide-ide terbaik dari 
para pesaing kita. 
Dengan  kata  lain, sebagai  seorang entrepreneur, kita  pun  harus  senantiasa  setiap 
saat  selalu  membuka  mata  dan  telinga  terhadap  suatu  kesempatan  atau  peluang.  Sebab,
disamping faktor rejeki, maka peluang itu juga menyangkut dengan faktor nasib kita. Bila
kita mampu melakukan hal itu, tidak mustahil kesuksesan akan dapat kita raih. 
Saya  yakin, kita semua  pasti mendambakan kesuksesan. Ingin memperoleh  yang 
sebaik-baiknya  dari  perjalanan  hidupnya. Tidak  ada  orang yang bisa  mendapatkan 
kenikmatan  dari  hidup  yang terus  merangkak-rangkak, kehidupan  yang setengah-
setengah. Sukses  berarti  banyak  hal  yang mengagumkan  dan  positif. Sukses  berarti 
kesejahteraan pribadi: rumah bagus, keamanan di bidang keuangan dan kesempatan maju
yang maksimal, serta  berguna  bagi  masyarakat. Sukses  juga  berarti  memperoleh 
kehormatan, kepemimpinan, dan disegani. 
Dengan  demikin  sukses  berarti  self respect, merasa  terhormat, terus  menerus 
merasa  bahagia, dan  merasakan  kepuasan  dari  kehidupannya. Itu  artinya, kita  berhasil
berbuat lebih banyak yang bermanfaat. Dengan kata lain, sukses berarti menang! Namun 
sayangnya, di  era  globalisasi  seperti  sekarang  ini, tidak  semua  entrepreneur  berani 
menyebutkan, bahwa dirinya telah mencapai kesuksesan. 
Sebaliknya, saya justru berpendapat bahwa kita sebagai entrepreneur harus berani 
menyatakan  dirinya  sukses. Karena  dengan  keberanian  kita  menyatakan  sukses, akan 
membangkitkan  kepercayaan  diri. Dengan  kepercayaan  diri  yang besar  itu, kita  akan
lebih bersemangat untuk meraih kesuksesan. Dan saya tetap  yakin, betapa pun sibuknya 
entrepreneur-entrepreneur yang sukses, ia  akan  tetap  siap  membantu  teman-teman  yang
memerlukannya. Dan, mereka  semakin  percaya  pada  Tuhan  sebagai  suatu  kekuatan besar. 


Sulit Untuk Memulai 
Banyak pertanyaan, mengapa orang itu sulit memulai usaha. Dan, ahirnya banyak 
alasan yang sengaja dicari-cari yang dijadikan sebagai alasan pembenar, bahwa memulai 
usaha  itu  sulit, karena  memulai  usaha  itu  harus  ada  modal, punya  tempat,  dll. Padahal,
menurut saya, jika kita memiliki jiwa wirausaha, maka persoalan semacam itu akan bisa 
kita  atasi. Sehingga, ahirnya  menyadari  bahwa  sesungguhnya  memulai  usaha  itu  tidak 
sesulit seperti yang kita bayangkan. 
Dalam kontek ini, saya  kira memang perlu ada suatu taktik atau rekayasa bahwa 
kita  itu  harus  dalam  kondisi  terpaksa  untuk  memulai  usaha  itu. Misalnya, saat  di 
PHK, atau  kita  sedang  tidak  punya  apa-apa. Atau, disaat  kita  sudah  capai  melamar 
pekerjaan  di  mana-mana, tapi  tetap  tak  ada  satupun  perusahaan  yang memperkerjakan 
kita. Bisa juga, disaat kita sedang drop-out dari sekolah atau tidak kuliah  lagi, sehingga 
saat itu kita punya perasaan bahwa seolah kita tidak punya lagi masa depan. 
Saya kira, justru disaat itulah atau disaat kondisi kita “terhimpit” keadaan seperti 
itu, muncul  ide  bisnis  atau  pikiran  yang brilyan  atau  cemerlang,  yang ahirnya  membuat 
kita  ada  keberanian  untuk  memulai  usaha. Ada  keberanian  kita  untuk  mandiri, dan
bersemangat  lagi  untuk  belajar berwirausaha,  sekalipun  tak  tahu  jenis  usaha  yang  akan kita jalankan. 
Tapi  sebaliknya,  kalau  saja  keadaan  kita  sehari-harinya  terasa  aman-aman  saja, 
maka  sulit  untuk  melakukan  perubahan. Kita  jadi  sulit  untuk  berubah  dari  yang aman 
menjadi yang tidak aman. Maka, salah satu upaya yang bisa kita lakukan ialah, kita harus 
berani  masuk  dalam  bisnis. Kita  harus  masuk  dalam  dunia  yang penuh  ketidakpastian. 
Nah, kalau  kita  terbiasa  dengan  dunia  yang pasti, maka  kita  akan  sulit  untuk  memulai 
usaha. Sehingga,  saya  kira  kita  memang  perlu  ada  perubahan  sikap  mental. 

Contohnya : disaat  kita  memulai  usaha  berarti  kita  telah  mencoba  mengambil  resiko, 
atau dibutuhkan keberanian untuk ambil resiko. 
Tapi, selama  ini, saya  kerap  kali  menjumpai  banyak  orang yang selalu  punya 
pikiran  negatif  dulu, padahal  mereka  belum  memulai  usaha.  Mereka  berfikir resiko. 
Misalnya, kalau  usahanya  tidak  jalan  terus  gimana?  Kalau  usaha  kita  nanti  rugi, lantas 
kita makan apa? Kalau produk yang kita jual tidak laku, terus gimana?  
Jadi, kita  belum  apa-apa  sudah  hanyut  dengan  pikiran-pikiran  yang negatif atau 
pikiran yang tidak-tidak ! Yaitu, tidak laku, takut usahanya macet, takut gagal, dll. Saya 
rasa, jika  kita  sudah  berkeinginan  untuk  berwirausaha, yah  sebaiknya  kita  harus  punya 
pikiran  positif atau  ya...ya...ya. Ya  bisa  maju, ya  bisa  laku, ya  bisa  untung ! Sehingga, 
kita  harus  selalu  optimis. Kita  tentu  saja  butuh  ketekunan, kesabaran, dan  harus  selalu 
memiliki semangat yang prima. 
Oleh karena itulah, dalam setiap kesempatan seminar, road show maupun kuliah
di Sekolah Calon Pengusaha “Entrepreneur University” yang kebetulan saya dirikan, saya 
juga selalu menyarankan mereka untuk setiap saat berani mencoba untuk memulai usaha. 
Kapan saja, dimana saja, dan jenis produk atau jasa apa saja. 
Yakinlah, dengan kita bersikap mental seperti itu, yang namanya memulai usaha 
akan  menjadi  hal  yang  mudah. Tidak  sesulit  yang  kita  bayangkan.  Jadi, saya  kira 
“Memulai  usaha  itu  memang  beresiko, tapi  tidak  memulai  usaha  akan  lebih 
beresiko”. Yah, kita tak punya aset.  

MENJADI ENTERPRENEUR
Mimpi Jadi Entrepreneur 
Jika kita punya tekad besar, tak mustahil hal itu akan terwujud.
Banyak  di  antara  kita, yang ingin  bekerja  pada  perusahaan  orang lain, sebagai 
karyawan. Apakah  itu  karyawan  perusahaan  swasta  maupun  pegawai  negeri. saya  kira 
alasannya, kita tentu sudah tahu semua, yaitu sebagai karyawan  yang dibutuhkan adalah 
keamanan. Setiap bulan ada kepastian terima gaji. Setelah tua dapat pensiun. 
Mengapa  tidak  tertarik  untuk  menjadi  entrepreneur. Saya  kira,  hal  itu  karena  di 
antara  kita  banyak  yang tidak  siap  menghadapi  risiko  atau  lebih  tepat  disebut  suka 
menjauh dari risiko. Sehingga, tidak mengherankan, banyak di antara kita yang kemudian 
takut untuk menjadi entrepreneur. 
Karena  inginnya  aman-aman  saja, saya  kira  itu  sebabnya  mengapa  yang  sudah 
jadi  karyawan  pun  sulit  untuk  berubah  menjadi  entrepreneur. Oleh  karena  itu, saya 
mengajak  bagaimana  kalau  kita  menjadi  entrepreneur. Menurut  saya, jika  kita  punya 
tekad  besar, tak  mustahil  hal  itu  akan  terwujud. Saya  yakin, kita  akan  lebih  bangga,
karena  kita  akhirnya  punya  banyak  karyawan, dan  bisa  menggaji  mereka, cobalah  kita jalani. 
Pemikiran  saya  ini  memang  beda  dengan  saat  kita  sekolah  dulu. Dimana  setelah 
kita  lulus  nanti, mencari  kerja, lalu  bekerja  keras, dan  terus  mendapatkan  uang. Setelah 
uang itu kita raih, uang itu kita tabung. Jadinya, kita tak pernah belajar bagaimana untuk 
berani  mengambil  risiko. Kita  tak  pernah  belajar bagaimana  untuk  berani  membuka 
usaha. Tapi sebaliknya, kita justru lebih diajarkan bagaimana kita bisa mencari pekerjaan 
pada perusahaan orang lain atau istilah lain, menggantungkan nasib kita pada orang lain. 
Akhirnya apa yang terjadi, kalau dia terkena PHK. Akibatnya, mereka pun menganggur. 
Saya  justru  berpendapat,  bahwa  sistem  pendidikan  kita  semestinya  tidak  seperti 
itu. Tapi sebaliknya, sistem pendidikan kita seharusnya mengajarkan bagaimana kita bisa 
mandiri. Oleh karena itulah, menurut saya, di era otonomi sekarang ini tak ada salahnya 
kalau  kita  mau  membangun  mental  dan  emosi  kita. Kita  harus  pula  selalu  punya 
keberanian  mengambil  risiko. Kita  tidak  seharusnya  takut  membuat  kesalahan, dan  kita 
tidak  seharusnya  takut  untuk  gagal. Saya  yakin, dengan  begitu  kita  akan  lebih  punya 
keberanian membuka usaha. 
Bahkan, menurut Robert Kiyosaki, penulis best seller “Rich Dad Poor Dad”, agar 
kita  bisa  menjadi  pengusaha, maka  kita  harus  punya  mimpi. Kita  harus  punya  tekad 
besar, kemauan  untuk  belajar, dan  punya  kemampuan  menggunakan  dengan  benar aset 
kita yang tak lain merupakan pemberian Tuhan. 
Itu  sebabnya, mengapa  banyak  orang di  sekitar  kita  yang tidak  tertarik  untuk 
memiliki  bisnis  sendiri. Jawabannya, dapat  disimpulkan  dalam  satu  kata:  Resiko. Yah,
takut menghadapi risiko. Sehingga, mental dan emosi kita hanya ingin aman-aman saja.  
Oleh  karena  itu, kenapa  kita  tidak  mau  mencoba  menjadi  pengusaha. Kalau  kita 
punya  mimpi  dan  tekad  besal, saya  berkeyakinan, kita  bisa  menjadi  entrepreneur. 
Apalagi, kalau kita mau merubah mental dan emosi kita yang selama ini inginnya selalu
menjadi karyawan. Mental dan emosi untuk selalu aman menerima gaji, seharusnya kita 
ubah menjadi mental dan emosi untuk bisa memberi gaji. Anda berani mencoba?


Mimpi Jadi Investor 
Menjadi investor, berarti uang bekerja untuk kita. 
Menjadi karyawan (employee), bisnis sendiri (self-employed), menjadi pengusaha 
(bussines owner), dan sekaligus sebagai investor, itu memang bisa saja menjadi pekerjaan 
kita. contohnya, dokter.  selain  dia  sudah  tercatat  sebagai  pegawai  negeri  atau  sebagai 
karyawan, dia  pada  saat  praktek  di  rumah  atau  di  tempat  prakteknya, maka  sang dokter 
itu sudah mengelola bisnis sendiri. 
Nah, apabila, dokter itu  punya  klinik  atau  laboratorium, maka  dia  sebagai 
layaknya  pengusaha. Sedangkan, kalau  dia  membeli  aset  dalam  bentuk  real  estate  atau 
rumah, atau membeli saham, atau ikut sirkah, maka dokter tersebut sebagai investor atau 
penanam  modal. Tapi  yang jelas, jika  kita  ingin  mendapatkan  kekayaan  atau  aset  untuk 
masa  depan, saya  kira, lebih  pas  atau  cocok  kalau  kita  bisa  menjadi  pengusaha  atau 
investor. Biasanya, kalau kita sudah menjadi pengusaha, maka tidak sulit untuk menjadi investor.  
Kalau  kita  sebagai  karyawan, maka  kita  bekerja  untuk  orang lain. sementara, 
kalau  kita  mengelola  bisnis  sendiri, maka  kita  bekerja  untuk  diri  kita  sendiri, sehingga 
kalau  kita  libur tentu  tidak  akan  dapat  duit. Karena  apa?  Itu  karena, dengan  mengelola 
bisnis  sendiri  kita  bekerja  belum  menggunakan  sistem. Sehingga, tanpa  kita  terlibat 
langsung dalam bisnis itu, maka bisnis tidak bisa jalan. 
Jika  kita  sebagai  pengusaha, maka  orang  bekerja  untuk  kita. Artinya, kita  sudah 
menggunakan  sistem. Katakanlah, kalau  kita  sebagai  pengusaha  sedang  cuti  atau  libur
satu tahun, bahkan waktunya cukup lama sekalipun, maka bisnis itu tetap jalan. Bahkan, 
tak  menutup  kemungkinan  bisnis  kita  justru  lebih  maju. Dan, saya  kerap  kali  melihat, 
bahwa  mereka  yang sekarang telah  menjadi  pengusaha, bisa  juga  sekaligus  sebagai 
investor. Kalau  kita  sebagai  pengusaha  kecil  yang kesemuanya  dari  yang kecil  sampai 
yang besar kita urus sendiri, maka begitu kita libur, uangnya juga libur.  
Jika  kita  sebagai  karyawan  di  perusahaan  yang memberikan  gaji  besar, dan  kita 
bisa menabung, maka setelah pensiun kita bisa jadi investor. Kalau kita sebagai karyawan 
dengan  penghasilan  pas-pasan, itu  bisa  dengan  memulai  usaha  atau  bisnis  kecil-kecilan 
atau mengelola bisnis sendiri yang masih kecil. Oleh karena itu, saya berpendapat kalau 
sekarang  ini  posisi  kita  sebagai  karyawan, maka  kita  sebaiknya  berusaha  keras, 
bagaimana  bisa  punya  bisnis  sendiri. Setelah  bisnis  itu jalan, maka  bagaimana  kita 
berusaha  mengembangkan  sistem, dimana  bisnis  kita  menjadi  besar. Sampai  akhirnya 
kita bisa menjadi pengusaha. 
Dan, setelah  itu  bukan  hal  yang tak  mungkin, kalau  kemudian  kita  bisa  menjadi 
investor. Menjadi  investor berarti  uang bekerja  untuk  kita. Maka, kalau  kita  mau  kaya,
mestinya  tidak  cukup  kita  menjadi  karyawan  atau  sekedar punya  bisnis  kecil-kecilan, 
sebaiknya kita harus berani menjadi pengusaha atau investor, sekalipun untuk menuju ke 
arah  sana  bukan  hal  yang mudah. Tak  sedikit  tantangan  yang harus  kita  hadapi. Tapi 
yakinlah,  dengan  kita  memiliki  jiwa  entrepreneur, mimpi  jadi  investor akan  menjadi kenyataan.


Gagal Kuliah, Jadilah Entrepreneur 
Mulailah berwirausaha justru di saat kita tidak punya apa-apa. 
Waktu  kuliah  dulu  saya  punya  teman  yang pandai  dan  memiliki  wawasan  dunia 
bisnis  yang lumayan. Ide-ide  rencana  usaha  yang muncul  dari  pemikirannya  sangat 
cemerlang.  Selalu  saja,  ide-ide  itu  adalah  ide  bisnis  yang menarik, prospeltif, dan 
berpeluang besar untuk  digarap. Semua  teman  kuliah  berdecak  kagum  dengan  lontaran ide-idenya. 
Tetapi ide-ide itu tinggal ide saja. Sampai hari ini belum ada satu pun bisnis yang
pernah  dijalankannya. Malahan, terakhir saya  ketemu  dia, berstatus  karyawan  sebuah 
perusahaan  publik  di  Jakarta. Dia  memang terlalu  pandai  untuk  merencanakan  sebuah 
usaha sekaligus terlalu takut untuk memulai. 
Ada  juga  mahasiswa  yang  pernah  datang  pada  saya. Dia  menyatakan  ingin 
berwirasusaha, kemudian  dia  mengatakan, bahwa  dirinya  belum  punya  modal  dan  tidak
begitu pandai. Saya katakan pada dia: “Kebetulan!” Kemudian saya katakan lagi: “Jangan 
takut, karena modal utama untuk memulai bisnis adalah keberanian.” 
Mengapa saya katakan seperti itu? Sebab, biasanya kalau terlalu pinter itu malah
terlalu  berhitung. Orang  yang tahu  banyak  hal, maka  dia  akan  tahu  banyak  risiko  dan 
halangan di depannya. Hal itu menurut saya justru akan menciutkan nyalinya.  
Saya  malah  pernah  bilang pada  seorang sarjana  yang ingin  berwirausaha. Saya 
katakan: “Sekarang, abaikan ijazahmu. Buatlah dirimu seolah-olah tidak  punya apa-apa, 
kecuali semangat dan keinginan yang kuat.” 
Saya  teruskan:  “Mulailah  berwirausaha  justru  pada  saat  Anda  tidak  punya  apa-
apa. Saat  Anda  merasa  tertekan.  Saat  Anda  tidak  dapat  berbuat  apa-apa  dengan  ijazah 
Anda. Saat  Anda  kebingungan  karena  harus  bayar kredit  rumah. Atau  pada  saat  Anda merasa terhina.” 
Memang  nasehat  saya  ini  agak  berbeda  dengan  kebanyakan  orang. Biasanya 
orang menyarankan, kalau  mau  usaha  sebaiknya  mengumpulkan  modal  dulu, kemudian 
cari  tempat  dan  seterusnya. Tetapi, banyak  orang sukses  sebagai  wirausahawan  justru 
dimulai  dari  sebaliknya, hanya  punya  semangat  dan  tidak  punya  apa-apa. Kondisi  yang 
ada  memaksa  mereka  harus  “bermimpi”  tentang masa  depannya, kemudian  tertantang
untuk menggapainya, dan berusaha keras untuk mewujudkannya. 
Anda  tentu  tahu  atau  paling tidak  pernah  mendengar nama  Steve  Jobs.
sebelumnya dia bukan siapa-siapa. Jobs hanyalah anak muda yang gemar bercelana jeans 
belel  dan  berkantong kempes. Belakangan, dia  membuat  Apple  Computer di  garasi 
rumahnya, dan mendirikan perusahaan yang masuk Fortune 500 lebih cepat dari siapapun sepanjang sejarah. 
Jobs adalah contoh orang yang berhasil dalam berwirausaha, justru bukan karena 
kepandaiannya  di  bangku  kuliah. Tapi, karena  ia  memiliki  keberanian  dan  keyakinan 
akan  usaha  yang digelutinya. Dia  mampu  bertindak  merealisasi  gagasannya  dengan 
meninggalkan lingkungan kuliah dan teman-temannya yang suka berhura-hura. 
Tapi, saya tidak menyarankan Anda untuk mengabaikan pendidikan. Hanya saja,
saya ingin mengatakan, bahwa untuk menjadi  wirausahawan terlebih dahulu dibutuhkan 
keberanian  memulai  (bertindak), untuk  memanfaatkan  peluang bisnis  yang ada. Hal 
tersebut  harus  segera  dilakukan, sebelum  orang lain  mendahuluinya. Kepandaian 
akademis  akan  diperlukan  bila  usaha  kita  sudah  berjalan, dan  itu  bisa  kita  dapatkan 
dengan  mengikuti  kuliah  lagi, atau  kita  bisa  membayar orang-orang pandai  sebagai 
karyawan atau konsultan.


Berani Dulu, Baru Trampil 
Saya bisanya hanya nggodhog wedang atau merebus air, tapi akhirnya saya bisa 
juga punya restoran. Itu karena, saya punya keberanian. 
Saat  saya  berbicara  pada  kuliah  kewirausahaan  di  Fakultas  Ekonomi  sebuah 
universitas swasta di Yogyakarta, saya sempat ditanya para mahasiswa: “Apakah seorang 
untuk menjadi pengusaha itu harus memiliki keterampilan dulu ?” 
Saya  rasa, ini  pertanyaan  bagus. Pertanyaan  yang sama  pernah  juga  hinggap  di 
benak  saya, yaitu  saat  saya  baru  memulai  menjadi  pengusaha. Saat  pertanyaan  ini  saya 
balikkan  pada  mereka, teryata  sebagian  besar mahasiswa  mengatakan:  “Perlu  terampil 
dulu, baru berani memulai usaha.” 
Saya  rasa  jawaban  mereka  tidak  bisa  disalahkan. Mereka  cenderung
menggunakan otak rasional. Padahal menurut saya, untuk menjadi pengusaha, kita harus 
berani  dulu  memulai  usaha, baru  setelah  itu  memiliki  keterampilan. Bukan  sebaliknya,
terampil dulu, baru berani memulai usaha. 
Sebab, saya melihat di Indonesia, ini sebenarya banyak sekali pengangguran yang 
tidak  sedikit  memiliki  keterampilan  tertentu. Namun, mereka  tidak  punya  keberanian 
memulai usaha. Akibatnya, keterampilan yang dimiliki apakah itu yang diperolehnya saat 
sekolah  atau  bekerja  sebelumnya, akhirnya  banyak  yang tidak  dimanfaatkan. Itu  ‘kan sayang sekali. 
Seperti yang saya alami sendiri, saat membuka usaha Restoran Padang Sari Raja.
Saya katakan pada mereka, bahwa terus terang saya tidak bisa membuat masakan padang
yang enak. saya penikmat masakan padang. Tapi saya tidak tahu bumbunya apa saja yang 
membuat  masakan  tersebut  enak. Saya  katakan  pada  mereka:  “Saya  bisanya  hanya 
nggodhog wedang atau  merebus  air”. Itu  artinya  apa?  Saya  bisa  punya  usaha  restoran, 
karena saya punya keberanian. 
Begitu juga, saat saya dulu membuka usaha Bimbingan Belajar Primagama. Saya 
belum  pernah  mengajar atau  menjadi  tentor di  tempat  lain. Bahkan  saya  belum  pernah 
menjadi  karyawan  di  perusahaan  orang lain. Namun, saya  memberanikan  diri  untuk 
membuka usaha tersebut. Sebab, saya berpendapat, kalau kita tidak punya keterampilan, 
maka banyak orang lain yang terampil di bidangnya bisa menjadi mitra usaha kita. 
Karena  itu  bagi  saya, yang terpenting adalah  keberanian  dulu  membuka  usaha.
Apapun  jenisnya, apapun  namanya. Sebab, sesungguhnya, untuk  menjadi  pengusaha, 
keterampilan  bukan  segala-galanya. Tetapi  keberanian  memulai  usaha  itulah  yang harus 
kita miliki terlebih dahulu. 
Banyak  contoh, orang yang  sukses  menjadi  manajer, tapi  ternyata  belum  tentu 
sukses sebagai entrepreneur. sebaliknya, seseorang yang di awal memulai usaha dengan 
tidak  memiliki  keterampilan  manajerial, tetapi  ia  memiliki  keberanian  memulai  usaha, 
banyak  yang ternyata berhasil. Orang jenis terakhir ini selain memiliki keberanian, juga 
mau mengembangkan jiwa entrepreneur. Oleh karena itulah saya kira, jiwa entrepreneur, 
harus kita bangun atau kita bentuk sejak awal.


Kaya Ide, Miskin Keberanian 
Kita harus ada keberanian untuk jatuh - bangun. 
Ada  sebuah  pertanyaan  menarik  dari  seorang peserta  “Entrepreneur University” 
angkatan ketiga saat mengikuti kuliah perdana pekan lalu. “Saya begitu banyak sekali ide 
bisnis, tapi  nyatanya  tak  ada  satu  pun  ide  bisnis itu  terealisir. Akibabnya, saya  hanya 
sekadar  kaya  ide, tapi  bisnis  tak  ada?”, tanya  peserta  yang  kebetulan  ibu-rumah  tangga itu. 
Saya  kira,  pertanyaan  atau  kejadian  seperti  itu  tak  hanya  dialami  oleh  ibu  tadi,
tapi juga cukup banyak dialami oleh kita semua, bahwa yang namanya ide bisnis itu ada-
ada  saja. Tapi, yah hanya  sekadar  ide  bisnis, sementara  bisnisnya  nol  atau  tak  terwujud 
sama  sekali. Terkadang  ide  yang  tidak  kita  realisir justru  sudah  dicoba  lebih  dulu  oleh 
orang lain. Dalam  konteks  ini, saya  berpendapat, sebenarnya  untuk  membuat  bisnis,
memang dibutuhkan  ide. Hanya  saja, karena  kita  hanya  kaya  ide,  namun  miskin
keberanian untuk mencobanya, maka  yang berkembang adalah idenya, sedang bisnisnya nol. 
Menurut saya, miskinnya keberanian itu bermula ketika kita mendapat pendidikan 
di sekolah atau di bangku kuliah, yang kita dapat hanyalah teori semata. Jadi, kita terlalu 
banyak berteori, tapi miskin praktek. Akibatnya, ketika kita kaya ide, miskin keberanian.
Artinya, kalau  kita  hanya  menguasai  teori, namun  kalau  tidak  bisa  dipraktekkan, maka 
ide bisnis sehebat apapun akan sulit jadi kenyataan. Yah, seperti halnya, kita belajar setir
mobil. Kalau kita hanya tahu teorinya, tapi tak pernah mencoba atau mempraktekkannya,
tentu tetap tidak bisa setir mobil. 
Jadi, saya  kira, persoalannya  adalah  terletak  pada, bagaimana  kita  yang semula 
hanya  kaya  teori  atau  hanya  sekadar bermain  logika  atau  istilah  lainnya  hanya 
mengandalkan otak kiri, kemudian bisa berpikir atau bertindak dengan otak kanan, Saya 
yakin, jika kita mampu juga menggunakan otak  kanan, maka seperti pada saat kita setir
mobil. Serba otomatis, tidak lagi harus dipikir, semua sudah di bawah sadar kita.  
Kalau  pun, di  saat  kita  praktek  setir mobil  atau  mempraktekkan  teori  kita  itu,
terjadi  berbagai  kendala,  seperti:  di  saat  kita  memasukkan  mobil  ke  garasi, mobil  kita 
sedikit  rusak  karena  nyenggol  pagar misalnya, saya  kira  nggak  masalah. Begitu  juga, 
ketika kita kecil belajar bersepeda, mengalami jatuh beberapa kali, itu sudah biasa. Tapi,
akhirnya, bisa  juga  kita  naik  sepeda. Artinya,  kita  baru  bisa  naik  sepeda  setelah  pernah 
mengalami jatuh beberapa kali. 
Di  bisnis, saya  kira  itu  juga  sama. Kita  harus  ada  keberanian  untuk  jatuh  dan 
bangun. Sebaliknya, kalau tidak ada keberanian seperti itu, bisnis sekecil apapun tak akan 
ada. Dan, kalau  kita  biarkan  ide  bisnis  itu, akibatnya  kita  hanya  kaya  ide  bisnis, tapi
miskin  duitnya. Saya  yakin, engan  keberanian  itulah  akan  mendatangkan  duit. Oleh 
karena  itulah, menurut  hemat  saya, lebih  baik  kita  berani  mencoba  dan  gagal  dari  pada 
gagal mencoba. Anda berani mencoba?


Peluang Bisnis Di Sekitar 
Kita harus ada keberanian untuk jatuh - bangun. 
Ada  sebuah  pertanyaan  menarik  dari  seorang peserta  “Entrepreneur University” 
angkatan ketiga saat mengikuti kuliah perdana pekan lalu. “Saya begitu banyak sekali ide 
bisnis, tapi  nyatanya  tak  ada  satu  pun  ide  bisnis itu  terealisir. Akibabnya, saya  hanya 
sekadar  kaya  ide, tapi  bisnis  tak  ada?”, tanya  peserta  yang  kebetulan  ibu-rumah  tangga itu. 
Sebenarnya di sekitar kita ini banyak sekali macam bisnis yang bisa diraih. Hanya 
saja, kita harus betul-betul memahami kebutuhan masyarakat konsumen. Sebagai contoh,
di  beberapa  kota  di  Amerika  Serikat, sudah  banyak  bisnis  yang dikembangkan  dari  ide-
ide  sederhana  sep€rti  bisnis  membangunkan  orang tidur  (morning  call).  Aneh,  tapi  itu 
nyata. Tentu, pengguna jasa ini harus menjadi member terlebih dahulu dengan membayar 
annual  fee  dalam  jumlah  tertentu. Ada  juga  bisnis  yang di  sini  masih langka  dan  belum 
memasyarakat, yakni bisnis menyewakan pakaian dan perlengkapan bayi. 

Barangkali sekarang ini belum banyak yang kita temukan. Namun, saya yakin jika 
kita  kreatif,  akan  mampu  melihat  peluang bisnis  sebanyak-banyaknya  dan  mampu 
menangkap satu atau dua di antaranya. Pendek kata, peluang bisnis tidak akan pernah ada 
habisnya, selama minat manusia masih menjalankan hajat hidupnya di dunia ini. 
Dimana  saja  sebenarnya  peluang bisnis  disekitar  kita?  Misalnya, Saat  ldul  Fitri 
yang membawa tradisi kirim mengirim parcel dan buah tangan lainnya, walau itu sifatnya 
musiman, namun  saya  melihat  itu  adalah  peluang bisnis. Awalnya  musiman, tetapi  bila
dikembangkan  dan  ditekuni  dapat  dijadikan  bisnis  permanen  bersama  berkembangnya 
kehidupan sosial masyarakat. 
Keterampilan  tertentu  juga  bisa  dijadikan  peluang bisnis. Terampil  dibidang 
elektronika misalnya, bisa membuka bisnis reparasi dan maintenance alat-alat elektronik.
Ahli di bidang komputer bisa membuka bisnis software dan hardware. Terampil di mesin,
bisa memulai bisnis dari servis motor atau mobil. Atau barangkali, punya kreativitas yang 
berciri khas dan unik, kita bisa merintis bisnis kreatif, seperti Kaos Dagadu itu.  
Bahwa  produk  ini  akhirnya  jadi  souvenir khas  yogya,  itu  sebagai  bukti  bahwa 
kreativitas  bisa  jadi  peluang bisnis  yang menarik  untuk  digeluti. Maka, tidak  ada 
salahnya, jika kita juga mencoba mengembangkan kreativitas yang tidak lazim dan unik,
agar bisa dijadikan peluang bisnis. 
Tingkat pendidikan kita  juga bisa menjadi peluang bisnis dengan pengembangan 
profesi. Misal  sarjana  matematika  membuka  kursus  matematika. Sarjana  Sastra  lnggris 
memulai  usaha  dengan  membuka  kursus  bahasa  lnggris. Peluang bisnis  juga  ada 
dilingkungan  keluarga.  Bisa  dimulai  dengan  berbisnis  makanan  atau  katering  dan 
keluarga bisa diajak serta, dan bisnis ini bisa dikelola dari rumah.  
Peluang itu juga terdapat di lingkungan pekerjaan, organisasi dan tetangga. Tentu 
saja, di lingkungan itu kita banyak teman. Maka, jika punya produk tertentu, bisa saja kita 
jual produk tersebut kepada mereka. Bahkan relasi kita pun bisa juga jadi peluang bisnis.
Misalnya, bisa  pinjam  uang pada  relasi  untuk  modal  usaha. Produk  yang dihasilkan, 
selain bisa dijual pada orang lain, juga pada relasi kita itu. Dengan begitu, kita tak hanya 
jeli mencari peluang bisnis, tapi juga mampu menciptakan Pasar. 
Begitu pula, jika punya hobi. Misalnya melukis, bisa jadi pelukis, dan lukisan itu
bisa dijual digaleri. Bagi yang hobi senam aerobik atau body Inngunge, bisa berwirausaha 
buka  studio  senam. Bahkan, peluang bisnis  itu juga  bisa  diraih  saat  kita  melakukan 
perjalanan ke luar kota. lde bisnis bisa muncul setelah kita melihat bisnis di kota lain, dan 
itu bisa dikembangkan di kota sendiri. Hanya saja, agar bisnis yang akan dijalankan tidak 
sia-sia, ada baiknya pastikan dulu pasarnya. 
Tapi, tentu, peluang bisnis  itu  hanya  bisa  diraih, jika  kita  jeli  dan  gigih. Ingat 
pepatah  yang mengatakan:  “Tidak  ada  usaha, tidak  ada  hasil”. Oleh  karena  itu,
sebaiknya  jangan  ragu  di  dalam  setiap  meraih  peluang  bisnis  yang  ada  di  sekitar  kita. 
Soal besar kecilnya peluang jangan jadi masalah. Tangkap dulu peluang yang ada. Dan,
jangan khawatir, peluang bisnis yang berikutnya pasti akan mengikuti. Bisnis itu selalu
mengalir, seperti bola salju, dimulai dari yang kecil lalu menggumpal menjadi besar .


Bukan Melulu Karena Uang 
Kesukses  bisnis  kita  bukan  semata-mata  uang, tapi  visi. Karena  itu, visi  masa 
depan harus kita miliki. 
Saya  kira,  tidak  sedikit  obsesi  entrepreneur dalam  menekuni  bisnisnya,  bukan 
semata karena uang. Banyak dari mereka yang maju karena visi, yaitu ingin menciptakan 
lapangan pekerjaan, dan dari usahanya itu mempunyai dampak sosial bagi kesejahteraan 
masyarakat. Dan, karena visinya seperti itu, maka dengan berhasil menciptakan lapangan 
kerja, atau  usahanya  memiliki  dampak  sosial  yang  positif, maka  hal  itu  pun  sudah 
merupakan sesuatu yang sangat memuaskan dirinya. 
Bahkan,  saya  merasakan, bahwa  dengan  memiliki  visi  itu, maka  kalaupun  usaha 
yang kita jalankan tidak untung, tetapi tetap jalan, maka hal tersebut bukanlah merupakan 
permasalahan yang amat penting. 
Selama  ini  saya  jarang melihat, ada  entrepreneur yang mencapai  puncak 
prestasinya, dengan  cara  lebih  menempatkan  uang sebagai  penggerak  utamanya. Tapi 
saya  berpendapat, keberhasilannya  karena  ia  memang lebih  punya  kemampuan 
menggerakkan  visinya. Sehingga, sosok  entrepreneur seperti  ini, selalu  saja  punya 
keinginan merubah cara kerja dunia. 
Mereka  selalu  kreatif  dan  inovatif, Mereka  menikmati  apa  yang  dilakukannya.
Pendeknya, visi  itulah  yang sebenarnya  menggerakkan  entrepreneur melakukan  sesuatu 
yang akhirnya usahanya meraih kesuksesan. 
Hanya  saja, untuk  bisa  menjadi  entrepreneur yang baik, maka  perlu  memiliki 
kebebasan  untuk  mengejar visi-visi  tersebut. sebaliknya,  jika  tak  dapat  melakukannya, 
maka kita tidak akan pernah memperoleh keuntungan dari hal tersebut. 
Pengusaha yang bisa kita jadikan contoh memiliki visi yang luar biasa adalah Bill 
Gates  pendiri  perusahaan  komputer perangkat  lunak  terbesar di  dunia, Microsoft  Corp,
yang baru-baru ini meraih gelar Doctor (HC) di sebuah universitas di Jepang. Pengusaha 
ini termasuk orang tersukses pada akhir abad ke-20 dalam kategori bisnis. 
Namun, dari  apa  yang saya  pahami, keberhasilannya  itu  karena  ia  memiliki  visi
dan komitmen untuk sukses, dan ternyata Bill Gates sangat menikmatinya. Jelas, bahwa
kesuksesannya  nyata-nyata  bukan  Semata-mata  karena  soal  uang, tetapi  karena  ia 
memiliki  komitmen  yang luar biasa  pada  visinya.  sesuatu  yang mungkin  sulit  kita
bayangkan sebelumnya. 
Dalam konteks ini, saya sependapat dengan Fred Smith, pendiri dan CEO Federal 
Express  Corporation, bahwa  untuk  bisa  menjadi  entrepreneur sukses,  semestinya  kita 
juga  memiliki  kemampuan  melihat  sesuatu  yang tidak  bisa  dilihat  orang  lain. Atau 
minimal melihat sesuatu dalam cara yang berbeda dari orang lain yang melihatnya secara tradisional. 
Jadi  menurut  saya, sebaiknya  kita  sebagai  seorang entrepreneur, memiliki
kemampuan membuat visi masa depan. Disamping juga, kita harus mampu menggunakan 
intuisi, bahkan  kalau  perlu  kita  pun  juga  sering membuat  perubahan  “revolusioner”. 
Dengan  begitu, setidaknya  kita  memiliki  kemampuan  melihat  masa  depan  dengan  lebih 
baik. Kita harus yakin, bahwa tahun-tahun ke depan akan menjadi masa terbaik bagi para 
entrepreneur. Maka tak ada salahnya kalau kita berani meraihnya.


Memulai Bisnis Baru 
Jika kita memang ingin memulai bisnis baru, maka semestinya peluang pasarlah
yang lebih kita jadikan pijakan. 
Saya  percaya, bahwa  setiap  tahun  telah  cukup  banyak  orang yang  masuk  dunia 
bisnis. Mereka  umumnya  melakukan  tiga  cara. Yakni, membeli  bisnis  yang  sudah  ada, 
menjadi partner dalam sebuah franchise, atau dengan memulai bisnis baru. 
Jika  kita  akan  memulai  bisnis  baru, tentu  kita  harus  bisa  menjawab  empat 
pertanyaan ini. Pertama, produk atau layanan  apakah  yang akan kita buat, dan itu untuk
siapa?  Kedua, mengapa  harus  usaha  itu?  Mengapa  calon  customer harus  membeli  dari 
kita?  Apa  yang akan  kita  berikan  jika  ternyata  produk  itu  belum  ada?  Bagaimana 
kompetisinya?  Apa  keuntungan  yang akan  kita  peroleh  dari  kompetisi  itu?  Ketiga,
Apakah  kita  mempunyai  sumbernya?  Apakah  kita  akan  mendapat  order?  Apakah  order
itu datang segera? Keempat, siapa pasar kita? Lantas dari manakah ide untuk mulai bisnis
baru itu berasal? 

Hasil  sebuah  survey  di  AS, yang tertuang  dalam  buku  The  Origins  of
Entrepreneurship, memang disebutkan, bahwa  43%  pengusaha  itu  dapat  ide  dari 
pengalaman  yang  diperoleh  saat  dia  bekerja  di  industri  yang sama.  Mereka  tahu 
operasional  suatu  usaha  dan  umumnya  punya  jaringan  kerjasama. Sebanyak  15% 
pengusaha dapat ide bisnis saat melihat orang lain mencoba suatu usaha. Sebanyak 11% 
pengusaha  dapat  ide  saat  melihat  peluang  pasar  yang tidak  atau  belum  terpenuhi, 7% 
pengusaha  dapat  ide  karena  telah  meneliti  secara  sistematik  kesempatan  berbisnis, dan 
3% pengusaha dapat ide karena hobi atau tertarik akan kegemaran tertentu. Di Indonesia 
sendiri bagaimana? 
Saya  kira  dalam  konteks  ini, kita  tidak  harus  sependapat  dengan  hasil  data
tersebut. Data  43%  pengusaha  itu  dapat  ide  dari  pengalaman  yang  diperoleh  ketika 
bekerja  di  industri  yang  sama, itu  menunjukkan  bahwa  dia  tipe  pengusaha  yang hanya 
berani  memulai  bisnis  baru  karena  hanya  semata  melihat  sisi  terangnya  saja. Menurut 
saya, jika  kita  memang  benar-benar ingin  memulai  bisnis  baru, semestinya  peluang 
pasarlah yang lebih kita jadikan pijakan. 
Untuk  itulah  langkah  yang kita  gunakan  pun  bukannya  inside  out  aproach 
melainkan outside in approach, yaitu pendekatan dari luar ke dalam. Cara ini cenderung
melihat  dahulu, apakah  ada  peluang bisnis  atau  tidak. Sebab, sesungguhnya  ide  dasar
bisnis itu sukses adalah jika kita mampu merespon dan mengkreasikan kebutuhan pasar. 
Cara ini biasanya disebut opportunity recognition. 
Oleh  karena  itulah, saya  berpendapat, sebagai  pengusaha  kita  semestinya  harus 
berani  memulai  bisnis  baru. Hal  itu  memang bukan  hal  mudah, karena  membutuhkan 
analisa dan perencanaan yang serius. 
Namun, percayalah  bahwa  ide  memulai  bisnis  baru  tak  terlalu  sulit. Ide  itu  bisa 
berasal dari mana saja dalam berbagai cara.Yang pasti,sekali ide bisnis itu dikembangkan 
dengan  jelas, maka  bisnis  baru  itu  niscaya  akan  berkembang. Apalagi, setelah  terlebih 
dahulu  kita  adakan  evaluasi  dengan  teliti, baik  itu  berkaitan  dengan  customer dan Kompetisinya.
Memulai Bisnis Tanpa Uang Tunai 
Bisnis  punya  uang  tunai dulu, itu  sudah  lumrah. Tapi  tak  benar, tak  mungkin 
memulai bisnis tanpa uang tunai 
Mungkinkah kita mulai bisnis tanpa memiliki uang tunai? Saya kira itu mungkin 
saja. Mengapa  tidak! Jika  kita  mampu  mengoptimalkan  pemikiran  kita, maka  akan 
banyak jalan yang bisa ditempuh dalam menghadapi masalah permodalan untuk kita bisa 
memulai  bisnis. Cuma  masalah  permodalan  untuk  kita  bisa  memulai  bisnis. Cuma
masalahnya, darimana duit itu berasal? Logikanya, semua bisnis itu membutuhkan modal uang. 
Memang, kebanyakan kita selalu mengeluh ketiadaan modal uang sebagai alasan 
mengapa  kita  “enggan”  berwirausaha. Padahal,  modal  yang  paling vital  sebenarnya 
bukanlah  uang,  tetapi  modal  non-fisik, yakni  berupa  motivasi  dan  keberanian  memulai 
yang mengebu-gebu. 
Saya yakin, jika hal itu sudah bisa dipenuhi, maka mencari modal uang bukanlah 
persoalan yang tidak mungkin, meski secara pribadi kita tidak memiliki uang. Sementara 
kita  telah  tahu, bahwa  peluang bisnis  telah  ada  di  depan  mata. Tentu, alangkah  baiknya 
jika kita tidak menundanya untuk memulai berbisnis. 
Toh  kita  tahu, bahwa  sebenarnya  banyak  sumber permodalan. Seperti  uang
tabungan, uang pesangon, pinjam  di  bank  dan  di  koperasi  atau  dari  lembaga  keuangan 
atau  dari  pihak  lainnya. Namun, jika  kita  ternyata  tidak  memiliki  uang tabungan, uang 
pesangon  atau  katakanlah  belum  ada  keberanian  untuk  meminjam  uang  di  bank  atau 
koperasi, saya  kira  kita  juga  tidak  perlu  risau.  Karena  ada  cara  untuk  memulai  bisnis,
meski kita tidak memiliki uang tunai sekalipun. 
Contohnya, kita bisa menjadi seorang perantara. Misalnya, menjadi perantara jual 
beli  rumah, jual  beli  motor dan  lain-lain. Keuntungan  yang kita  dapat  bisa  dari  komisi
penjualan  atau  cara  lain  atas  kesepakatan  kita  dengan  pemilik  produk. Saya  yakin, kita 
pasti bisa melakukannya. 
Kita bisa juga membuat usaha dengan cara konsumen melakukan pembayaran di 
muka. Dalam hal ini, kita bisa mencari bisnis dimana konsumen yang jadi sasaran bisnis 
kita  itu  mau  membayar  atau  mengeluarkan  uang  dulu  sebelum  proses  bisnis, baik  jasa 
maupun produk, itu terjadi. Misalnya bisa dilakukan pada bisnis jasa, seperti industri jasa 
pendidikan. Dimana, siswa  diwajibkan  membayar dulu  didepan  sebelum  proses 
pendidikan itu terjadi. 
Bisa  juga  misalnya, ada  orang yang memesan  barang  pada  kita, namun  sebelum 
barang yang dipesan  itu  jadi, pihak  konsumen  sudah  memberikan  uang muka  dulu.
Artinya, itu sama saja kita telah diberi modal oleh konsumen. 
Masih  ada  cara  lain  memulai  bisnis  tanpa  kita  memiliki  uang tunai. Contohnya, 
menggunakan sistem bagi hasil. Biasanya, cara bisnis model ini banyak diterapkan pada 
Rumah  Makan  Padang. Dimana  kita  sebagai  orang yang memiliki  keahlian  memasak, 
sementara patner bisnis kita sebagai pemilik modal uang. 

Kita  bekerjasama  dan  keuntungan  yang didapat  pun  dibagi  sesuai  kesepakatan 
bersama. Atau  kita  mungkin  ingin  cara  lain?  Tentu  masih  ada. Contohnya, kita  bisa
melakukannya dengan sistem barter dengan pemasok, dan kita pun jika memiliki keahlian
tertentu, mengapa tidak saja menjadi seorang konsultan. Selain itu, bisa saja denagn cara 
kita  mengambil  dulu  produk  yang akan  diperdagangkan, hanya  untuk  pembayarannya 
bisa  kita  lakukan  setelah  produk  tersebut  terjual  pada  konsumen. Tentu, masih  banyak 
cara lain untuk kita memulai bisnis tanpa uang tunai. 
Oleh karena itu, menurut saya, sebaiknya kita tidak perlu berkecil hati atau takut 
dipandang rendah, bila ternyata kita memang tidak memiliki uang tunai namun berhasrat 
untuk  memulai  bisnis. Saya  yakin, dengan  kita  memiliki uang tunai  namun  berhasrat 
untuk memulai bisnis. Saya yakin, dengan kita memiliki kemauan besar menjadi seorang
wirausahawan  atau  entrepreneur,  maka  setidaknya  akan  selalu  ada  jalan  untuk  memulai 
bisnis. Nyatanya, tidak  sedikit  pengusaha  yang  telah  meraih  keberhasilan  meski  saat 
memulai bisnisnya dulu tanpa memiliki uang tunai. 
Itu  menunjukkan  bahwa  tidak  benar kalau  ada  yang mengatakan  “Tak  mungkin 
kita  memulai  bisnis  tanpa  memiliki  uang  tunai.”  Kuncinya  sebetulnya  terletak  pada 
motivasi  dan  keberanian  kita  memulai  bisnis  yang mengebu-ngebu. Hanya  saja, untuk 
cepat meraih sukses - apalagi tanpa memiliki uang tunai - itu tidak semudah seperti kita 
membalikkan telapak tangan. Semuanya membutuhkan perjuangan.


Mitos Hutang 
Kalau  bisnis  kita  ingin  maju, maka  hutang  untuk  perusahaan  saya  kira  bukan masalah 
Mitos atau anggapan “Hutang itu Buruk”, bisa benar bisa salah. Benar hutang itu 
buruk, apabila  kita  berhutang terlalu  banyak, hanya  untuk  keperluan  konsumtif. Tetapi
apabila  hutang itu  kita  manfaatkan  untuk  melakukan  bisnis  atau  usaha, maka  anggapan 
hutang itu buruk adalah salah. 
Saya sepakat, kalau kalau kita mempunyai hutang pribadi, sebaiknya disesuaikan 
dengan kemampuan. Jangan banyak-banyak. Dan pastikan hutang kita itu ada yang bayar. 
Dalam berbisnis, kalau bisnis kita mulai berkembang, pasti sangat membutuhkan 
tambahan modal kerja maupun investasi. Kalau kita mau maju, maka hutang untuk bisnis
bukan  suatu  masalah, justru  sangat  perlu. Asal  kita  bisa  menggunakannya  secara  tepat, 
hal  itu  justru  akan  membuat  bisnis  kita  lebih  berkembang. Sebagai  contoh  kita 
mempunyai modal Rp. 10 juta. Dari modal itu kita unntung 20%, maka keuntungan yang
kita peroleh Rp. 2 juta. Namun kalau dari Rp. 10 juta kita bisa mendatangkan tambahan 
modal  Rp. 90  juta  dari  hutang, sehinga  modal  menjadi  Rp. 100  juta, maka  keuntungan 
kita  yang 20%  menjadi  Rp. 20  juta. Dari  sini  kita  bisa  membandingkan  berapa 
keuntungan  kita  sebelum  dan  sesudah  mendapatkan  modal  dari  luar. Itu  hitungan sederhana. 
Banyak  cara  untuk  mendapatkan  hutang. Misalnya  melalui  bank. Tetapi  bank 
dalam  memberikan  pinjaman  pasti  melihat  kredibilitas  kita. Kalau  bisnis  kita  baik,
mengapa  kita  takut  hutang. Karena  dengan  tambahnya  modal, maka  bisnis  kita  akan
menjadi  lebih  baik. Sehingga  dengan  berkembangnya  bisnis  kita, dampak  positifnya 
dapat membuka lapangan kerja baru. 
Kredit  modal  kerja  adalah  salah  satu  bentuk  hutang yang bisa  kita  manfaatkan. 
Dan  modal  itu  bisa  kita  pakai  terus,  karena  sistemnya  rekening koran, dimana  kita 
membayar bunga  dari  saldo  pinjaman  yang  kita  pakai. Setiap  jatuh  tempo  kita
diperpanjang. Bahkan  kalau  bisnis  kita  semakin  maju, maka  kita  dapat  mengajukan 
tambahan  kredit  lagi  sesuai  kebutuhan.  Yang  penting  dalam  berhutang  tidak  ada 
sedikitpun pikiran atau niat untuk ngemplang atau tidak membayar. Kita harus punya niat 
baik menepati perjanjian kredit dengan bank. 
Perlu kita ketahui, pihak bank sendiri dalam operasionalnya selalu menggunakan 
fungsi  intermediasi, yakni  penyaluran  dana  dan  menghimpun  dana.  Kedua  fungsi  ini 
harus seimbang. Dalam penyaluran kredit, pihak bank mengharapkan adanya keuntungan 
demi  kelancaran  operasional  dan  peningkatan  kesejahteraan  karyawan, serta 
perkembangan  bank  itu  sendiri. Sedang bagi  kita  yang memanfaatkan  kredit  sehingga 
bisnisnya  berkembang,  maka  dampak  positifnya, kesejahteraan  karyawan  akan 
meningkat. Disinilah  perlunya, pihak  bank  dan  pengusaha  saling kerjasama, saling 
memberikan dukungan. 
Sebenarnya,  seorang yang  mempunyai  citra  buruk  dalam  berhutang, pada 
dasarnya  disebabkan  orang  tersebut  ingkar  janji, tidak  bisa  membayar atau  bahkan 
ngemplang  tidak  mau  membayar. Tetapi  ada  pula  citra  buruk  diciptakan  oleh  mereka 
yang tidak  percaya  untuk  mendapatkan  hutang. Sehingga  sebagai  kompensasi
kejengkelannya, mereka menyebarkan isu, bahwa hutang itu buruk. Anggapan seperti itu 
seharusnya  tidak  perlu  terjadi, karena  apa  yang kita  lakukan  itu  demi  kemajuan  bisnis
kita. Sayangnya, sebagian  besar masyarakat  percaya  tentang hal  itu. Padahal  kalau  kita 
mau  eksis  dan  maju  dalam  berbisnis, salah  satu  jurus  yang kitu  adalah  harus  mau  dan 
mampu memanfaatkan dana dari pihak lain.  

Untuk melakukan itu memang dituntut keberanian dan rasa optimis. Bisa saja kita 
punya rasa optimis justru dengan modal sendiri,  walaupun  ada  yang mengatakan, bisnis 
dengan  modal  sendiri  berarti  kita  egois, tidak  sosial, tidak  mau  bagi-bagi  keuntungan. 
Dan dari aspek spiritual, menurut saya, semakin banyak kita melibatkan dana orang lain 
utnuk  mengembangkan  bisnis, maka  semakin  banyak  pula  orang ikut  mendoakan  bisnis 
kita. Sebaliknya, kalau  bisnis  kita  menggunakan  modal  sendiri, maka  yang mendoakan 
bisnis kita hanya kita sendiri. Berani mencoba?*** 


KECERDASAN EMOSIONAL
Kecerdasan Emosional Entrepreneur 
Mengedepankan kecerdasan emosi kita dalam bisnis itu adalah hal yang mutlak. 
MENGAPA kecerdasan emosional seorang entrepreneur juga saya ungkap dalam 
buku  ini?  Itu  karena, saya  sendiri  ikut  merasakan, bahwa  kesuksesan  bisnis  memang
sangat  berkait  langsung dengan  kecerdasan  emosi  entrepreneur. Maka, tak  ada  salahnya 
kalau  faktor kecerdasan  emosional  itu  perlu  kita  kedepankan. Bahkan, itu  mutlak  kita
miliki. Hal itu, saya pikir juga merupakan langkah tepat di dalam setiap kita ingin meraih 
keberhasilan bisnis, juga dalam kehidupan sehari-hari. 
Orang yang pertama mengenalkan kecerdasan emosional adalah Daniel Goleman.
Dalam  bukunya  “Emotional  Intelligence”  atau  EQ, ia  mengungkapkan,  bahwa  ada  5 
wilayah kecerdasan emosi yaitu: mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri 
sendiri, mengnal  emosi  orang lain, dan  membina  hubungan. Artinya, jika  kita  memang
mampu memahami, dan melaksanakan kelima wilayah utama kecerdasan emosi tersebut,
maka  semua  perjalanan  bisnis  apapun  yang kita  lakukan  akan  lebih  berpeluang berjalan mulus. 
Harus  dipahami, bahwa  ada  perbedaan  antara  kecerdasan  emosional  dengan 
kecerdasan intelektual (IQ). Goleman mengungkapkan, bahwa kecerdasan intelektual itu 
sesungguhnya  merupakan  keturunan  seseorang yang tidak  dapat  dirubah, karena 
pembawaan  sejak  lahir. Sedangkan  kecerdasan  emosional  tidak  demikian. Saya  sendiri 
sependapat  dengan  Goleman, yang akhirnya  menyimpulkan, bahwa  kecerdasan 
emosional  adalah  merupakan  jembatan  antara  apa  yang kita  ketahui, dan  apa  yang kita 
lakukan. Dengan  semakin  tinggi  kecerdasan  emosional, kita  akan  semakin  terampil 
melakukan apa pun yang kita ketahui benar. 
Saya  yakin, entrepreneur yang memiliki  kecerdasan  emosional  optimal, akan 
lebih  berpeluang mencapai  puncak  keberhasilannya. Sosok  semacam  ini  sangat  kita 
perlukan  guna  membangun  masyarakat  entrepreneur Indonesia. Entrepreneur  yang 
memiliki kecerdasan emosional optimal, akan tetap menganggap, bahwa krisis itu adalah sebuah peluang. 
Itulah  sebabnya  mengapa  entrepreneur itu  harus  tetap  jeli  dalam  memanfaatkan 
emosinya. Sebaliknya, jika seseorang secara intelektual cerdas, kerap kali justru bukanlah 
seorang  entrepreneur yang  berhsil  dalam  bisnis  dan  kehidupan  pribadinya.  Dia  harus 
yakin, bahwa  di  dalam  dunia  bisnis  saat  ini  maupun  di  masa  mendatang, kecerdasan 
emosional akan lebih tetap berperan. 
Maka  dengan  memiliki  kecerdasan  emosional  yang optimal, akan  lebih  bisa 
mentransformasikan  situasi  sulit. Bahkan, kita  juga  semakin  peka  akan  adanya  peluang
entrepreneur dalam  situasi  apapun. Kalau  kita  memiliki kecerdasan  emosional  yang 
optimal, saya yakin akan mampu mengatasi berbagai konflik. 
Orang yang  benar-benar mengoptimalkan  EQ,  akan  lebih  jeli  dalam  melihat 
sebuah peluang. Ia akan lebih cekatan dalam bertindak dan lebih punya inisiatif. Atau, ia
pun akan lebih siap dalam melakukan negosiasi bisnis. Lebih mampu melakukan langkah 
sreategi  bisnisnya, memiliki  kepekaan, daya  cipta, dan  komitmen  yang tinggi. Bahkan, 
ada  pakar yang mengungkapkan, bahwa  keberhasilan  seseorang dalam  bidang bisnis,
80% ditentukan oleh kecerdasan emosionalnya. 
Banyak orang yang sukses menjadi entrepreneur meski nilai akademisnya sedang-
sedang saja. Hal  ini  disebabkan, mereka  yang lulus  dengan  nilai  sedang itu  sebagian 
besar memiliki  kecerdasan  emosional  optimal. Lantaran  kecerdasan  emosional  optimal 
yang inilah  yang justru  mendorongnya  untuk  menjadi  entrepreneur  yang kreatif. 

Contohnya  adalah  Bill  Gates, seorang super milyader di  Amerika  Serikat. Dia  adalah 
pemilik  perusahaan  perangkat  lunak  Mirosoft. Saat  ini  Bill  Gates  kuliah  di  Harvard 
Bussines  School, ia  merasa  tidak  mendapat  pengetahuan  apa-apa. Akhirnya  ia  putuskan 
berhenti  kuliah. Namun  meskipun  drop-out  dari  Harvard, Bill  dikenal  sebagai 
penyumbang dana terbesar bagi univeritasnya. 
Hal  yang sama  juga  terjadi  pada  Steven  K. Scout. saat  ini dia  dikenal  sebagai 
milyarder di  Amerika  Serikat. Ketika  masih  di  sekolah, Steven  tidak  pintar. Dia  tidak 
pepuler di  sekolahnya.  Namun, sekarang Steven  berhasil  menjadi  pengusaha  yang 
bergerak di bidang bisnis pemasaran nomor satu di Amerika Serikat. 
Saya  yakin, entrepreneur  itu  memang perlu  kecerdasan  emosional  yang optimal.
Nilai  akademis  saat  studi  tidak  harus  tinggi.  Sulit  bagi  seseorang untuk  menjadi
entrepreneur,meski  memiliki  kecerdasan  intelektual  tinggi, tetapi  kecerdasan 
emosionalnya  rendah. Lantas, apakah  Anda  ingin  memiliki  kecerdasan  emosional  yang 
optimal? Itu bisa dipelajari, dilatih, dan bisa dikembangkan. Karena semuanya itu proses 
yang membutuhkan waktu, ketekunan, dan semangat tinggi. Berani mencoba.


Emosi Dalam Bisnis 
Semakin  berkembang  pesat  bisnis  kita, semakin  tinggi  energi  emosi  yang dibutuhkan. 
Emosi  bisnis  bagi  entrepreneur sangat  penting peranannya.  Apalagi,  dalam 
mengatasi  tantangan  persaingan  bisnis  di  Milenium  ketiga  ini. Karena, emosi  memicu 
kreativitas  dan  inovasi  kita. Emosi  juga  mengaktifkan  nilai-nilai  etika, mendorong atau 
mempercepat penalaran kita dalam berbisnis. Emosi juga berperan di dalam membangun 
kepercayaan dan keakraban. Bahkan tak hanya itu, emosi juga akan memotivasi kita, dan 
membuat kita nyata dan hidup. 
Saya  setuju  dengan  pendapat  Josh  Hammond, bahwa  emosi  adalah  sesuatu  yang
punya  makna  penting bagi  perusahaan. Menurutnya,  emosi  adalah  pengorganisasi  yang 
hebat  dalam  bidang  pikiran  dan  perbuatan.  Dan  meskipun  demikian, emosi  tidak  dapat 
dipisahkan dari penalaran dan rasionalitas. 
Pendapat  hampir serupa  diungkap  Robert  K. Cooper yang  mengatakan,  bahwa 
pada  umumnya, emosi  lebih  jujur daripada  pikiran  atau  nalar. Menurutnya, emosi  juga 
memiliki  kedalaman  dan  kekuatan,  sehingga  dalam  Bahas  Latin, misalnya,  emosi 
dikatakan sebagai motus anima, yang artinya “jiwa yang menggerakkan kita”. 

Mengapa saya melukiskan gambaran begitu, terutama bagi seorang entrepreneur  
yang setiap  harinya  selalu  menghadapi  tantangan  di  dalam  menggeluti  bisnisnya?  Itu 
karena, selama  ini  kita  mungkin  belum  menyadari  atau  menghargai  secara  sebenarnya 
makna penting emosi itu sendiri. 
Kita  lebih  menangkap  pengertian  emosi  dari  makna  konvensional. Sehingga,
emosi  dianggap  sebagai  lambang  kelemahan, bahkan  tak  boleh  ada  dalam  bisnis, harus 
dihindari, dan  membingungkan. Kita  juga  cenderung suka  menghindari  orang yang
emosional, hanya  pikiran  yang diperhatikan  dan  suka  menggunakan  kata-kata  tanpa emosi. 
Tidak  hanya  itu, emosi  juga  dikatakan  mengganggu  penilaian  yang  baik,
mengalihkan  perhatian  kita, tanda  kerentanan, menghalangi  atau  memperlambat 
penalaran, menghalangi mekanisme kontrol, memperlemah sikap-sikap yang sudah baku,
menghambat aliran data  objektif, merumitkan perencanaan manajemen, dan mengurangi otoritas. 
Padahal, emosi  itu  sendiri  menurut  Cooper  adalah  sumber energi. Sementara 
rekannya,  Voltaire  berpendapat  emosi  adalah  “bahan  bakar”. Sehingga, berbisnis  tanpa 
disertai  dengan  emosi, seolah  tanpa  ada  gairah. Saya  sendiri  juga  merasakan  hal  seperti itu. 
Hal  itu  juga  akan  membuat  kita  tak  lagi  memiliki  keberanian  berwirausaha, 
apalagi  bersaing. Padahal, dunia  bisnis  penuh persaingan. Mereka  yang bisa  eksis 
usahanya  adalah  mereka  yang menang dalam  persaingan. Maka  tak  ada  salahnya, kita 
harus pandai-pandai mengerahkan sumber energi ini dalam kehidupan, termasuk di dalam bisnis kita. 
Sebernarnya, telah  banyak  studi  yang mengungkapkan, bahwa  emosi  penting 
sebagai  “energi  pengaktif”  untuk  nilai-nilai  etika  -  misalnya  kepercayaan, integritas, 
empati, keuletan, dan  kredibilitas  -  serta  untuk  modal  sosial. Hal  tersebut  dapat  berupa 
kemampuan  membangun  dan  mempertahankan  hubungan-hubungan  bisnis  yang 
menguntungkan, serta didasarkan pada saling percaya. 
Saya  yakin, wirausahawan  atau  entrepreneur akan  lebih  minat  ke  sesuatu  yang 
punya  makna  penting daripada  makna  konvensional. Karena, seorang wirausahawan 
adalah  seseorang yang memiliki  visi  bisnis, dan  selalu  ingin  mengubahnya  menjadi realita bisnis. 
Dia tahu, bahwa mengubah visi menjadi realita lebih berupa kerja keras dari pada 
nasib  baik. Begitu  juga  halnya  dengan  emosi. Bukan  lambang kelemahan, tapi 
dianggapnya  sebagai  lambang kekuatan  dalam  bisnisnya. Sehingga, meski  persaingan 
bisnis di era millenium ketiga bakal ketat, namum dia akan tetap terus bergerak maju.


Menyelaraskan Otak Berfikir & Otak Emosional 
Tidak  mudah  menyelaraskan  kedua  otak  tersebut. Tapi  kita  harus  berani mencobanya. 
HASIL penelitian  Daniel  Goleman, pengarang  “Emotional  Intelligence”,  tentang 
otak  dan  ilmu  perilaku  yang  dimuat  “The  New  York  Times”,  menarik  untuk  dikaji.
Dikatakannya, sesungguhnya kita memiliki 2 otak, satu yang berpikir (otak berpikir) dan 
satu  yang merasakan  (otak  emosional). Biasanya, otak  berpikir  itu  kita  sebut  otak  kiri,
dan otak emosional kita sebut otak kanan. Maksudnya, apa-apa  yang kita ketahui ada di 
otak berpikir, dan apa-apa  yang kita rasakan ada di otak emosional. Saya kira, dikotomi
emosional dengan berpikir kurang lebih sama denagn istilah “hati” dengan “kepala”. 
Sebenarnya  mana  yang lebih  dulu  terjadi?  menurut  penelitiannya  itu, Goleman 
menyebutkan, bahwa  otak  emosional  ternyata  terjadi  lebih  dulu  sebelum  otak  berpikir.
Lantas, sebenarnya  apa  segi  manfaat  yang  bisa  kita  petik  dari  penelitiannya  itu,
khususnya bagi kita yang bergerak di dunia usaha? 
Saya kira, penelitian ini mengingatkan kita, bahwa di dalam kita menggeluti dunia 
usaha, sebaiknya  bisa  menyelaraskan  antara  otak  berpikir dan  otak  emosional.
Keselarasan  kedua  otak  itu  bagi  kita  sangat  dibutuhkan, terutama  di  dalam  kita 
mengambil keputusan penting dalam bisnis. Keselarasan kedua otak itu bagi kita sangat 
dibutuhkan, terutama  di  dalam  kita  mengambil  keputusan  penting dalam  bisnis.
Keserasan itu akan membuat kita lebih tepat dan bijaksana dalam mengambil keputusan 
bisnis  terlebih  di  saat  persaingan  bisnis  seperti  sekarang ini  yang kerap  kali 
menghadapkan kita kepada rentetan pilihan-pilihan cukup banyak. 
Apalagi, kedua otak tersebut, yang emosional dan  yang berpikir, pada umumnya 
bekerja  dalam  keselarasan  yang erat,  saling  melengkapi, saling terkait  di  dalam  otak.
Dimana, emosi  memberi  masukan  dan  informasi  kepada  proses  berpikir atau  pikiran 
rasional. Sementara  pikiran  rasional  memperbaiki  dan  terkadang memveto  masukan 
emosi  tersebut. Tapi  sebaliknya, jika  saja  keduanya  tak  ada  keselarasan  atau  katakanlah 
otak  emosional-lah  yang  dominan  serta  menguasai  otak  berpikir,  maka  keseimbangan 
kedua otak itu akan goyah. Kita akan cenderung tidak bisa berpikir jernih, suka bertindak 
gegabah  dan  sering melakukan  kesalahan  fatal  dalam  setiap  mengambil  keputusan 
penting dalam  bisnis. Kalau  dominan  otak  berpikir, maka  kita  hanya  sekadar  bersikap 
analitis, dan  mengambil  tindakan  tanpa  mempertimbangkan  perasaan  orang  lain. 
Akibatnya menimbulkan hilangnya kegairahan dan antusiasme bisnis. 
Oleh  karena  itu, kita  jangan  sampai  kehilangan  keselarasan  kedua  otak  tersebut. 
Sebab, seperti  yang juga  ditegaskan  oleh  Dr. damasio, seorang ahli  neurologi, bahwa 
perasaan  atau  emosi  biasanya  sangat  dibutuhkan  untuk  keputusan  rasional. Otak 
emosional  kita  akan  menunjukkan  pada  arah  yang tepat. Maka, adalah  tindakan  yang 
tepat, jika mulai sekarang kita bisa mengatur emosi kita sendiri. 
Dalam konteks ini, saya sependapat dengan pakar manajemen, Dr. Patricia Patton.
Yang mengatakan, bahwa  untuk  mengatur emosi, kita  bisa  melakukan  dengan  cara 
belajar,  yaitu:  Pertama,  belajar  mengidentifikasi  apa  biasanya  yang memicu  emosi  kita 
dan  respon  apa  yang kita  berikan. Kedua, belajar dari  kesalahan, belajar  membedakan 
segala hal di sekitar kita yang dapat memberikan pengaruh pada diri kita. Ketiga, belajar 
selalu  bertanggung  jawab  terhadap  setiap  tindakan  kita. Keempat,  belajar mencari 
kebenaran, belajar memanfaatkan waktu secara maksimal untuk menyelesaikan masalah, 
dan kelima, belajar menggunakan kekuatan sekaligus kerendahan hati. 
Saya  sendiri  juga  merasakan, bahwa  dampak  positif dari  terciptanya  keselarasan 
kedua  otak  itu  juga  akan  memunculkan  tindaka-tindakan  produktif, membuat  kita 
semakin  mantap  dalam  berbisnis, dan  pada  akhirnya  akan  berdampak  positif bagi 
kemajuan bisnis kita. 
Singkatnya, keselarasan  itu  sangat  berkaitan  dengan  pemberdayaan  diri  kita.
Dimana, kita  mesti  bisa  mengontrol  diri, dan  menggunakan  akal  sehat. Dan, tentu  saja, 
keselarasan  itu  tidak  akan  terwujud  kalau  kita  masih  juga  memegang teguh  sifat 
mementingkan  diri  sendiri. Sehingga, seorang wirausahawan  yang bisa  menyelaraskan 
otak  berpikir  dan  otak  emosionalnya, akan  sangat  mungkin  lebih  berhasil  dalam 
bisnisnya. Boleh  jadi  peluang menjadi  wirausahawan  yang kompeten, bernilai, 
profisional, dan  bahagia  akan  lebih  bisa  dicapai.  Meski  tak  mudah  kita  menyelaraskan 
kedua otak tersebut, tapi saya yakin, kita harus berani mencobanya.
Otak Kanan Itu Semakin Penting 
Sudah saatnya kita mengandalkan otak kanan, meski sebelumnya guru kita lebih
banyak mengajarkan otak kiri. 
Otak  kanan  memang makin  menjadi  penting  saat  ini. Bukan  karena  kita  “sirik” 
dengan  otak  kiri, tetapi  karena  betul-betul  dirasakan  kebutuhannya,  khususnya  oleh 
entrepreneur.  Terlebih  lagi, karena  dalam  ilmu  manajemen  yang selama  ini  ada, yang
lebih didasarkan logika  dan rasional, ternyata tidak selamanya mampu mengatasi Setiap persoalan binis. 
Dan, mengapa harus otak kanan ? Oleh karena, di otak kanan itulah sarat dengan 
hal-hal  yang  sifatnya  eksperimental, divergen, bukan  penilaian, metaforilal, subyektif,
non verbal, intuitif, diffuse, holistik, dan reseptif. Sementara kita sadar, bahwa otak kiri 
cenderung bersikap obyektif , presisi, aktif, logikal , verbal, penilaian, linier, konvergen,
dan  numerikal. Padahal, jika  kita  mampu  memberdayakan  otak  kanan, maka  ada 
kecendrungan  akan  mampu  menyelesaikan  setiap  masalah  dalam  bisnis, bila
dibandingkan kalau kita dengan hanya mengandalkan otak kiri. 
Dengan  kita  mampu  memberdayakan  otak  kanan, maka  setiap  memecahkan 
persoalan  dalam  bisnis, kita  pun  akan  dapat  melihat  secara  keseluruhan, dan  kemudian 
memecahkan  berdasarkan  firasat, dugaan, atau  intuisi. Intuisi  ini  adalah  kemampuan 
untuk menerima atau menyadari informasi  yang tidak dapat diterima oleh kelima indera kita. 
Tampaknya  ada  yang khawatir dengan  intuisi, karena  mereka  pikir intuisi  bisa 
menghalangi  pemikiran  rasional. Sebenarnya  intuisi  justru  berdasarkan  pada  pemikiran 
yang rasional  dan  tidak  dapat  berfungsi  tanpanya. Saya  sependapat  dengan  Robert 
Bernstrin, yang mengatakan, bahwa hanya intuisi yang dapat melindungi kita dari orang-
orang paling berbahaya, orang-orang yang tidak  mampu  bekerja  dan  cuma  pinterngomong. 
Lalu?  Seorang entrepreneur yang  mampu  memberdayakan  otak  kanannya,
biasanya juga  cenderung memilih manajemen  yang berstruktur luwes dan spontan, serta 
pada struktur yang sifatnya sama. 
Lain  halnya  bila  dia  lebih  mengandalkan  otak  kirinya. Maka  ia  akan  lebih
cenderung pada  struktur hirarki  dan  pada  kondisi  manajemen  yang berstruktur. 
Mengandalkan otak kiri juga cenderung membuat penyelesaian masalah dipecahkan satu 
per satu berdasarkan logika. 
Kenyataan ini pernah kita alami saat studi dulu. Kita lebih banyak diajarkan atau 
dilatih oleh guru kita untuk selalu berpikir dengan otak kiri. Misalnya kita selalu dituntut 
berpikiran logis, analistik, dan berdasarkan pemikiran edukatif. Padahal hal tersebut ada 
kelemahannya. Kita tak dapat menggunakannya, bila data tak tersedia, data tak lengkap,
atau sukar diperoleh data. 
Maka, jika  kita  termasuk  kategori  otak  kiri  dan  tidak  melakukan  upaya  tertentu 
untuk  memasukkan  beberapa  aktivitas  otak  kanan, maka  akan  menimbulkan 
ketidakseimbangan. Ketidakseimbangan tersebut  dapat mengakibatkan kesehatan mental 
dan fisik yang buruk, seperti mudah stres, mudah putus asa atau patah semangat. 
Tapi  dengan  kita  mampu  memberdayakan  otak  kanan  kita, maka  kita  juga  akan 
lebih  intuitif dalam  menghadapi  setiap  masalah  yang  muncul. Tentu  saja  hal  tersebut 
berbeda  dengan  mereka  yang hanya  mengandalkan  otak  kiri, yang cenderung bersifat 
analistis. Yang jelas,  kedua  belahan  otak  tersebut  sama  pentingnya.  Jika  kita  mampu 
memanfaatkan kedua otak ini, maka kita akan cenderung “seimbang” dalam setiap aspek 
kehidupan, termasuk urusan bisnis. 
Bagaimana  kalau  kenyataannya  dalam  bisnis  kita  sehari-hari, kerap  kali  masih 
diharuskan  untuk  memutuskan, memilih, dan  mengambil  keputusan,  dari  beberapa 
alternatif yang faktor-faktornya  tidak  diketahui?  Tentu  saja, jika  proses  berpikir kita 
masih  dominan  ke  otak  kiri  cenderung bersifat  logis, linier, dan  rasional, tentu  kita
menyodorkan berpuluh-puluh pilihan. 
Sebaliknya jika proses berpikir kita dominan ke otak kanan yang cenderung acak, 
tidak  teratur, dan  intuitif, saya  yakin  kita  dengan  antusias  yang kuat  akan  memilih satu
pilihan dan berhasil. Maka, tak ada salahnya jika kita mau memberdayakan otak kanan. 


Pengusaha “Climber” 
Jika  bisnis  kita  ingin  tetap  eksis, maka  tak  ada  salahnya  kalau  kita  menjadi 
pengusaha “Climber” 
Sungguh  saya  sempat  tertegun, ketika  membaca  pidato  pengukuhan  Prof  Dr. dr.
Hari  K. Lasmono, MS,  Guru  Besar Ilmu  psikologi  Fakultas  Psikologi  Universitas 
Surabaya  beberapa  waktu  lalu. Ia  mengungkapkan, bahwa  untuk  kita  bisa  sukses  dalam 
bisnis  maupun  karir, tak  cukup  hanya  mengandalkan  IQ  (Intelligence  Quotient) dan  EQ 
(Emotional Quotient). Tapi juga AQ (Adversity Quotient). 
Mengapa AQ penting? Menurut pakar SDM, Paul G. Stoltz, phD, AQ merupakan 
perpaduan antara  IQ dan EQ. Jadi AQ bisa saja  kita artikan sebagai kehandalan mental.
Sementara, Daniel Goleman pernah mengatakan, banyak pengusaha ber-IQ tinggi, namun 
usahanya cepat jatuh. Sedang, yang ber-IQ biasa-biasa saja justru berkembang. Lantas, ia 
mengenalkan  kecerdasan  Emosi  (EQ). Dimana  EQ  merefleksikan  kemampuan  kita 
berempati  pada  orang lain, mengontrol  kemauan  hati, dan  kesadaran  diri. Sehingga 
Goleman yakin EQ lebih penting dari IQ. 
Tapi kenyataannya, seperti IQ, tak semua orang mengambil keuntungan dari EQ. 
Karena, kurangnya  ukuran  valid  dan  metode  definitif untuk  mempelajarinya, membuat 
EQ  sukar dipahami. Bahkan, beberapa  orang ber-IQ  tinggi  dan  punya  semua  aspek  EQ, 
ternyata akan jatuh pula. Itu sebabnya mengapa Stoltz, berani mengatakan, bahwa IQ dan 
EQ  tidak  menentukan  kesuksesan  seseorang, meskipun  keduanya  memainkan 
peranannya. Lantas, mengapa  pengusaha  bisa  bertahan, meski  di  saat  krisis  ekonomi
sekalipun, sedang pengusaha lain yang rata-rata pintar menyerah akibat badai krisis? AQ 
itulah kuncinya. 
Untuk  memahami  AQ, kita  menggambarkannya  dengan  pendaki  gunung.  Ada  3 
kategori, yang  pertama  adalah  “Climber”. Tipe  orang ini, akan  terus  mendaki  sampai 
puncak tanpa mempertimbangkan lebih jauh keuntungan atau kerugian,
ketidakberuntungan  atau  keberuntungan. Tipe  pengusaha  “Climber”  ini, juga  cenderung
tak pernah mempermasalahkan usia, gender, ras, ketidakmampuan fisik atau mental, atau 
berbagai rintangan lain untuk mencapai puncak kesuksesannya. 
Tipe yang kedua adalah pengusaha “Camper”. Dia mengkompromikan hidupnya. 
Dia  bekerja  keras  tapi  hanya  sebatas  yang  mampu  dia  lakukan. Sebenarnya  kesuksesan
bisa  diraih  lebih  baik  lagi, tapi  dia  cenderung untuk  tidak  mau  mencapainya. Dia  sudah 
cukup puas dengan apa yang sudah diraihnYa. 
Terakhir tipe  ketiga, pengusaha  “Quitter”  juga  mengkompromikan  hidupnya, 
namun  tidak  berusaha  sekeras  “Camper”. Dia  lebih  memilih  bisnis  yang  mudah, tanpa 
gejolak.  Tapi,  jika  dalam  bisnis  menghadapi  kesukaran,  ia  cenderung  lebih  mudah 
terkena  depresi, atau  frustasi. Pendeknya, disadari  atau  tidak, pengusaha  “Quitter”  lebih 
memilih  melarikan  diri  dari  pendakiannya. Padahal, sebetulnya  dia  punya  potensi  untuk 
mencapai sukses. 
Dengan melihat 3 tipe pengusaha di atas, saya berpendapat bahwa jika kita ingin 
eksis  sebagai  pengusaha, maka  sebaiknya  kita  harus  berusaha  menjadi  pengusaha 
“Climber”, dan  bukan  “Camper”  maupun  “Quitter”  . Sebab, hanya  tipe  “Climber”  yang
benar-benar bisa  mengisi  hidupnya. sebab, mereka  mempunyai  perasaan  yang kuat 
mencapai  tujuan  dan  semangat  untuk  melakukannya. Baginya, tak  ada  kata  menyerah 
dalam  kamusnya. Dia  punya  kebijaksanaan  dan  kedewasaan  untuk  memahami  kapan 
harus maju dan kapan harus mundur. 
Namun  demikian, “Climber”  itu  juga  manusia. Kadang mereka  punya  keraguan, 
kesepian dan pertanyaan dalam perjuangannya. Karena itu, tak mengherankan terkadang 
pengusaha  tipe  “Climber”  bergabung juga  dengan  “camper”  untuk  merenung  kembali, 
mengisi  ulang energi  untuk  berjuang lagi. sedangkan  pengusaha  tipe  “Quitter”  memilih
untuk tidak melakukan apa-apa. Nah, bagaimana Anda sendiri, mau pilih tipe yang mana.
“Ngundung”, mengapa tidak? 
Dalam setiap kita menggeluti bisnis apapun, kecerdasan spiritual juga perlu kita
miliki, selain  IQ, EQ, dan  AQ. Sebab, kecerdasan  spiritual akan  membuat  kita  berani
“ngudung”. 
Rupanya  kita  tak  cukup  hanya  berbekal  kecerdasan  intelektual  (IQ) dan 
kecerdasan emosional (EQ), untuk bisa meraih sukses, baik dalam bisnis maupun karier.
Kita  juga  harus  punya  kecerdasan  adversity (AQ). Sebab, hal  itu  akan  memungkinkan 
kita  lebih  mampu  mengatasi  tantangan  dalam  bisnis, sekalipun  itu  perlu  banyak  energi,
dedikasi dan pengorbanan. 
Senafas dengan perkembangan bisnis ini sendiri, ternyata belakangan ini bergulir
pendapat  yang menyatakan, kesuksesan  karier  maupun  bisnis  itu, masih  perlu  lagi 
dilengkapi  dengan  kecerdasan  spiritual  atau  spiritual  intelligence  (SQ). Mengapa 
demikian? Karena, di dalam kecerdasan spiritual inilah terkandung banyak aspek, seperti 
aspek keberanian, optimisme, kreatifitas, fleksibel, dan visioner.  
Menurut  saya, seharusnya  memang demikian. Dengan  kita  juga  memiliki 
kecerdasan  spiritual, maka  kita  cenderung lebih  berani  “ngudung”  ( Bahasa  Jawa:
berjalan dengan keteguhan hati) dalam setiap menggeluti bisnis apapun. Kita juga tidak 
mudah  ragu  pada  setiap  keputusan  bisnis  yang kita  buat. Bahkan, saya  berani 
mengatakan, bahwa  jika  kita  ingin  sebagai  pengusaha  sekaligus  pemimpin, maka
seharusnya memang memiliki kecerdasan spiritual yang baik. 
Berani  “ngudung”, yang  saya  maksudkan  di  atas, bisa  mengandung pengertian 
bahwa beraninya itu karena kita punya kecerdasan spiritual. Sementara, “ngudung”-nya,
karena  kita  memiliki  kecerdasan  adversity (AQ). Dengan  begitu, kita  akan  lebih  berani 
jalan terus. Tidak mudah terombang-ambing oleh isu-isu negatif di kanan-kiri. Sehingga, 
saya  berani  menyimpulkan, berani  “ngudung”  itu  merupakan  gabungan  antara  aspek 
kecerdasan adversity dan kecerdasan spiritual. 
Saya percaya, hal itu akan membuat kita semakin bersemangat di dalam berbisnis.
Tidak ada kata yang lebih tepat, kecuali: “Saya akan melangkah terus ke depan.” Dengan 
kita  berani  “ngudung”  akan  membuat  kita  tidak  mudah  menyerah. Karena  kita  telah 
percaya  atas  diri  kita  sendiri  dan  tidak  terlalu  ambil  pusing pendapat  orang  lain  pada 
bisnis yang kita pilih dan jalani. 
Dengan  berani  “ngudung”  akan  membuat  kita  kreatif, dan  tidak  takut  gagal.
Bahkan, kita rela mencoba lagi dan pantang putus asa. Pokoknya, “ngudung “ jalan terus. 
Dengan  begitu, kita  akan  memiliki  daya  lentur.  Bahkan, terkadang kita  tidak  melihat
kegagalan  sebagai  kegagalan, tapi  hanya  kita  anggap  sekadar rintangan  kecil  yang  tak 
mengenakkan kita di dalam meraih sukses bisnis. 
Untuk  mewujudkan  keberanian  “ngudung “  itu, kita  sebaiknya  mau  melakukan 
pendekatan  spritual. Saya  yakin, di  sinilah  ada  suara  hati  yang  merupakan  kebenaran 
sejati. Sehingga,  kalau  hati  nurani  kita  benar-benar ingin  melakukan  sesuatu, maka  kita 
pun  harus  yakin, bahwa  bisnis  yang akan  dan  sedang kita  jalankan  saat  ini, bukanlah
untuk menipu. Bisnis yang kita jalankan, sebenarnya juga bukanlah hanya sekadar untuk 
kepentingan diri sendiri, tapi juga punya makna sosial karena pekerjaan bisnis kita begitu 
banyak menyejahterakan orang lain.


Entrepreneur Kreatif 
Kalau, anda berani tampil beda, itu berarti Anda memiliki jiwa entrepreneur. 
Dunia entrepreneur merupakan dunia tersendiri yang unik. Itu sebabnya, mengapa 
entrepreneur atau  wirausahawan  dituntut  selalu  kreatif setiap  waktu.Dengan 
kreativitasnya, tidak  mustahil  akan  terbukti  bahwa  ia  betul-betul  memiliki  citra 
kemandirian  yang memukau banyak orang karena mengaguminya, dan selanjutnya  akan mengikutinya. 
Memang, kita  akui  bahwa  menjadi  entrepreneur kreatif di  saat  krisis  ekonomi
merupakan suatu tantangan yang sangat berat. Digambarkan, seseorang yang akan terjun 
menjadi entrepreneur kreatif, ia harus bekerja 24 jam sehari, dan 7 hari dalam seminggu. 
Hal semacam itu masih harus ia lakukan paling sedikit untuk kurun waktu kurang lebih 2 
tahun pertama Berjuang tanpa henti dengan berbagai tekanan fisik maupun psikis. 
Apalagi  dalam  melakukan  bisnis  modern, tidak  mungkin  dapat  hidup  dan 
berkembang tanpa  kemampuan  menciptakan  sesuatu  yang baru  pada  setiap  harinya.
walaupun  itu  hanya  merupakan  gabungan  dari  berbagai  unsur yang telah  ada, ke  dalam 
bentuk  baru  yang berbeda. Dari  kreativitas  akan  muncul  barang, jasa  atau  ide  baru
sebagai inovasi baru, untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang. Dan dari 
kreativitas  itu  pula  akan  muncul  cara-cara  baru  -  mekanisme  kerja  atau  operasi  kerja  - 
untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. 
Pada dasarnya, kita semua kreatif. Tentu saja, dengan kualitas dan kuantitas yang 
berbeda-beda. Saya  sependapat  dengan  Raudsepp, seorang peneliti  dari  Princeton 
Research Inc, yang mengatakan, bahwa kemampuan kreatif itu terdistribusi hampir secara 
universal kepada seluruh umat di muka bumi ini. Kreativitas bak sebuah sumber mata air,
yang tentunya jangan sampai kita biarkan sumber mata air itu mengering. Kita harus  tetap 
belajar dan menggali terus kreativitas tersebut. 
Oleh karena itu, jika Anda termasuk dalam golongan orang yang selalu ingin tahu,
kemudian dapat melihat suatu peristiwa dan pengalaman untuk dijadikan sebuah peluang, 
dimana  orang  lain  tidak  melihatnya,  kemudian  memiliki  keberanian  berpikir kreatif  dan 
inovatif, maka  saya  rasa  lebih  baik  bersiaplah  anda  untuk  menjadi  entrepreneur. Itu 
sebabnya, mengapa  ada  yang menyebut  wirausahawan  itu  sama  dengan  orang aneh.
Namun, kita jangan berprasangka buruk dengan  perkataan tersebut. Sebab, di balik kata 
itu tersembunyi kekuatan yang dimiliki seorang entrepreneur dari kebanyakan orang. 
Banyak  contoh  yang dapat  memberikan  gambaran  kepada  kita, bahwa  tidak  ada 
sesuatu yang tidak mungkin dilakukan wirausahawan. Keluarkan semua ide atau gagasan 
Anda. Anda  tidak  perlu  takut  diremehkan  atau  dihina  orang lain. “Ide  gila”  yang Anda 
sampaikan itu boleh jadi suatu waktu akan mengundang kekaguman banyak orang. Orang 
lain  akan  gigitjari  ketika  melihat  keberhasilan  Anda, dan  mungkin  saja  mereka  akan 
berguman: “Mengapa hal seperti itu dulunya tidak terpikirkan oleh saya?” 
Kalau  Anda  berani  tampil  beda. Itu  berarti, Anda  akan  memiliki  jiwa 
entrepreneur. Saya  setuju  pendapat  yang mengatakan, bahwa  keberhasilan  entrepreneur
itu  diibaratkan  seperti  kesabaran  dan  ketenangan  seorang  aktor  akrobatik  dalam  meniti 
tambang tipis  hingga  sampai  ke  tujuan, ia  bukannya  menghabiskan  waktu  dengan 
perasaan  khawatir, tapi  konsentrasinya  tertuju  pada  tujuannya. Dan, yang lebih  penting 
bagi  kita  adalah  sebaiknya  kita  jangan  malu  akan  kesalahan  yang kita  buat. Seorang 
entrepreneur  memang tidak  menyukai  kesalahan, tapi  ia  tetap  akan  menerimanya 
sepanjang hal itu dapat memberikan pelajaran berharga. 
Ia  harus  mampu  meloloskan  diri  dari  situasi-situasi  yang hampir  tidak  mungkin 
diatasi. Sebab  dalam  era  global  sekarang ini, kegiatan  usaha  yang kita  jalankan  hampir
90% justru tidak sesuai rencana. Karena itu, kita harus luwes dengan rencana yang telah 
kita  buat. Bisa  berpindah  dari  satu  rencana  ke  rencana  lainnya. Dan, saya  berpendapat,
bahwa  seorang entrepreneur juga  tidak  boleh  gampang berputus  asa. Ia  harus  yakin 
dengan kreativitasnya, pasti ada jalan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.


Motivasi di Tengah Kekacauan 
Suka atau tidak suka, kita harus berani, berakrab-akrab dengan kekacauan. 
Perubahan  serba  cepat  dan  kacau  sungguh  kita  rasakan  sekarang ini, dan  kita
melihatnya, bahwa perubahan tersebut hampir terjadi dari segala aspek. Sebagai manajer 
maupun  entrepreneur, kita  akhirnya  tidak  hanya  sekedar  pandai  menendang  bola  saja,
yang bisa diposisikan seperti apa pun sekehendak kita dengan begitu mudah. Namun kita 
juga  harus  bisa  seperti  menendang kucing. Sedang kucing itu  dapat  meloncat  dan  lari. 
Sehingga, tidak mengherankan kalau lantas ilmu manajemen yang masih aktual pun tidak 
mampu lagi mengatasi kekacauan tersebut. 
Kekacauan itu berarti banyaknya ketidakpastian. Hari ini tidak ada hubungannya 
dengan  hari  kemarin. Hari  depan  menjadi  tidak  pasti, tidak  bisa  diramalkan. Kondisi 
semacam  ini  menjadikan  kita  hidup  dalam  era  lonjakan  kurva,  tidak  linear dan  tidak 
karuan. Sehingga, pengetahuan  dan  juga  pengalaman  akhirnya  tidak  dapat  menjamin 
keberhasilan bisnis kita di masa depan. 
Kalau sudah begitu keadaannya, saya berani mengatakan, bahwa kita tidak perlu
lagi menghafal ilmu-ilmu manajemen yang hanya sekadar teoritis. Kita justru harus lebih 
kreatif bertanya. Karena bertanya itu tidak akan pernah usang. Sementara, yang namanya 
sebuah jawaban pengetahuan itu mudah ketinggalan zaman. 
Begitu  juga  pengalaman.  Keadaan  yang serba  cepat  dan  kacau  itu  akhirnya 
membuat  pengalaman  itu  bukan  lagi  menjadi  guru  yang  baik. Padahal,  selama  ini  kita 
lebih percaya pada mitos, bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Oleh karena itu, 
dalam kondisi semacam ini, bagaimana kalau kita bebas saja dari ilmu pengetahuan dan 
pengalaman. Mungkin  saja, ide  saya  ini  anda  anggap  aneh. Tapi  itulah  yang namanya 
entrepreneur identik dengan orang aneh. 
Tom  Peter, mengatakan  bahwa  perubahan  serba  cepat  dan  kacau  itu  pertanda 
zaman edan. Sehingga di era global sekarang ini, suka atau tidak suka, kita harus berani 
berakrab-akraban dengan kekacauan. Apalagi kita juga sedang menuju millenium ketiga. 
Sebab tidak mustahil, pendekatan  yang tidak sistematis atau tidak akademis, justru yang 
nantinya bisa menyelesaikan kekacauan. 
Contohnya, Lembah Silikon di Amerika Serikat. Dahulu kawasan itu berkembang
pesat  dan  sangat  membanggakan  banyak  orang.  Hal  itu  karena, Lembah  Silikon telah
menjadi  besi  sembrani  yang menarik  begitu  banyak  perusahaan  yang  berkecimpung
dalam  bisnis  komputer dan  elektronik. Tapi  sekarang yang terjadi  adalah  sebaliknya. 
Banyak  perusahaan  di  sana  menjadi  bangkrut. Lembah  ini  berubah  menjadi  kuburan 
massal perusahaan besar. Kejadian tragis ini ternyata juga dialami oleh negara kita. Dulu, 
banyak  pengusaha  dan  bank  yang sangat  berjaya, kini  pada  kelimpungan  dan  akhirnya bangkrut. 

Sementara  itu, dengan  semakin  banyak  belajar  ilmu  manajemen, kerap  kali 
membuat  kita  justru  semakin  bertindak  hati-hati  dalam  segala  urusan  bisnis. Kita  tidak 
punya keberanian untuk bertindak. Dalam pikiran kita  yang ada hanyalah  ketakutan dan 
ketakutan. Kalau sudah begitu, mana mungkin kita punya semangat kerja yang tinggi dan kompetitif. 
Pengalaman  bisnis  pun  juga  semakin  sulit  diterapkan, bahkan  kerap  kali  tidak
jalan lagi. Perubahan serba cepat dan kacau itu membuat kita sadar, bahwa saat sekarang 
ini bukan lagi kita hanya bermodalkan pengetahuan yang sarat dengan teori semata. 
Tetapi, saat  ini  justru  dibutuhkan  orang yang buta  teori  atau  jauh  dari  mental 
sekolahan. Nyatanya, orang yang jauh  dari  mental  sekolahan  itulah  yang justru  bisa
meraih sukses. Hal itu karena, mereka tidak hanya sematamata mengandalkan pada teori,
namun mereka lebih mementingkan ketangguhan, keuletan dan tahan banting. Sehingga, 
semua  perubahan  yang serba  kacau  dan  cepat  justru  dianggapnya  sebagai  tantangan. 
Tantangan itulah yang dapat membangkitkan motivasinya.


Optimisme Entrepreneur 
Sesungguhnya  keberanian  seorang  entrepreneur  dalam  menggeluti  bisnisnya,
terletak pada optimismenya. 
Dalam  situasi  ekonomi  sesulit  apapun, saya  rasa  seorang entrepreneur atau 
wirausahawan  harus  tetap  optimis  dalam  menggeluti  bisnisnya. Sebab,  sesungguhnya 
keberanian  seorang  entrepreneur  dalam  menggeluti  bisnisnya  adalah  terletak  pada 
optimisme. Dengan  tetap  optimis, kita  akan  tetap  termotivasi  dan  cemerlang dalam 
memanfaatkan setiap peluang bisnis. 
Bukan  sebaliknya, pesimis. Sebab, sikap  pesimis  itu  akan  membuat  semangat 
berwirausaha  kita  menjadi  runtuh. Hal  semacam  itu  jelas  kalau  bakal  merugikan  kita. 
Saya  rasa  wajar  manakala  dalam  mengeluti  bisnis  kita, ada  saja  masalah  yang timbul 
pada setiap harinya. Tinggal bagaimana sikap kita masing-masing. 
Bila kita menghadapinya tidak dengan pikiran  yang segar, dengan tidak optimis,
maka tentu saja kita akan dihadapkan pada situasi pikiran yang rumit, terlalu tegang dan 
akhirnya  bisa  stres  sendiri. Bahkan, ide  atau  gagasan  kita  yang cemerlang tiba-tiba 
berhenti, dan  pada  akhirnya  merembet  pada  sikap  kurang percaya  diri. Sehingga  dalam 
setiap kita melakukan negoisasi bisnis akan selalu grogi. 
Tetapi  coba  bandingkan, bila  kita  tetap  punya  optimisme  yang tinggi. meski 
diterpa  “angin  keras”  apa  pun  kita  tetap  optimis, baik  dalam  bisnis  maupun  kehidupan 
sehari-hari, maka kita akan menjadi seorang yang selalu optimis dalam mengarungi masa 
depan. Kita  pun  menjadi  tidak  mudah  terkejut  oleh  berbagai  kesulitan  apapun  juga.
Bahkan  kita  akan  tertantang dan  selalu  berusaha  mencari  jalan  pemecahannya  yang terbaik. 
Dengan  pemikiran  yang  optimis itu, kita  juga  akan  lebih  bisa  menggunakan 
imajinasi untuk meraih kesuksesan atau keberhasilan. Dengan demikian, optimisme akan 
meningkatkan  kekuatan  atau  kemampuan  kita  dalam  berusaha  dan  akan  menghentikan 
alur pemikiran  yang negatif. Namun  kalau  kita  cenderung suka  berpikir negatif, maka 
pasti akan memenuhi banyak kesukaran. 
Justru dengan  optimisme, kita  selalu  akan  terdorong untuk  berpikir positif. Saya 
rasa  berpikir positif adalah  suatu  cara  yang terbaik  untuk  mempromosikan  percaya  diri, 
dan  menghimpun  energi  positif. Sebab  pikiran  kita  merupakan  sumber-sumber ide  atau 
gagasan  yang paling berharga  jika  kita  mau  berpikir secara  positif. Itu  sebabnya,
mengapa sikap mental positif (positive mental attitude) seorang entrepreneur itu menjadi penting.


Saya Dicap “Orang Gila” 
Entrepreneur  itu  pemberani, meski  belum  tentu  pandai. Orang  pandai  itu justru 
belum tentu berani melakukan bisnis. 
Dalam  acara  pemberian  penghargaan  terhadap  Lembaga  Bimbingan  Belajar 
Primagama  oleh  Museum  Rekor Indonesia  (MURI), saya  benar-benar  “digarap”  oleh 
rekan saya yang juga Direktur MURI, Jaya Suprana. 
Dalam  acara  yang diselenggarakan  pada  hari  Jumat  2  Juli  1999  yang lalu, saya 
dicap  sebagai  “orang gila”  oleh  Jaya  Suprana. “Betapa  tidak”,  kata  Pak  Jaya,  “Usaha 
yang  dibuka  Pak  Purdi  saya  nilai  sebagai  usaha  edan-edanan. Pak  Purdi  memang
demikian  “gila”  berani  membuka  usaha  yang  saya  nilai  sebagai  industri  bimbingan 
belajar terbesar di  Indonesia”, tutur pakar kelirumologi  tersebut. Lebih  lanjut  dikatakan 
“Karena  itulah, saya  rela  menyerahkan  sendiri  sertifikat  MURI ini  kepada  pak  Purdi. 
Padahal, saya sebenarnya sudah janjian dengan Presiden Habibie. Tapi karena ada acara 
ini, acara di Bina Graha saya batalkan,” demikian kelakar Boss Jamu Jago itu. 
Yah  begirulah  Pak  Jaya.  Bahkan, saya  juga  dibilang “gila”  , karena  begitu cepat 
dalam mengembangkan bisnis pendidikan ini. Dan memang, pada usia 18 tahun pada 10 
Maret 2000 yang lalu, Primagama telah berkembang lagi, dengan memiliki 181 cabang di 
96 kota yang tersebar di 16 propinsi. 


“Saya salut sama Pak Purdi. Sebagai seorang wirausahawan, ia selalu melakukan 
hal-hal  yang  tidak  rasional  dan  terlalu  berani. Tidak  punya  modal  cukup, berani  buka 
usaha. Terlalu  optimis  terhadap  ide-ide  rencana  usahanya, dan  mengambil  risiko  adalah 
pekerjaan biasa,” demikian kata Pak Jaya lagi dalam kesempatan pidatonya. Entrepreneur
lain yang disebut Pak Jaya adalah Tirto Utomo, yang rupanya lebih gila lagi. Tirto Utomo 
bisa  menjual  air (aqua)  lebih  mahal  dari  bensin. Dan  bisnis  Tirto  pun  saat  ini  juga 
berkembang sangat pesat. 
Jaya  Suprana  mengatakan  begitu, karena  memang faktanya  demikian.  Banyak 
usaha  yang dimulai dari ide-ide gila, dan keberanian  yang luar biasa. Bagi orang awam,
perilaku  wirausaha  memang terasa  aneh  dan  sulit  dicerna. Tetapi  bila  dilihat  dari  sisi
motivasi, mereka  memang orang-orang yang memiliki  motivasi  yang tinggi  (high 
achiever) dalam  meraih  sesuatu. Tak  lekang karena  panas, tak  lapuk  karena  “hujatan”.
Padahal, belum  tentu  memiliki  kepandaian  dan  ketrampilan  yang memadai  untuk memulai usahanya. 
Entrepreneur itu adalah pemberani, walaupun belum tentu ia orang pandai. Orang 
pandai  justru  belum  tentu  berani. Hal  ini  mungkin  karena  terlalu  berhitung. Banyak 
wirausaha  yang  lahir  bukan  karena  pandai, tetapi  karena  berani. Berani  memulai
usahanya. Berani meraih peluang. Tidak pernah takut. 
Menurut  Marianne  Williamson, ketakutan  kita  yang paling mendalam  bukan 
karena  kurang memadai. Ketakutan  yang paling  mendalam  adalah  karena  kita  terlalu 
kuat. Sisi  terang, bukan  sisi  gelap  yang membuat  kita  takut. Dari  kalimat  tersebut 
dapatlah diambil kesimpulan, bahwa makin tahu banyak hal, maka makin membuat orang
takut  mencoba. Sehingga  teman  saya  yang seorang akuntan, dan  ingin  berwirausaha, ia 
akan  selalu  menghitung feasibility-nya  dan  tidak  pernah  memulai  usahanya. Sementara, 
peluang yang sama telah direbut orang lain. 
Saya  tidak  menyarankan  untuk  tidak  menghitung rencana  usaha  Anda. Tetapi, 
keberanian  untuk  memulai  nampaknya  harus  didahulukan. Ada  teman  saya  yang ingin 
membuka  usaha  retail  atau  warung kelontong.  Yang  dia  hitung  dan  bayangkan,  adalah 
akan  membutuhkan  modal  yang  banyak,  tempat  yang  bagus,  dan  bayangan  yang  serba 
menakutkan. Dan, pada saat bertemu dengan saya, dia saya sarankan membuka retail-nya 
dulu, baru berpikir kemudian. Ternyata betul juga, begitu retail-nya dibuka, banyak orang 
yang  menitipkan  barang (konsinyasi), dimana  sebelumnya  hal  tersebutak  pernah 
dipikirkan. Kemudian  ada  petugas  bank  yang menawarkan  pinjaman  uang untuk 
meningkatkan  modal. Dan,banyak  kesempatan  yang  datang  silih  berganti, yang  tidak 
pernah diduga sebelumnya. 
Keberanian seorang entrepreneur untuk berwirausaha itu sama dengan keberanian 
menghadapi  risiko. Kalau  dengan  negative  thinking, risiko  sama  dengan  bahaya. Tetapi 
kalau  dengan  positive  thinking, maka  risiko  itu  sama  dengan  rejeki. Resiko  kecil  yang
didapat pun kecil. Contohnya, seorang tukang cuci piring, risikonya hanya memecahkan 
piring, maka  penghasilannya  pun  kecil. Yang berisiko  besar,  penghasilannya  pun  akan 
besar. Sehingga, seberapa  besar rejeki  yang diinginkan, sama  dengan  seberapa  besar 
Anda berani mengambil risiko.

GAYA KEPEMIMPINAN 
Memanfaatkan Otak Orang Lain 
Menjadi orang nomor satu di perusahaan kita sendiri, itu sangat bisa. Tapi tidak
bisa semua kegiatan bisnis, kita jalankan sendiri. 
Mensyukuri apa yang kita peroleh dari hasil bisnis, walau tak sebesar seperti yang
kita  harapkan  semula, saya  kira, itu  penting. Setidaknya, ini  merupakan  langkah  kita 
pertama menjadi entrepreneur yang bijak. Namun, tentunya kita tetap memiliki kemauan 
untuk mengembangkan bisnis kita seoptimal mungkin. Sehingga, hasil yang kita peroleh 
juga akan bisa lebih maksimal, meskipun persaingan di dunia bisnis makin kompleks. 
Untuk  mewujudkannya, kita  mungkin  tak  hanya  cukup  memanfaatkan  otak  kita 
sendiri, tapi ada baiknya juga memanfaatkan otak orang lain. Sebab, kita harus menyadari 
benar, bahwa setelah bisnis yang kita rasakan berkembang cukup pesat, dan kita menjadi 
orang nomor satu  di  perusahaan  yang kita  dirikan, tentu  saja  tak  bisa  semua  kegiatan 
bisnis bisa kita jalankan dengan otak kita sendiri. 
Maka, sudah  sewajarnya  kalau  kita  memanfaatkan  otak  orang lain, yang oleh 
Williams  E. Heinecke, penulis  buku  “The  Entrepreneur  21  Golden  dan  Rules  for  the 
Global  Business  Manager”, disebut  “Work  with  other people’s  brain”, Menurut,
entrepreneur terkemuka  yang sukses  mengembangkan  bisnis  Pizza Hut, seorang 
entrepreneur yang bersedia bekerja dengan memanfaatkan otak orang lain, sesungguhnya 
adalah entrepreneur sejati. 
Saya sendiri juga merasakan, bahwa memanfaatkan otak orang lain dalam bisnis.
Khususnya di era milenium ketiga ini, merupakan yang sangat penting. Acapkali itu lebih 
baik  ketimbang harus  semuanya  kita  jalankan  sendiri. Katakanlah, kita  akan  mudah 
menangkap peluang bisnis deengan bantuan otak  orang lain. Karena itu, jangan  apa-apa 
dikerjakan sendiri. Akibatnya, kita bisa jadi pemurung, kebanyakan kerja, dan sulit bagi 
kita bisa menikmati penghidupan yang layak sebagai seorang entrepreneur. 
Saya  yakin, jika  kita  berhasil  memanfaatkan  otak  orang lain  dengan  baik,
sebenarnya juga sebagai upaya positif kita menghindarkan sikap keras kepala kita sendiri.
Dan, itu  akan  lebih  mudah  membuat  kita  mau  mendengarkan  dengan  hati  terbuka  apa 
yang dikatakan  orang lain. Pada  akhirnya, sikap  ini  pulalah  yang akan  menciptakan 
hubungan  kerja  harmonis. Maka,  kita  sebagai  entrepreneur yang  memiliki  perusahaan,
alangkah  bijaknya  kalau  kita  juga  jangan  mudah  “alergi”  dengan  apa  yang dikatakan orang lain. 

Selain  itu, jika  kita  bisa  memanfaatkan  otak  orang lain  dengan  baik, 
sesungguhnya  juga  kemajuan  yang  positif bagi  bisnis  kita  sendiri. Bahwa, kita  pun  
ternyata  mampu  mengangkat  diri  kita  sebagai  pemimpin  perusahaan  yang benar-benar 
memiliki  kemampuan  profesional  dan  kecerdasan  emosional. Niscaya, bisnis  kita  akan 
tetap eksis dan lebih berkembang pesat disaat ini maupun di masa mendatang. 
Dan, perlu  diingat  bahwa  memanfaatkan  otak  orang lain, itu  bukan  merupakan 
kelemahan  kita  sebagai  entrepreneur. Tapi  sebaliknya, hal  itu  justru  menunjukan,
bahwwa kita benar-benar telah memiliki intelektualitas, kecerdasan emosional, kecintaan 
pada diri kita sendiri, maupun perusahaan.***


Boss Bukan Pemimpin 
Menjadi entrepreneur leader itu lebih baik dari pada jadi boss. 
Panggilan boss itu memang sudah biasa di dalam dunia usaha walaupun mungkin 
maksudnya  untuk  menghormati. Namun, menurut  saya, sebetulnya  panggilan  boss  itu 
terkesan  ada  maunya, ada  pamrihnya. Saya  sendiri  tidak  bangga  dengan  panggilan  itu.
Risih  rasanya. Saya  tidak  ingin  jadi  boss. Saya  ingin  menjadi  entrepreneur  leader, 
seorang entrepreneur yang juga seorang pemimpin. 
Dalam  hal  ini, John  C. Maxwell, yang banyak  menyoroti  perbedaan  antara  boss 
dan pemimpin mengatakan, seorang pemimpin lebih punya itikad baik, lebih bijak, baik
dalam sikap dan tingkah lakunya. Dia lebih bisa melatih atau  mendidik pengikutnya. Dia 
juga  bisa  sebagai  teladan  bagi  pengikutnya.  Katakanlah, seorang  karyawan  yang  baru 
masuk di perusahaannya dan langsung mentoring pada seorang pemimpin menjadi cepat 
berkembang, karena pemimpin mampu menimbulkan rasa antusiasme pada karyawannya. 
Tetapi  lain  halnya, dengan  seorang boss. Boss  lebih  mirip dengan  juragan. 
Seorang boss itu lebih banyak maunya sendiri, egoismenya tinggi, dan sikap atau tingkah 
lakunya  lebih  terkesan  menggiring  pekerjanya  dan  kerap  menimbulkan  rasa  takut  pada 
anak buahnya. Karena sikap itu menyangkut pola rasa dan pola pikir, sehingga pengaruh 
sikap  boss  semacam  itu, menurut  seorang pakar  kepribadian, Dale  E. Galloway, akan 
dapat membuat anak buahnya menjadi gelisah, menderita, melukai hati, dan bahkan bisa mendatangkan musuh. 
Seorang boss  juga  lebih  tergantung pada  wewenang, terutama  wewenang 
struktural. Kalau  tidak  memiliki  lagi  wewenang, maka  pengaruhnya  tidak  ada. Bahkan 
orang lain  tidak  lagi  respek  pada  dia,  manakala  sudah  tidak  menjadi  boss  lagi.  Itulah 
memang konsekuensinya kalau seseorang lebih menggunakan wewenang struktural. Jadi
orang lebih  terpengaruh  pada  boss  yang punya  wewenang tersebut, dan  bukan  pada 
hubungan moral seperti yang lebih baik dilakukan seorang pemimpin. 
Dan, saya kerap melihat, bahwa seorang boss cenderung suka menyalahkan anak 
buahnya, karena  dia  memang lebih  suka  menetapkan  kesalahan  tanpa  menunjukan  jalan 
keluar, dan  boss  itu  tahu  bagaimana  itu  dilakukan. Tapi  lain  halnya  dengan  seorang 
pemimpin, dia  lebih  suka  memperbaiki  kemacetan  yang  dilakukan  bawahannya  atau 
pengikutnya dan bisa menunjukan cara mengatasinya. 
Boss juga lebih mengatakan “Aku”, sementara pemimpin lebih suka mengatakan 
“Kita”. Perbedaannya tak hanya itu. Boss juga lebih suka mengatakan “Jalan!”, jadi lebih 
bersikap  otoriter. Sangat  berbeda  dengan  cara  pemimpin  dalam  menggerakan 
karyawannya  lebih  bersikap  egaliter, maka  tak  mengherankan  lebih  cenderung 
mengatakan “Mari kita jalan!”. 
Oleh  karena  itulah, dalam  mengembangkan  bisnis  kita  dan  dalam  menghadapi 
persaingan  bisnis  yang semakin  keras  saat  sekarang ini, saya  kira  memang dibutuhkan 
entrepreneur-entrepreneur leader.  Keberhasilan  bisnis  kita  akan  lebih  sukses  karena 
tindakan dan keputusan strategis yang diambil oleh entrepreneur leader. 
Sebab, dalam  kepemimpinannya  mereka  lebih  menekankan  pada  hubungan 
manusiawi, sehingga  orang-orang di  bawahnya  lebih  termotivasi  dan  lebih  mampu
menggunakan  pemikiran  dan  wawasan  kreatifnya. Sebaliknya, boss  tidak  mampu 
menumbuhkan sikap semacam itu. Maka, jadilah entrepreneur leader.***


Pemimpin Bukan Manager 
Pemimpin  itu  selalu  berpikir  meloncat-loncat  dan  sering  membingungkan 
bawahannya. 
Melakukan hal-hal yang benar (doing the right things), berani menghadapi resiko 
dan memiliki motivasi untuk selalu nomor satu. Ide-ide bisnisnya orisinal, dan menaruh 
mata ke masa depan serta memiliki perspektif jauh ke depan penuh kepercayaan diri. Itu 
salah satu profil seorang pemimpin. 
Walaupun  banyak  yang  menganggap  pemimpin  itu  menyukai  segala  bentuk 
macam tantangan, karena rasa optimis yang selalu dimilikinya. Cukup menarik buat saya. 
Sebab yang saya amati dan rasakan, pemimpin bukan hanya mampu menggerakan orang 
lain, melainkan juga berani mengambil pola pikir yang tidak populer sekalipun, mampu 
memberikan solusi, dan memiliki semangat untuk menjadi yang selalu terdepan. 


Teliti  punya  teliti, ternyata  dalam  menjalankan  bisnis  saat  ini  maupun  masa 
datang, memang seharusnya  memiliki  manager leader, manager yang punya  jiwa 
pemimpin. Mengapa?  Sebabnya  adalah  persaingan  yang serba  kompetitif, situasi  bisnis 
yang kompleks  dan  sulit  diramalkan  keberlangsungannya, sehingga  sangat  dibutuhkan 
sosok  manager  seperti  itu. Kalau  tidak,  kita  akan  kalah  bersaing. Akibatnya,  bisnis  kita 
yang kita jalankan akan sulit maju. 
Saya  setuju  pendapat  pakar manajemen  yang mengatakan, kalau  pemimpin  itu
selalu melakukan hal-hal  yang benar, sementara manager hanya mampu melakukan hal-
hal  dengan  benar  (doing  the  things  right). Dimana, seorang pemimpin  di  dalam 
melakukan  hal-hal  yang  benar tidak  terlalu  memperdulikan  caranya. Itu  tak  terlalu 
penting baginya. Sebab, bagi  seorang pemimpin, hal-hal  yang  menyangkut  urusan 
pelaksanaan  idenya  itu  adalah  tugas  manager. Pemimpin  selalu  berpikir loncat-loncat, 
dan  jangkauannya  seringkali  panjang, bisa  membingungkan  bawahan  untuk mengikutinya. 
Lain  halnya  dengan  manager. Jangkauan  ide  atau  gagasannya  pendek, dan 
wawasannya relatif kering. Kewajibannya adalah bagaimana melakukan tugasnya dengan 
benar. Manager baru  jalan  setelah  ada  planning dulu, sudah  ada  program  kerja  atau 
prototype-nya. Wajar kalau  ada  yang berpendapat  bahwa  pada  dasarnya  Manager itu 
tiruan, sementara pemimpin adalah orisinal. 
Itu  mengingatkan, ide  atau  gagasan  seorang pemimpin  tidak  pakai  planning. 
Responsibilitasnya  memang  tidak  setiap  saat  muncul. Bila  ternyata  ide-ide  bisnisnya 
yang dijalankannya  itu  nanti  benar atau  salah, urusan  belakangan. Baginya  yang 
terpenting telah menemukan ide bisnis yang cemerlang. 
Kita  bisa  juga  lihat, bahwa  manager dalam  rangka  mempertahankan  proses  atau 
kontinuitas  kerjanya  cenderung menerima  status  quo. Statusnya  ingin  aman-aman  saja.
Bahkan, kalau perlu menghindar dari resiko. Tapi sebaliknya dengan pemimpin. Ia justru 
menentang status  quo, dan  lebih  berani  menghadapi  resiko. Perbedaan  lainnya, adalah 
seorang manager itu  suka  bertanya,  bagaimana  dan  kapan  terhadap  sesuatu  hal. 
Sedangkan, pemimpin lebih suka bertanya, apa dan mengapa. Selain itu, pemimpin lebih 
terkesan  ingin  menjadi  pribadinya  sendiri, dan  menguasai  lingkungannya. Sementara, 
manager adalah “tentara baik” yang klasik, dan menyerah kepada lingkungan. 
Manager  dalam  menjalankan  aktivitasnya  juga  sangat  bergantung pada 
pengawasan. Dia  ingin  selalu  mengelola  dan  mempertahankan  bisnis  yang sudah  ada, 
serta  lebih  berfokus  kepada  sistem  dan  struktur. Sementara, pemimpin  lebih  merupakan 
sosok  yang justru  mampu  membangkitkan  kepercayaan  bawahanya  atau  relasinya. Itu 
sebabnya, mengapa  fokus  seorang pemimpin  lebih  kepada  orang, dan  bukan  kepada 
sistem atau struktur. 
Oleh  karena  itu, jika  kita  sekarang berada  pada  posisi  manager, sebaiknya  tidak 
menafikan  atau  menghilangkan  nuansa-nuansa  atau  jiwa  kepemimpinan. Agar segala 
keputusan  yang  diambil  tidak  kering,  lebih  tenang dalam  menjalankan  bisnis, mampu
mengantisipasi  hal-hal  yang tak  pasti, energik, antusias, memiliki integritas, tegas  tapi 
adil, visi bisnisnya lebih jelas, dan mampu memproyeksikan bisnis ke-masa depan.*** 
“Dan” 
Kita akan menjadi tangguh dan terdepan dalam prestasi, jika kita bisa bersinergi 
Siapa yang tak kenal dengan kelompok musik anak muda dari Jogja, Sheila on 7? 
Tentu, anda  semua  pernah  mendengarkan  lagu  hitsnya  yang berjudul  “DAN”. Konon, 
album  pertamanya  itu  terjual  lebih  dari  1  juta  keping. Kita  tentu, bangga  dengan 
kesuksesan mereka. 
Judul lagu “Dan” itu cukup menarik buat saya. Namun, “Dan” dalam tulisan saya 
ini  artinya  sinergi. Sebab, yang saya  ungkap  kali  ini  bukanlah  asyiknya  mendengarkan 
lagu “Dan”, namun bagaimana pentingnya sebuah sinergi dalam dunia bisnis. Saya yakin, 
kita  bisa  menjadi  entrepreneur tangguh  atau  terdepan, bila  kita  bisa  bersinergi. 
Bekerjasama dengan pihak lain, demi kesuksesan bisnis kita. 
Mungkin Anda bertanya, apa benar bersinergi itu menguntungkan kita?  Sebab, tak 
sedikit  kasus  yang menunjukan  bahwa  bersinergi  dengan  orang lain  justru  membuat 
bisnis  kita  sulit  berkembang.  Saya  sudah  menduga,  pasti  pertanyaan  Anda  seperti  itu.
Memang, tak selamanya bersinergi itu negatif. Tapi bisa sebaliknya, bersinergi membuat 
bisnis  kita  maju  dan  kita  mampu  memanfaatkan  peluang bisnis. Konsep  bisnis  kita
menjadi briliant, selama sinergi yang saya maksud itu positif. 
Teliti punya teliti, ternyata memang sinergi itu bisa negatif dan bisa positif. Untuk 
kita menjadi terbaik, tentu kita harus mencari rekan bisnis yang positif. Ini menunjukan,
bahwa kita akan memiliki kekuatan potensi kuat dan mampu meyakinkan prospek bisnis 
kita. Dengan sinergi positif, saya yakin kita akan memiliki pemikiran jauh kedepan penuh 
percaya diri, sehingga mampu mengantisipasi hal-hal yang tidak pasti. 
Apalagi, dalam  era  global, dunia  bisnis  berputar cepat, terkadang tidak  rasional,
tidak  pasti, sehingga  menghadapi  hal  itu  kita  memang harus  memiliki  sinergi  atau 
kekuatan kerjasama yang sangat tinggi. Saya yakin, hal itu akan menjadikan kita menjadi 
entrepreneur yang selalu optimis atau memiliki sense of optimism yang tinggi. Tapi juga 
bisa sebaliknya, bila sinergi itu negatif, maka bisnis apapun yang kita jalankan tidak akan berhasil. 
Keyakinan saya pun bertambah dengan pengalaman ini. Saya pernah diajak bisnis
pom  bensin  dengan  teman  pengusaha. Tapi  setelah  lewat  proses  panjang,  ternyata  sulit 
terrealisir. Saat itu saya belum yakin, apakah karena itu sinerginya negatif? Empat tahun
kemudian saya ketemu lagi sama teman pengusaha tadi, yang kini buka bisnis komputer.
Dia mengajak saya lagi bisnis showroom atau jual beli komputer. 
Rupanya, saya dan teman saya itu sama-sama belum percaya bahwa sinergi kami 
negatif. Kami coba lagi, tapi gagal. Bisnis itu sampai kini belum terealisir juga. Contoh 
lain, artis Camelia Malik. Saat dia bersuami Reynold, pasangan ini tidak cocok dan tidak 
dikaruniai  anak. Tapi, setelah  berpisah  dan  mereka  menemukan  pasangan  masing-
masing, ternyata cocok dan dikaruniai anak. Jadi ada sinergi positif.  
Begitu  juga  hubungan  sinergi  antara  owner dengan  eksekutif. Bisa  positif, juga 
negatif. Namun, bagi kita  yang percaya pada sinergi, jumlah satu ditambah satu bunkan 
hanya  dua. Bisa  sepuluh, seratus, bahkan  seribu. Saya  sendiri  tidak  meragukan  hal  ini.
Tapi setidaknya, dengan kita memiliki kecerdasan emosi optimal dan intuisi yang tajam, 
saya  yakin, kita  akan  semakin  pintar memilih rekan  bisnis  yang bersinergi  positif. Dan,
tidak  mustahil, entrepreneur yang memiliki  kemampuan  tersebut  akan  sangat 
menguntungkan bagi bisnis maupun kehidupannya.***
Egaliter Itu Perlu 
Emosi  kita  akan  semakin  cerdas,  bila  kita  mau  mengedepankan  hubungan  yang 
humanis dan harmonis. 
Teori  kepemimpinan  berdasarkan  gen  mengungkapkan, bahwa  pada  dasarnya 
setiap orang itu sama. Begitu pula halnya, di dalam mendambakan perhatian positif. Saya 
melihat salah satu upaya untuk mewujudkan hal itu adalah jika kita berhasil menerapkan 
hubungan  yang lebih  mengedepankan  aspek  hunanis  dan  harmonis  dalam  komunikasi
antar level  struktural  atau  yang lebih  dikenal  dengan  hubungan  egaliter. Saya  merasa 
yakin, bahwa hubungan semacam ini segi manfaatnya sangat besar, bila kita benar-benar 
berhasil menerapkannya di perusahaan kita masing-masing. 
Hanya  saja, hubungan  ini  akan  berjalan  bila  diawali  dari  pimpinannya. Kita 
sebagai  seorang wirausahawan  atau  entrepreneur  yang juga  adalah  seorang pemimpin,
memang perlu  memberikan  suri  tuladan  terlebih  dahulu  akan  pentingnya  hubungan 
egaliter ini pada lingkungan kerja kita, pada staf kita. Sebab, hubungan egaliter itu akan 
membuat  kita  semakin  paham  pada  suatu  bentuk  komunikasi  yang transparan  dan  jujur. 
Begitu  halnya  dalam  hubungan  intra-personal.  Dimana, hubungan  antara  pemimpin
dengan  staf tak  ada  lagi  jarak  yang tajam. Namun, sikap  saling menghormati  tetap 
terjaga. 
Menurut  saya,  dampak  positif lain  dari  hubungan  egaliter  itu  adalah  kita  akan 
lebih dapat meningkatkan kecerdasan emosional kita. Terutama pada hal  yang berkaitan 
dengan  soal  membina  hubungan  dengan  orang lain, dan  mengenali  emosi  orang lain.
Dengan  begitu, kita  akan  lebih  mudah  menyeleraskan  diri  (harmonizing)  dengan  orang lain. 
Itu  penting  kaitannya  dengan  bisnis. Sebab,  hubungan  semacam  ini  akan 
memungkinkan kita lebih memiliki rasa percaya diri yang kuat. Segala ide, pemikiran dan 
gagasan  bisnis  kita  juga  akan  semakin  baik. Sehingga  hal  itu, tidak  mustahil  akan
membuat kita cenderung lebih kreatif, dan akhirnya kita akan lebih produktif. Begitupula 
halnya  dengan  semangat  kita  di  dalam  berwirausaha  juga  akan  semakin  bergairah. Dan, 
sukses akan lebih mudah tercapai. 
Dengan  begitu, saya  rasa  hubungan  pimpinan  dengan  staf tidak  harus  melewati 
dulu birokrasi yang berbelit-belit. Ruang kerja bisa kita buat sedemikian rupa, kalau perlu 
terbuka, sehingga komunikasi dua arah (two way traffic communication) antara pimpinan 
dengan staf akan lebih mudah tercipta. 
Kita  tentu  mengerti, bahwa  pimpinan  dalam  mengembangkan  bisnisnya  tak  bisa
sendiri. Membutuhkan bantuan staf. Maka, sebaiknya, kita sebagai seorang entrepreneur
tak perlu ragu lagi menerapkan hubungan harmonis semacam itu. 
Apalagi  di  saat  sekarang ini, jelas  tak  hanya  menuntut  kita  piawai  atau  jeli  di
dalam  melihat  dan  meraih  peluang bisnis, tapi, kita  juga  harus  pintar pula  menerapkan 
bentuk  hubungan  kerja  yang harmonis. Tim  kerja  di  perusahaan  kita  akan  semakin 
kompak dan solid. 
Hubungan  egaliter itu, saya  rasa  juga  perlu  karena  hubungan  ini  akan  lebih 
mengkondisikan kita untuk mau mendengarkan pendapat orang lain. Keterpercayaan diri 
kita  maupun  staf juga  kan  tumbuh. Padahal  kita  tahu  bahwa  keterpercayaan  itu  adalah 
faktor paling penting di balik setiap tindakan kreatif. 
Namun, kultur ini tak ada korelasinya bahwa yang pantas menerapkannya adalah 
harus  mereka  yang memiliki  intelektualitas  tinggi. Justru  yang terpenting adalah 
bagaimana  kita  bisa  memimpin. Memimpin adalah  suatu  yang berkaitan  dengan 
mengelola  orang-orang yang pintar. Namun, itu  bukan  berarti  kita  harus  menjadi  orang
paling pintar atau profesional. 

Memang,  entrepreneur  itu  harus  didampingi  profesional, agar  bisnisnya  lebih 
berkembang.  Sebab  cara  berpikirnya  seringkali  meloncat-loncat. Sementara, seorang 
profesional pemikirannya cenderung yang lurus-lurus atau yang aman-aman. Maka cukup 
riskan, bila  dia  lantas  mencoba  menjalankan  bisnisnya  seorang diri  alias  one  man  shoe.
Kualitas  manajemennya  akan  kurang baik. Maka, seorang entrepreneur dan  profesional 
harus memiliki hubungan yang harmonis. 
Apalagi  dalam  waktu  dekat  ini  kita  akan  memasuki  millenium  ketiga  yang 
kemungkinan  besar bisnis  kita  cenderung akan  penuh  dengan  hyper-competition, suatu
persaingan  yang sangat  ketat. Maka, tanpa ada hubungan seperti itu di lingkungan kerja 
atau perusahaan kita, maka tentu saja target bisnis kita akan sulit tercapai. 
Oleh karena itu, tak ada salahnya bila kita berani mencoba menerapkan hubungan 
egaliter ketimbang hubungan yang terlalu mengedepankan jarak atau gap antara pimpinan 
dan staf. Sebab, hubungan seperti ini akan membuat suasana kerja menjadi tidak kondusif
atau tidak enjoy. Kreativitas juga bisa mandeg dan prestasi kerja pun akan menurun. Itu 
sebabnya, mengapa hubungan egaliter itu perlu.***


Jadi Pemimpin atau Bawahan 
Hanya  dua  pilihan  bagi  kita: menyerah  saja  jadi  bawahan, atau  mau  terus 
berusaha menjadi pemimpin. 
Jika  setiap  saat  kita  selalu  menanyakan  “Apa  hak-hak  saya?”, itu  artinya  kita 
termasuk  golongan  bawahan. sedangkan,  jika  kita  lebih  suka  bertanya  “Apa  tanggung 
jawab  saya?”, itu  berarti  termasuk  golongan  pemimpin. Wajar saja, mestinya  memang 
demikian. Selain itu, seorang bawahan biasanya orang yang bekerja lebih terdorong oleh 
emosinya.  Sementara, seorang pemimpin, bekerja  atau  berbisnis  lebih  karena  terdorong 
oleh karakternya. 
Saya  juga  melihat, bahwa  seorang bawahan  itu  akan  merasakan  senang, baru 
kemudian  dia  melakukan  pekerjaan  atau  tugasnya  dengan  benar. Itu  lain  dengan 
pemimpin. Dia  akan  selalu  berusaha  melakukan  segala  pekerjaannya  dengan  benar, 
kemudian  dia  kan  merasa  senang dengan  prestasi  kerjanya  itu. Pendeknya, bawahan  itu 
bekerja atau melaksanakan tugas karena terdorong oleh kesenangan, dan bukan terdorong 
oleh komitmen seperti biasa dilakukan oleh seorang pemimpin. 
Perbedaan  lain  yang  cukup  menonjol  antar  keduanya,  menurut  pakar  leadership, 
Jhon  C. Maxwell, yaitu  seorang  bawahan  itu  sukanya  selalu  menunggu  momentum,
barulah  dia  mau  bergerak. Sikapnya  lebih  mengendalikan  tindakan, dan  berhenti  ketika 
masalah  timbul. Sementara, kalau  kita  sebagai  pemimpin, maka  kita  akan  lebih 
cenderung menciptakan momentum. Sedang, tindakannya lebih mengendalikan sikapnya, 
dan seorang pemimpin justru akan meneruskan usahanya ketika masalah timbul. 
Saya  juga  melihat, memang  benar seorang bawahan  itu  jika  membuat  keputusan 
selalu  berdasarkan  popularitas. Berbeda  dengan  pemimpin  yang  setiap  membuat 
keputusan apapun, termasuk dalam bisnisnya, adalah lebih berdasarkan pada prinsip dan 
bukan pada popularitas. Sehingga, tidak mengherankan kalau seorang pemimpin itu tidak
suka  bersikap  murung dalam  menggeluti  bisnisnya.  Sebaliknya, dia  akan selalu  mantap menekuni bisnisnya. 
Karena  itu, saya  berpendapat, di  saat  sekarang ini  kita  lebih  baik  menjadi  ikan
besar di kolam kecil daripada harus menjadi ikan kecil di kolam besar. Artinya, kita lebih 
baik menjadi pemimpin, walaupun bisnis kita kecil dan anak buah kita sedikit, daripada 
kita  harus  ikut  orang  lain  sekalipun  bisnisnya  sudah  besar. Memang, menjadi  seorang 
pemimpin tidaklah mudah. Tapi yakin saja, sebab kita masing-masing memiliki kapasitas kepemimpinan. 
Saya  yakin, jika  kita  bekerja  pada  perusahaan  besar sebagai  bawahan, tentu  kita 
tidak bisa berbuat banyak, atau tidak bisa mempengaruhi kebijakan perusahaan. Naiknya 
karier kita pun jelas membutuhkan waktu yang lama. Tapi lain halnya, kalau kita bekerja 
pada  perusahaan  yang masih  kecil, maka  peluang untuk  mengembangkan  bisnis  lebih 
besar. Sehingga, karier kita pun akan cepat berkembang pula. Kita jadi punya andil untuk
mengembangkan usaha menjadi besar, dan akhirnya kita akan lebih cepat jadi pemimpin perusahaan. 
Kasus  pemutusan  hubungan  kerja  (PHK) tidak  akan  membuat  kita  berhenti 
bekerja, kalau kita punya jiwa kepemimpinan. Tapi sebaliknya, kalau kita terus menerus 
menjadi bawahan, akibatnya kita tidak punya keberanian jadi pemimpin. Kita juga tidak 
akan  memiliki  keberanian  untuk  mencoba  punya  bisnis  sendiri. Akhirnya  sekarang, kita 
hanya  mempunyai  dua  pilihan:  kita  menyerah  saja  menjadi  bawahan  atau  kita  tetap 
berusaha untuk menjadi seorang pemimpin.


Manager Berjiwa Entrepreneur 
Manager berjiwa entrepreneur bisa jadi akan menjadi entrepreneur sejati 
Memajukan  perusahaan,  saya  kira, itu  bukan  hal  yang mustahil. Asal  kita  mau 
berusaha  mewujudkan  keinginan  tersebut. Diantaranya, perusahaan  yang kita  geluti 
sekarang ini harus diusahakan memiliki manager yang benar-benar berjiwa entrepreneur. 


Itu sangat penting. Sebab, jika tidak, akan berakibat pada perusahaan  atau bisnis 
kita  sendiri, yakni  akan  berada  pada  posisi  stabil  atau  status  quo. Kondisinya  hanya begitu-begitu saja. 
Tapi  lain  halnya, kalau  perusahaan  kita  itu  memiliki  manager yang berjiwa 
entrepreneur, maka  saya  yakin  bisnis  yang kita  jalankan  akan  lebih  berpeluang cepat 
berkembang. Dan, kita juga  akan lebih siap menghadapi persaingan bisnis  yang ketat di era globalisasi. 
Selain  itu, manager berjiwa  entrepreneur akan  membuat  perusahaan  kita  lebih
kreatif dan  inovatif. Sebab, bisnis  yang sudah  mencapai  titik  optimum  itu  biasanya  jika 
tidak  disentuh  dengan  manajer berjiwa  entrepreneur, akan  mengalami  kondisi  yang menurun. 
Saya sendiri merasakan bahwa, jika suatu perusahaan itu memiliki manager yang 
berjiwa entrepreneur, juga akan selalu siap menghadapi setiap perubahan dalam bisnis. 
Dan, perubahan  tersebut  bagi  manager  berjiwa  entrepreneur, adalah  bagian  dari 
pekerjaannya. Sedang, resiko  yang timbul  pun  juga  bagian  dari  pekerjaannya. Persis 
seperti  yang dikatakan oleh William Ahmanson, bahwa dalam bisnis itu, tidak ada jalan 
lurus yang dapat ditempuh dari satu tempat ke tempat lain. 
Maka, dalam  konteks  inilah, saya  melihat, bahwa  bisnis  itu  memang ada  tiga 
komponen, yakni  meliputi:  investor (orang yang mencari  resiko), entrepreneur(orang 
yang  mengambil  resiko), dan  manager  (orang yang  menghindar  resiko).  Dan, dalam 
keadaan kondisi bisnis yang baik, jiwa entrepreneur menjadi hal penting. Apalagi di saat 
kita harus menghadapi krisis ekonomi, tentu saja akan lebih penting lagi. 
Karena  itu, kita  bisa  melihat, bagaimana  orang-orang Barat  yang bergerak  di 
dunia  usaha  juga  terus  melakukan  pengembangan  bentuk-bentuk  intuisi, yang saya  tahu 
itu  sangat  banyak  membantu  dalam  pengembangan  usahanya. Itu  juga  pertanda, bahwa 
dia memiliki jiwa entrepreneur. 
Adapun  ciri-ciri  manager yang berjiwa  entrepreneur memang  tidak  hanya  itu.
Menurut J.A Schunpeter dalam bukunya  “The Entrepreneur as  Inovator”, manager yang 
berjiwa  entrepreneur juga  merupakan  sosok  yang berambisi  tinggi  di  dalam 
mengembangkan bisnisnya, energik, percaya diri, kreatif, dan inovatif, senang dan pandai 
bergaul, berpandangan  ke  depan, bersifat  fleksibel, berani  terhadap  resiko, senang 
mendiri  dan  bebas, banyak  inisiatif dan  bertanggung jawab, optimistik, memandang 
kegagalan  sebagai  pengalaman  yang  berharga  (positif), selalu  berorientasi  pada 
keuntungan, dan gemar berkompetisi. 

Berbeda  dengan  manager yang tidak  berjiwa  entrepreneur. Maka, dia  akan 
cenderung  berpikir sangat  rasional, suka  kemapanan, dan  tidak  menginginkan  adanya 
perubahan.  Kerap  kali  terjadi  seorang  manager akan  mengalami  kesulitan  dalam 
mengikuti  gaya  berpikir seorang entrepreneur. Dia  juga  akan  kesulitan  mengikuti  setiap 
langkah-langkah bisnis entrepreneur. 
Hanya saja, seorang manager yang memiliki jiwa entrepreneur itu bisa jadi akan 
menjadi  entrepreneur sejati. Dan, sebaiknya  manager  perusahaan  kita  yang berjiwa 
entrepreneur itu, kita  beri  lagi  sebuah  tantangan  yang lebih  besar, misalnya  mengelola 
unit usaha kita yang lain. Atau, bisa juga dia keluar dari perusahaan kita. 
Lantas  berbekal  jiwa  entrepreneur yang dimilikinya, dia  memberanikan  diri 
mendirikan  perusahaan  sendiri. Itu  lebih  baik. Sebab  tindakanya  akan  membantu 
mencitakan  lapangan  kerja. Entrepreneur-entrepreneur baru  juga  akan  semakin  sering bermunculan. 
Memang, pada  akhirnya  bisa  saja  dia  akan  menjadi  pesaing kita  sendiri, pesaing 
perusahaan kita, jika ternyata bisnis yang digelutinya sama dengan kita. Anggap saja, itu 
sebagai “bumbu penyedap” dalam kita menggeluti bisnis.***


Banyak Melayani Banyak Rejeki 
Jika perusahaan ingin berkembang, maka pelayanan adalah segala-galanya. 
Barangkali  kita  tahu, bahwa  salah  satu  tugas  seorang entrepreneur adalah  tugas 
kepemimpinan. Memang idealnya, entrepreneur  adalah   sekaligus  seorang pemimpin.
Paradigma  baru, pemimpin  yang baik  adalah  pemimpin  yang mampu  memberikan 
pelayanan  pada  orang yang dipimpinnya  atau  bawahannya. Maksud  saya, entrepreneur 
sebagai  pemimpin, juga  sekaligus  sebagai  orang yang mau  melayani. Jangan  sampai 
kemudian terbalik, bahwa pemimpin itu justru minta dilayani. 
Dalam  konteks  inilah, barangkali  kita  perlu  kembali  menyadari,  bahwa  sebagai 
entrepreneur, apalagi  yang baru  saja  membuka  bisnis, maka  sesungguhnya  sangatlah 
perlu  mengutamakan  pelayanan. Misalnya, bagaimana  kita  melayani  komsumen.
Bagaimana  konsumen  puas  dengan  layanan  kita. Dan, bagi  kita  yang  memiliki
perusahaan  sudah  relatif maju, maka  konsumen  biasanya  diberikan  pelayanan  oleh 
karyawan  kita. Sedangkan  karyawan  dilayani  oleh  manager-nya,  dan  para  manager 
semestinya dilayani oleh direksi. Sedangkan, direksi dilayani oleh pemilik bisnis. 

Tentu  kita  akan  bertanya, lantas  siapa  yang  melayani  si  pemilik  bisnis? 
Jawabanya bisa sangat banyak. Tapi yang jelas, menurut saya konsep melayani memang 
mudah diucapkan, tapi sangat berat untuk dilaksanakan. 
Sebagai entrepreneur yang sudah cukup lama menggeluti dunia bisnis, pasti akan 
selalu  berhubungan  dengan  banyak  orang. Apalagi  kita  sebagai  seorang pemimpin 
perusahaan, tentunya  melayani  banyak  orang  adalah  pekerjaan  yang harus  dilakukan. 
Melayani  banyak  orang artinya  bisnis  kita  jalan. Saya  kira, melayani  itu  harus 
mengalahkan diri kita dulu sebelum memberikan pelayanan kepada orang lain. Melayani 
berarti  tidak  boleh  pilih  kasih. Pelayanan  bisa  berarti  kita  melayani  orang-orang di 
lingkungan bisnis kita. Dan, kita tak mungkin bekerja tanpa harus saling melayani.  
Melayani  bawahan  berarti  memberikan  perhatian  pada  bawahan  kita. Melayani 
manager berarti memberikan penghargaan pada mereka. Dan, melayani konsumen adalah 
pekerjaan  kita  yang utama. Perusahaan  yang ingin  berkembang, maka  pelayanan  adalah 
segala-galanya. Bisnis melayani banyak orang akan mendatangkan banyak omset. 
Saya sependapat dengan Robert T. Kiyosaki, dalam bukunya  yang ke-4 berjudul 
“Rich  Kid, Smart  Kid”.  Dalam  buku  tersebut  dikatakan, bahwa  jika  kita  membangun 
sebuah bisnis yang melayani ribuan orang, sebagai timbal balik dari bisnis kita, maka kita 
akan  menjadi  jutawan. Nah, kalau  kita  bisa  melayani  jutaan  orang, maka  kita  pun  juga 
akan  menjadi  milyarder.  Oleh  karena  itulah, kita  sebagai  entrepreneur harus  selalu  siap
melayani  banyak  orang, dan  jangan  alergi  melakukannya.  Percayalah, dengan  kita 
semakin  melayani  banyak  orang, maka  rejeki  yang datang pun  akan  semakin  banyak 
pula.***


Banyak Sumber Penghasilan 
Sebagai  entrepreneur,  kita  sebaiknya  tidak  hanya  memiliki  satu  sumber 
penghasilan. 
Bisnis, biasanya  dimulai  dengan  coba-coba, kadang malah  asal-asalan. Dimulai
dengan  modal  seadanya,  tempat  seadanya,  dengan  orang  yang  sama-sama  belajar dari 
nol. Saya  kira, dari  memulai  yang serba  kekurangan  inilah  yang akan  membuat  kita 
semakin  cerdas  dalam  berbisnis. Proses  bisnis ini  akan  memberikan  pengalaman  bisnis
yang semakin hari mencerdaskan kita. 
Belajar dari  pengalaman  bisnis  setiap  hari  dan  kebutuhan  akan  kemajuan  bisnis
kita, mulailah  kita  memberikan  sentuhan  manajemen, walaupun   itu  masih  sangat 
sederhana. Sudah  ada  bagi-bagi  pekerjaan  atau  bagi-bagi  fungsi. Ada  yang pegang 
keuangan, ada  yang sudah mulai jadi bagian pemasaran. Ada  yang bagian produksi, ada 
juga  yang ngurusi  karyawan. Malah  terkadang ada  beberapa  pekerjaan  masih  dirangkap 
satu  orang. Ini  adalah  proses  menuju  bisnis  yang sesungguhnya. Artinya, bisnis  yang
memiliki  sistem  yang  baik. Dengan  sudah  adanya  sistem, kita  sebagai  pengusaha 
memiliki  banyak  waktu  luang.  Karena, sistem  sudah  berjalan  dengan  baik. Ketika 
sebelum ada sistem, pengusaha cenderung mengelola perusahaan dengan full time. Kini,
setelah ada sistem, cukup dengan part time. 
Karena itu, menurut saya, jika perusahaan kita sudah memiliki sistem yang baik,
dan bisnis kita relatif berkembang, maka kesempatan kita untuk mengembangkan bisnis 
sangat terbuka luas, termasuk membuka bisnis baru. Berdasarkan pengalaman saya, lebih
mudah  membangun  bisnis  yang ke-2, ke-3, dan  seterusnya, dari  pada  ketika  memulai 
bisnis yang pertama. Karena, di saat memulai bisnis yang pertama kita belum punya apa-
apa. Sementara, membangun bisnis  yang ke-2, ke-3, dan seterusnya lebih mudah karena 
bisnis  kita  yang pertama  sudah  memiliki  sistem  yang baik. Saya  kira, perlu 
dipertimbangkan  matang-matang jika  kita  ingin  mencoba  membangun  bisnis  yang  ke-2, 
seharusnya bisnis kita yang pertama sudah mempunyai sistem yang baik. 
Dengan  aktivitas  kita  yang  sebelumnya  full  time, dan  sebagian  entrepreneur 
menjadi  part  time, dimungkinkan  kita  memiliki  banyak  waktu  luang. Banyaknya  waktu 
luang itu, membuat kita sebagai entrepreneur akan lebih fokus dalam menciptakan bisnis-
bisnis  baru. Menciptakan  bisnis  baru  itu  berarti  kita  telah  menciptakan  sumber 
penghasilan  baru. Jika  perusahaan  kita  memiliki sistem  yang baik, maka  manajer dan 
karyawan  akan  bekerja  sesuai  dengan  apa  yang  kita  inginkan. Sehingga, banyak 
pekerjaan  yang  sudah  terbagi  habis  oleh  para  profesional  di  lingkungan  bisnis  kita.
Dalam  konteks  inilah  entrepreneur tidak  harus  fokus. Justru  yang harus  fokus  adalah 
orang-orang yang mengelola  bisnis  kita. Hanya  mungkin, kita  harus  ikut  fokus  di  awal
berdirinya bisnis tersebut. Setelah bisnis kita kelihatan jalan, yah cari fokus yang lain. 
Sebagai  entrepreneur, sebaiknya  kita  tidak  hanya  memiliki  satu  sumber
penghasilan saja. Tetapi bagaimana, kita dapat menciptakan banyak sumber penghasilan.
Ibarat  kita  punya  telur  sepuluh  menetas  sembilan, itu  lebih  baik  dari  pada  mempunyai 
satu  telur menets  semua.  Dengan  kita  membuat  bisnis  yang  ke-2, ke-3, dan  seterusnya,
kita berharap akan mendapatkan penghasilan yang ke-2, ke-3, dan seterusnya. Sehingga, 
dengan  kita  memiliki  banyak  sumber penghasilan, maka  kita  sebagai  pengusaha 
mempunyai peluang untuk memiliki kebebasan finansial. 

Semangat kita menciptakan bisnis ke-2, ke-3, dan seterusnya akan punya dampak 
sosial, yaitu  menciptakan  lapangan  kerja, mambagi-bagi  keuntungan,  dan  lain-lain.
Artinya, kita  sebagai  entrepreneur memiliki  kepedulian  sosial  yang tinggi. Silahkan 
mencoba!***


Berani Nyumbang Berani Investasi 
Jika  kita  berani  menyumbang  dan  berinvestasi, maka  kita  berani  menghadapi 
resiko dan ketidakpastian. 
Saya  berpendapat  bahwa  sebenarnya  keberanian  kita  memberikan  sumbangan 
pada orang lain atau pihak lain yang kita berikan secara tulus ikhlas adalah sama halnya 
dengan kita memiliki jiwa entrepreneur atau jiwa wirausaha. 
Saya  yakin, pasti  anda  bertanya,  kenapa  demikian?  Padahal  kita  tahu  bahwa 
sebagian uang yang kita miliki telah kita sumbangkan pada orang lain, tapi saya melihat,
sikap wirausahawan yang seperti itu pertanda bahwa dia telah memiliki suatu keberanian 
mengambil  resiko  yang  harus  selalu  dimiliki  oleh  seorang  wirausahawan. Dan, sebagai 
wirausahawan kita tetap memiliki kepedulian sosial.  
Hanya  saja, masing-masing wirausahawan  di  dalam  memberikan  sumbangan 
tentu  saja  berbeda-beda. Tergantung keikhlasan  masing-masing. Barangkali  sudah 
selayaknya  kalau  cukup  berhasil  dalam  bisnis  kita  lantas  memberikan  sumbangan  yang
cukup berarti, itu wajar saja. Berbeda halnya dengan mereka yang pendapatannya masih 
relatif kecil. Namun sekalipun pendapatan kecil sebaiknya kita juga membiasakan untuk menyumbang. 
Oleh  karena  itulah, saya  kira, kita  tak  perlu  berpikir negatif kalau  tiba-tiba  di 
kantor kita  kedatangan  tamu  yang minta  sumbangan. Berpikir positif saja. Justru  kita
seharusnya  berterima  kasih  pada  sang tamu  yang  minta  sumbangan  pada  kita, bahwa  di 
tengah  kesibukan  kita  sehari-hari  dalam  menjalankan  bisnis, ternyata  masih  ada  orang 
yang mengingatkan  kita  atau  yang mengetuk  hati  kita  untuk  ikhlas  memberikan sumbangan. 
Dalam  konteks  inilah, mengapa  saya  menganggap  bahwa  sesungguhnya 
pemberian  sumbangan  ini  adalah  langkah  positif dan  langkah  maju. Bahkan, bisa  saya 
artikan kalau kita berani menyumbang, maka kita tidak akan takut lagi berinvestasi. Kita 
juga  tidak  akan  takut  lagi  memulai  atau  mengembangkan  bisnis. Karena, kita  sudah
terbiasa  terlatih  dengan  ketidak-takutan  memberikan  sumbangan.  Berani  menyumbang 
dan berinvestasi merupakan keberanian kita untuk menghadapi resiko dan ketidakpastian. 

Singkatnya  kalau  kita  berani  menyumbang pasti  kita  telah  memiliki  keberanian 
memulai  bisnis  atau  mengembangkan  bisnis, dan  memiliki  keberanian  berinvestasi.
Sesungguhnya keberanian kita memberikan sumbangan mudah-mudahan akan membantu 
melancarkan  bisnis  yang  kita  jalani  saat  ini. Percayalah, banyak  menyumbang banyak rejeki.


INTUISI ITU PERLU
Mengambil Keputusan 
Pertimbangan  intuisi  lebih  peka  dari  pertimbangan  rasional, maka  kita  jangan
ragu untuk menggunakan intuisi dalam bisnis. 
“Haruskah saya membuka rumah makan padang?” itulah pertanyaan yang sempat 
muncul  dalam  benak  saya  saat  itu. Ketika  ide  semacam  ini  saya  coba  lontarkan  pada 
orang lain, mereka  malah  pesimis  dan  menanyakan:  “Mengapa  anda  harus  membuka 
bisnis  rumah  makan  padang, padahal  bisnis  seperti  itu  ‘kan  sudah  menjamur. Apakah punya prospek bagus? 
Dengan  adanya  berbagai  komentar tersebut, membuat  saya  semakin  tertantang 
untuk membuktikan-nya. Padahal, sebelumnya saya  sama sekali belum pernah terjun ke 
bisnis rumah makan, tetapi hal itu saya anggap saja sebagai peluang bisnis. 
Sebagai  entrepreneur, saya  harus  berani  mencoba  untuk  membuktikannya, dan 
sanggup mengambil keputusan yang tepat. Namun, saat itu saya tetap optimis, bahwa ide 
tersebut  bisa  terealisir. Pada  akhirnya  saya  mengambil  keputusan, bahwa  saya  harus 
berani mencoba bisnis ini. Saya yakin peluang pasar tetap ada, khususnya untuk kalangan 
masyarakat menengah ke atas. 
Ternyata, bisnis  ini  terwujud  dan  jalan. Bahkan  di  masa  krisis  pun, saya  optimis
bisnis rumah makan tetap prospektif. Kenyataannya, tamu semakin banyak, ada menteri, 
tokoh masyarakat, artis, dan kalangan pengusaha.  
Di  dalam  mengambil  keputusan  seperti  itu, pertimbangan  intuisi  saya  rupanya 
lebih  peka  dari  pertimbangan  rasional. Memang sebagai  entrepreneur kita  harus  berani 
menggunakan  intuisi  secara  efektif, baik  untuk  pengambilan  keputusan  dalam  bisnis 
maupun  dalam  kehidupan  sehari-hari. Meskipun  kemungkinan  kita  tidak  menyadari 
prosesnya, bahwa setiap keputusan yang kita buat dengan menggunakan intuisi ini hanya 
salah satu contoh dari sekian banyak pengalaman yang saya alami. 
Saya  merasakan  betul, betapa  tajamnya  sentuhan  intuisi  itu. Hal  itulah  yang 
barangkali  memungkinkan  saya  membiarkan  data  intuisi  itu  melengkapi  data  lain, yang 
akhirnya saya gunakan dalam membuat keputusan. Sehingga, saya semakin yakin, bahwa 
dalam  menggeluti  bisnis  maupun  kehidupan  ini, sebaiknya  kita  tetap  menggunakan 
intuisi. Sebab, intuisi akan ikut membuka pikiran dan memberi nilai tambah bagi  emosi 
kita, dan intuisi akan memberdayakan kita agar semakin produktif dan aktif dalam setiap situasi. 
Intuisi  menjadi  sangat  penting, tidak  hanya  untuk  kepentingan  sekarang,  namun 
juga  untuk  kepentingan  masa  depan. Sebab,  diperkirakan  tantangan  bisnis  di  masa
mendatang, relatif berbeda dengan sekarang. Perubahannya sangat cepat dan serba kacau,
tidak menentu, sehingga sulit bagi kita untuk memprediksikannya. 

Suatu tantangan dengan tingkat turbulensi yang tidak menentu semacam ini, jelas 
akan  membuat  intuisi  kita  semakin  berperan  dalam  setiap  mengambil  keputusan. 
Kemungkinan  besar ilmu  manajemen  yang sekarang kita  geluti, masih  sulit  untuk  bisa 
memecahkan  berbagai  tantangan  yang akan  terjadi  di  masa  mendatang.  Padahal, kita 
tentunya  tetap  berharap,  bahwa  bisnis  yang kita  jalani  sekarang ini  harus  tetap  terus berkembang. 
Kita  sebagai  entrepreneur, disukai  atau  tidak, harus  tajam  dalam  intuisi. Kita
harus  mampu  berpikir cepat, dan  akhirnya  mampu  mengambil  keputusan  yang tepat. 
Saya melihat ada sesuatu yang unik pada intuisi, yakni berlawanan dengan proses nalar. 
Proses  intuisi  itu  tidak  linier (bermacam-macam  pola), sedang proses  rasional  adalah 
linier. Itu  sebabnya, mengapa  kebanyakan  entrepreneur dalam  setiap  mengambil 
keputusan  atau  langkah  dalam  bisnisnya,  sering  membuat  kejutan, tidak  rasional, dan berani menghadapi resiko. 
Oleh karena itu, saya setuju pendapat yang mengatakan, bahwa antara intuisi dan
irasionalitas, saling berkaitan. Sebagian keputusan yang kita ambil merupakan campuran 
berbagai  macam  ingatan, gagasan, perasaan, dan  fakta  yang kadang-kadang saling
bertentangan.  Sehingga  “sentuhan”  intuitif itu  memungkinkan  kita  membiarkan  data 
intuisi itu melengkapi data lain yang akan kita gunakan untuk mengambil keputusan. 
Menurut  Quinn  spitser dan  Ron  Evans, intuisi  adalah  analisa  kilat  dari  fakta 
dengan menggunakan pengetahuan dan pengalaman sebagai filter. Dalam bisnis, memang 
dikenal  adanya  intuisi  bisnis. Di  dalamnya  ada  wawasan, pengalaman, mental, dan 
perasaan. Bagi  mereka  yang  memiliki  intuisi  bisnis  yang  tajam, maka  dia  tidak  hanya 
mampu  mengandalkan  perasaan, tapi  ada  juga  wawasan  yang luas, pengalaman  banyak,
dan  mental  yang dalam. Intuisi  ada  empat  tingkatan, yaitu  bisa  muncul  melalui  fisik,emosi, mental, dan spiritual. 
Banyak  cara  mengembangkan  intuisi, di  antaranya  seperti  yang dikembangkan 
oleh  Robert  K. Cooper, Phd, yaitu:  terjun  ke  dalam  pengalaman, kerahkan  kemampuan 
sedikit lebih banyak, tetap terbuka terhadap segala kemungkinan, atasi rasa takut, kenali
dan  cari  cara  untuk  mengatasi  apapun  yang menghalanginya. Selain  itu  Cooper juga 
menyarankan, supaya peluang penginderaan harus ke luar dunia binis, berikan perhatian 
ekstra  kepada  tanggapan  pertama  terhadap  pertanyinnpertanyaan,  perhatikan  bagaimana 
intuisi berkomunikasi dengan diri kita, luangkan waktu beberapa menit saja dalam sehari 
untuk catatan kecerdasan emosional, dan jangan lupa memperluas rasa percaya diri. Anda berani mencoba ? 


Jamming 
Jamming bukan hanya milik musisi jazz, tapi juga milik wirausahawan berintuisi tajam. 
Dalam  menghadapi  dan  menjawab  kondisi  ekonomi  yang terus  berkembang, 
cenderung berfluktuatif, dan tidak menentu sekarang ini, maka saya pikir sebaiknya kita 
melakukan jamming. Tom peter, mengungkapkan bahwa perubahan yang serba cepat dan 
cenderung kacau itu pertanda zaman edan. 
Sehingga, disukai  atau  tidak  disukai, kita  harus  berani  akrab  dengan  kekacauan. 
Saya yakin, jika kita punya keberanian yang besar untuk melakukan jamming akan sangat 
mungkin membantu bisnis kita untuk terus berkembang. 
Menurut  John  Kao, pakar kewirausahaan  terkemuka  yang pernah  mengajar dr 
Harvard  Business  School  dan  Stanford  University, jamming itu  identik  dengan 
improvisasi. Dari  improvisasi  inilah  akan  memunculkan  banyak  ide-ide  bisnis  yang 
kreatif dan inovatif. Dan hal ini akan sangat menguntungkan bagi kemajuan b isnis kita. 
Hanya  masalahnya  sekarang adalah, apakah  “pemain  lain”  atau  katakanlah 
manager dan karyawan kita itu bisa kompak atau tidak dalam melakukan jamming. saya 
berpendapat  bahwa  jamming akan  berhasil. jika  bawahannya  kompak.  Ini  penting.
Mengingat, bahwa  setiap  manager  maupun  karyawan  adalah  mitra  kreatif dalam  bisnis 
kita. Dengan  begitu, kita  sebagai  entrepreneur  akan  lebih  siap  menghadapi  setiap 
perubahan, dan  akan  lebih  siap  lagi  mengatasi  krisis, jika  kita  berhasil  melakukan jamming. 
Memang, tidak  setiap  perusahaan  itu  berani  melakukannya. Antara  lain,  karena 
masih  adanya  perasaan  takut  dengan  munculnya  perubahan.  Masih  adanya  keinginan 
untuk mempertahankan status quo- Tapi, saya pikir, jika sesuatunya tidak jelas ke depan, 
maka  lebih  baik  jamming.  Sehingga, kita  akan  lebih  bisa  leluasa  untuk  bertindak  luwes 
dalam berbisnis pada setiap situasi apapun juga. 
Jamming atau  improvisasi  menurut  saya, bukanlah  seni  yang hanya  dimiliki
musikus jazz. Tapi jamming juga harus dimiliki oleh entrepreneur yang memiliki intuisi
yang tajam. Dan, kalaupun  misalnya, manajer  atau  karyawan  kita  juga  melakukan 
jamming dengan melontarkan ide-ide kreatif yang dapat dilaksanakan, itu juga positif. 
Anggap  saja, ide-ide  kreatif yang berbeda-beda  dalam  perusahaan  kita  seperti 
bunga yang berwarna-warni yang semerbak harum baunya. Namun, tentu saja semua ide-
ide  bisnis  kreatif itu  harus  tetap  terkoordinasi  dengan  baik. Pendeknya, kita  sebagai 
entrepreneur harus bisa memimpin atau mengkoordinasikan semua itu. 
Kita  lihat  saja, bagaimanapanmusisi  jazz  inr mampu  bermain  dalam  sebuah 
struktur. Mereka  bersepakat  tentang  siapa  yang akan  bermain, dan  kapan  memulainya.
Karena ada yang memimpin, maka mereka menjadi kompak, sehingga melahirkan irama-
irama musik  yang terdengar merdu. Sebaliknya, jika terjadi ketidak-kompakan itu justru 
akan  menimbulkan  kebisingan. sebab, musikjazz  -  sebagaimana  halnya  bisnis  memang 
menggambarkan  serangkaian  perilaku  kita  yang seimbang. Artinya, setiap  permainan 
walaupun  eksperimental,  namun  kesemuanya  tetap  masih  bisa  diatur  sedemikian  rupa. 
Begitu juga dalam bisnis. 
Saya rasa, “permainan-permainan” semacam ini akan sangat mungkin terjadi. Ada 
baiknya, hal itu janganlah sebagai hambatan di dalam kita menggeluti bisnis. Tapi, justru 
hal  itu  akan  lebih  membuat  kita  dinamis, penuh  semangat, dan  tekun  dalam  berbisnis.
Oleh karena itu, di era global yang terus menerus menuntut kita untuk melakukan hal-hal 
baru secara lebih cepat seperti sekarang ini, ada baiknya kita selalu melakukan jamming. 
Anda berani mencoba? 


Paradigma Bisnis Di Era Millenium 
Bergerak adalah awal kesuksesasan bisnis. 
Zaman  semakin  maju, dan  waktu  terasa  cepat. Itu  barangkali, yang kita  rasakan 
saat  ini. Maka,  agar kita  tidak  ketinggalan  zaman, sebaiknya  entrepreneur harus  lebih 
mampu  bergerak  cepat, lebih  proaktif, dan  berani  mengambil  risiko. Dengan  demikian, 
kita  akan  lebih  mudah  mengantisipasi  kemungkinan  munculnya  berbagai  kendala  bisnis
yang mungkin terjadi. Bukan, bersikap seperti dulu, yang hanya reaktif dan menghindari risiko. 
Saya  jadi  teringat  dengan  Rupert  Murdoch, yang melangkah  cepat  dalam 
bisnisnya. Pada  saat  boss  perusahaan  lainnya  masih  terlelap  tidur, ia  selalu  menjadi 
penelpon  pertama  untuk  melakukan  negosiasi  bisnis. Dengan  bergerak  cepat, ia  mampu
mengambil  keputusan  lebih  cepat  dari  pesaingnya.  Bagi  Murdoch,  bergerak  lamban 
adalah milik mereka yang kalah. Langkah semacam ini, saya kira menunjukkan, jika kita
tidak  bertindak  dan  bergerak, maka  bisnis  yang kita  geluti  sekarang akan  sulit bergerak 
maju. Karena, pada dasarnya, bergerak adalah awal kesuksesan bisnis kita. 
Dalam  konteks  ini, saya  sependapat  dengan  Matthew  J. Kiernan, penulis “The 
Commandments  of the  21st  Century Management”  yang mengatakan,  bahwa  dalam 
bisnis  telah  terjadi  pergeseran  paradigma. Jika, di  abad  ke-20, bisnis  kita lebih  terkesan 
stabil  dan  bisa  diprediksi, namun  di  abad  ke-21  atau  di  era  millenium  ketiga  ini,
perubahannya cenderung terputus-putus. 
Begitu  pula, bisnis  kita  yang dulu  lebih  didasarkan  ukuran  dan  skala, tapi  kini 
lebih  pada  kecepatan  dan  responsif. Kepemimpinan, kalau  dulu  banyak  dilakukan  dari 
atas, kini  dilakukan  semua  orang. Maka, tak  mengherankan  bila  dalam  menjalankan 
bisnis di era milenium ketiga ini, memang dituntut untuk lebih luwes, tidak kaku. Sebab, 
perjalanan  bisnis  lebih  dikendalikan  oleh  visi  dan  nilai-nilai, dibandingkan  sebelumnya 
yang semata-mata hanya dikendalikan peraturan dan hirarki. 
Selain  itu, kalau  kita  dulu  di  dalam  menjalankan  bisnis  selalu  membutuhkan 
kepastian, tapi kini harus lebih toleran terhadap ambiguitas atau memiliki sikap mendua. 
Soal informasi bisnis demikian juga, yang sebelumnya hanya untuk pucuk pimpinan, tapi 
kini  disebarkan  ke  semua  orang. Sehingga,  saat  ini  bisnis  tak  lagi  mengandalkan  pada 
analisis kuantitatif, namun lebih pada kreativitas dan intuisi. 
Tanpa itu, saya kira bisnis yang kita jalankan sekarang ini akan banyak tersendat 
atau  sulit  untuk  maju. Bahkan, kalau  dulunya  kita  berkeyakinan,  bahwa  masing-masing 
perusahaan  bisa  mandiri, tapi  sekarang terasa  sulit. Karena  pada  dasarnya, perusahaan-
perusahaan akan saling tergantung satu dengan lainnya. 
Pergeseran paradigma bisnis di era milenium ini, juga akan mengajak kita, kalau 
dulu  hanya  berfokus  pada  organisasi  internal, tapi  kini  kita  harus  lebih berfokus  pada 
lingkungan  yang kompetitif. Juga  dari  integrasi  vertikal  ke  integrasi  maya. Seperti
Amazon.com’ toko buku virtual pertama dan terakbar di dunia maya. Bahkan, kalau dulu,
kita hanya bersaing untuk pasar masa kini, tapi sekarang kita justru lebih tertantang untuk 
menciptakan  pasar masa  depan. Karena  itu, kita  jangan  lagi  hanya  mengandalkan  pada 
keunggulan kompetitif yang berkesinambungan, tapi justru harus terus-menerus mencari 
keunggulan. 
Saya yakin, dengan kepekaan kita terhadap kondisi tersebut, maka kita akan lebih 
siap  menghadapi  kondisi  yang  berubah-ubah, lebih  terbuka  menerima  ide-ide  baru. 
Bahkan, kita  akan  lebih  piawai  dalam  mengambil  kesempatan  bisnis, lebih  berani 
mengambil  risiko, dan  tentu  saja  akan  lebih  siap  meraih  keberhasilan.  Anda  berani 
mencoba?


Hobi Bisnis Pekerjaan Golf  
GOLF sebagai olahraga atau sport yang tak hanya untuk kesehatan fisik saja, tapi 
secara  psikologis  kita  juga  akan  mendapatkan  suasana  yang hampir  sama  dengan 
kegiatan  bisnis. Misalnya, ketika  kita  harus  memukul  bola, bola  bisa  jauh  atau  dekat, 
lurus atau kanan-kiri, bisa masuk ke lubang, tapi bisa juga tak masuk lubang. Bisa sukses,
bisa gagal. Begitu juga dalam kita menekuni bisnis, bisnis kita bisa saja sukses, tapi bisa juga gagal. 
Dalam  olahraga  golf, ketika  kita  gagal  memasukan  bola  ke  lubang, maka 
kegagalan itu bisa saja kita perbaiki pada saat itu juga, walaupun mungkin sudah masuk 
dalam hitungan atau penilaian. Soal penilaian, tentu saja berbeda saat kita masih sekolah 
dulu. Katakanlah, kalau saat sekolah dulu kita mendapatkan nilai 8 atau nilai 9, tentu saja 
nilai  itu  sudah  bagus. Sementara, di  golf berbeda. Justru  nilai  8  atau  nilai  9  itu  jelek.
Lantas, nilai yang terbaik adalah 1, atau yang biasa disebut hole in one. Sedang nilai baik 
lainnya  2,3,4,5  tergantung jaraknya  (par-nya  ).  Itu  sama  artinya, mainnya  kita  bagus 
kalau  saja  saat  kita  memukulnya  paling sedikit  atau  banyak  melakukan  kesalahan  atau kegagalan. 
Sedang, kalau dalam bisnis kegagalan itu bisa berisiko finansial. Tapi dalam golf, 
kegagalan  itu  bisa  kita  artikan  bahwa, bola  lari  kanan-kiri, bola  masuk  kolam, bola 
hilang, mukulnya  banyak. Tentu, kalau  kita  jelek, kita  akan  penasaran  dan  ingin 
mengulangi supaya mainnya lebih bagus. Jika kita main bagus, juga akan membuat kita 
penasaran untuk mengulangi lagi. 
Manfaat lain dengan kita rajin berolahraga  golf, kita akan bisa  ambil hikmahnya 
pada  aspek  manajemennya.  Dalam  konteks  inilah, saya  melihat  bahwa  manajemen  golf
itu  sendiri  sangat  baik  untuk  kita  pelajari. Misalnya, bagaimana  kita  menggunakan 
berbagai alat pemukul bola atau stik. Alat tersebut, seperti kita ketahui punya fungsi yang
berbeda,  yang  membuat  jarak  pukulannya  juga  berbeda. Termasuk  kejelian  kita  mau 
pakai  stik  nomer berapa  untuk  memukul  bola  golf itu. Memang, tak  sedikit  tantangan 
atau  hambatan  yang harus  kita  taklukkan. Misalnya saja, bagaimana  cara  memukulnya,
kalau  bola  itu  masuk  bunker atau  pasir. Belum  lagi, menghadapi  arah  angin  yang 
kencang. Dan  setiap  kita  bermain  akan  saja  mendapatkan  suasana  yang berbeda. Sama dengan bisnis kita. 
Nah, kalau saat ini kita sebagai wirausahawan. Maka tak ada salahnya manajemen 
golf tadi kita pelajari, maka itu akan pandai dalam memilih staf atau karyawan. Kita juga 
akan  semakin  banyak  relasi  atau  lebih  mudah  berhubungan  dengan  orang lain, dan 
membuat ita lebih mudah cepat akrab. Jelas, manfaatnya kita akan bisa melakukan lobi-
lobi  bisnis. Selain  itu, bukan  hal  yang tak  mungkin, segala  keputusan  bisnis  bisa  kita 
lakukan dari lapangan golf. Dalam mengelola perusahaan, kita bisa juga melakukan dari 
lapangan  golf.  Misalnya  dengan  menggunakan  teknologi, seperti  HP,  itu  kita  bisa 
manfaatkan untuk bisnis. 
Oleh karena itulah, ketika kita sering melihat orang yang hari-harinya di lapangan 
golf, namun  ternyata  bisnisnya  tetap  saja  jalan. Sehingga, tak  mengherankan  kalau  kita 
lantas berkomentar, “Orang itu hobinya bisnis, tapi pekerjaannya main golf.”


PENGALAMAN ORANG LAIN
Manajemen Padang 
Saya  kira, manajemen  model  “padang”  layak  juga  diterapkan  di  sektor  jasa 
maupun produksi lainnya. 
Ada sebuah manajemen yang menarik di Indonesia, setidaknya itu menurut saya,
yaitu manajemen restoran padang. Mengapa demikian? Itu karena model manajemen ini 
menerapkan  transparansi  dalam  keuangan  dan  pembagian  keuntungannya  lewat  sistem bagi hasil. 
Dampak dari model manajemen ini, memang tidak hanya pada faktor manajerial 
semata, tetapi  juga  berdampak  pada  faktor pelayanan. Dimana, pelayanan  yang serba 
cepat menjadikan restoran padang dikenal. Kita pun juga bebas memilih menu. Menu pun
bervariasi, begitu  juga  minumannya. “Menu  Nano-Nano”  begitulah, banyak  orang  yang 
menyebut buat aneka menu yang dihidangkan dan pasti dijamin halal. 


Selain  itu, kelebihan  restoran  padang adalah  selain  pelayanan  cepat, juga  lebih 
terkesan  fleksibel. Artinya, hidangan  yang kita  pesan  itu  bisa  saja  dimakan  di  restoran 
tersebut, tapi  kita  bisa  juga  meminta  karyawan  restoran  padang  untuk  membungkusnya 
dan  kita  santap  di  rumah. Dan  satu  lagi, masakan  padang punya  rasa  yang khas, dan 
memenuhi  selera  hampir semua  masyarakat  dari  berbagai  negara. Selain  itu, faktor
kebersihan ruangan juga selalu mendapat prioritas. 
Dalam  manajemen  ini,  memang ada  pemilik  modal, dan  ada  pula  tim 
manajemennya, dimana  ada  manajer dan  karyawan. Pada  karyawan  sendiri  ada  yang 
bagian  dapur induk  (koki), book  keeper (pembukuan), pantry (buat  minuman), palung
(pembawa  makanan), teller (pembayar suplier),  kasir, waiter dan  waitress. Saya  juga 
melihat, selain  transparan, model  manajemen  bagi  hasil  itu  telah  menjadikan  restoran 
padang punya ciri khas sendiri. 
Dan, yang menarik  lainnya  adalah  hubungan  antara  pemilik  modal  dengan 
manajemen  lebih  sebagai  mitra. Karena  apa?  Mereka  tidak  mendapatkan  gaji, namun 
mereka  mendapatkan  bagian  dari  keuntungan  bersih  restoran  tersebut. Jadi, dalam 
memberikan keuntungan itu, memang ada pembagian untuk penanam modal sendiri dan
ada  pula  bagian  keuntungan  untuk  manajemennya  atau  karyawannya. Itu  biasanya 
dibagikan setelah keuntungan dikurangi 2,5% untuk zakat. 
Sedang  pendapatan  karyawan  adalah  dengan  sistem  poin. Jadi, setiap  karyawan 
punya  poin  atau  nilai. Dan, biasanya  perhitungannya  dilakukan  setiap  100  hari  sekali.
Nilai tertinggi ada pada karyawan yang bekerja di dapur induk (koki).  
Mengapa  demikian?  Karena, pada  bagian  inilah  yang mampu  memberikan  nilai 
rasa menu makanan maupun minuman yang dihidangkan. 
Saya  kira, manajemen  semacam  ini, akan  membuat  mereka  yang bekerja  di 
restoran padang selalu punya semangat tinggi. Dengan semakin tinggi semangat mereka 
bekerja, menjadikan  hasil  yang diterima  banyak. Kalau  malas, hasilnya  pun  sedikit.
Selain itu, sistem keuangannya yang selalu transparan menjadikan setiap karyawan level 
apa  pun  tahu, berapa  omset  yang diraih  perusahaan  dalam  setiap  harinya.  Sehingga, hal 
itu menjadikan karyawan akan lebih termotivasi untuk maju. Di samping itu, manajemen 
padang juga  mendidik  karyawan  lebih  kompak  bekerja. Sebab, tanpa  ada  kekompakan 
mereka  bekerja, hasil  yang diraih  berkurang.  Bahkan, bukan  tak  mungkin  hal  itu 
menimbulkan dampak pada pelayanan maupun rasa. 
Oleh  karena  itu, saya  kira  manajemen  padang ini  bisa  sebagai  alternatif, dan 
cukup bagus untuk kita terapkan pada sektor jasa maupun produksi lainnya. Dan, satu hal
lagi yang menarik adalah, karyawan restoran padang dengan manajemen seperti itu, tidak
membuat  setiap  karyawan  menanyakan  kapan  SK  (surat  keputusan) pengangkatan  kerja 
itu  dibagikan. Mereka  juga  tidak  akan  menanyakan  kapan  naik  gaji. Sebaliknya,  justru 
mereka  akan  berupaya, bagaimana  harga  poinya  bisa  selalu  naik. Karena, harga  poin 
inilah  yang akan  menentukan  jumlah  penghasilan  setiap  bulan. Jadi  yang menentukan 
penghasilan adalah dirinya sendiri. Anda berani mencoba? 


Manajemen Sari Bundo 
Kebersamaan  antara  profesi, hubungan  baik  pimpinan  dan  karyawan  akan 
membuat bisnis kita tetap bertahan. 
Untuk  kesekian  kalinya,  saya  mencoba  menikmati  sajian  masakan  di  Rumah 
Makan  Padang  Sari  Bundo  di  Jalan  Juanda, Jakarta. Rumah  makan  yang ngetop  ini 
menjadi  favorit  banyak  kalangan. Mulai  dari  mahasiswa, wartawan, eksekutif sampai 
menteri. Bahkan, presiden  pernah  merasakan  nikmatnya  masakan  Ranah  Minang ini.
Padahal harganya cukup mahal dibanding dengan rumah makan sejenis lainnya. Namun, 
siapa  tidak  kenal  dengan  Rumah  Makan  Padang Sari  Bundo  ini, rumah  makan  padang
terlaris di Jakarta, yang memiliki delapan puluh karyawan dan beromzet dua puluh lima 
juta per harinya itu. 
Dibanding rumah  makan  yang baru  berdiri, biasanya  karyawannya  banyak  yang
muda-muda, Sari Bundo yang didirikan sejak tahun 1968 ini, ternyata sebagian besar usia 
karyawannya  rata-rata  sudah  cukup  umur, bahkan  ada  yang  ikut  bekerja  sejak  rumah 
makan ini berdiri. Maka  tak mengherankan, banyak di antara mereka  yang sudah punya cucu. 
Saya  melihat  loyalitas  mereka  bekerja  di  Sari  Bundo, karena  paling  tidak
manajemen  bagi  hasil  yang  diterapkan. Dengan  sistem  seperti  itu  -  seperti  kebanyakan 
restoran  padang -  manajemen  di  sini  terbuka  atau  transparan. Faktor kekeluargaan 
demikian  kuat. Dan, kebersamaan  antara  sesama  profesi, hubungan  baik  pimpinan  dan 
karyawan, juga ikut menjadikan rumah makan ini tetap bertahan. 
Dalam  operasional  rumah  makan  ini, pemasukan  dan  pengeluaran  setiap  harinya 
semua karyawan ikut mengetahui. sehingga, ada rasa memiliki, dan akhirnya mereka pun 
optimal  dalam  bekerja.  Bila  laba  perusahaan  sedikit, mereka  semakin  tertantang untuk 
kerja keras, dengan harapan bisa meraih untung lebih banyak lagi. 
Mereka  percaya  bahwa  antusiasme  bekerja  seperti  “mukjizat”  di  dalam  setiap 
menggeluti  bisnis, termasuk  bisnis  rumah  makan  padang. Sehingga, wajar kalau 
karyawan  di  sini  sangat  yakin  bahwa  bila  usaha  meningkat, maka  kesejahteraan  mereka 
pun ikut meningkat pula. 
Soal  upah  bagi  mereka  prinsipnya  adalah  berat  sama  dipikul, ringan  sama 
dijinjing. sehingga, mulai  pimpinan  sampai  karyawan  memiliki  rasa  tanggung jawab 
untuk tetap mempertahankan, bahkan meningkatkan “brand image” dari Sari Bundo. 
Dan, anehnya, bila  ada  saudara-saudara  pemilik  rumah  makan  Sari  Bundo  ini,
ingin  membuka  cabang  dengan  memakai  merek  Sari  Bundo, tidak  menjadi  masalah.
Boleh-boleh  saja. Agaknya, manajemen  Sari  Bundo, Jalan  Juanda  Jakarta  ini, masih 
percaya, bahwa  membantu  orang lain  untuk  berhasil  itu  perlu. Barangkali, hal  itu 
membuat manajemen sari Bundo Jalan Juanda Jakarta lebih tertantang lagi untuk semakin 
maju di dalam menggeluti bisnisnya ini, agar tidak tersaingi dengan Sari Bundo lainnya.  
Diperbolehkannya, saudaranya  membuka  cabang di  Jakarta  atau  pun  di  daerah 
lain, itu jadi bukti bahwa manajemen sari Bundo, tidak menerapkan sistem franchise atau 
waralaba. Bahkan, pada mereka pun tidak dipungut biaya sesen pun. Hanya sebelumnya 
mereka  harus  ijin. Meski  demikian, yang terbesar dan  teramai  didatangi  tamu  tetap  sari 
Bundo Jalan Juanda Jakarta itu. 
Saya mencatat, setidaknya ada empat hal pokok mengapa dia tetap bisa bertahan 
sampai  sekarang meski  di  saat  krisis  ekonomi  sekalipun, selain  penerapan  menejemen 
terbuka  tadi, juga  karena:  pertama, rasa  masakan. setiap  menu  yang ada  memang lezat 
rasanya. Bumbunya sangat terasa. Ikan masih fresh, terasa enak saat dimakan. 
Kedua, rasa layanan. Layanannya memang serba cepat. Dengan pengunjung yang 
banyak  tanpa  diimbangi  dengan  layanan  cepat, tentu  akan  mengecewakan  pengunjung. 
Hanya  dalam  waktu  satu  menit, tamu  bisa  langsung menikmati  berbagai  menu  yang 
terhidang disini. Sari  Bundo  benar-benar memberikan  service  bagi  para  pelanggan  atau 
orang yang dilayani, sehingga  mereka  merasa  seperti  “raja”  yang harus  dihormati. Sari
Bundo  lakukan  ini  semua  karena, mereka  sangat  mengerti, bahwa  pelanggan  adalah 
orang-orang yang menjadi  sumber pendapatan, yang  menjaga  kelangsungan  usaha  atau bisnisnya. 
Ketiga, lokasinya yang strategis. Manajemen Sari Bundo menyadari, bahwa lokasi 
rumah  makan  yang strategis  juga  akan  lebih  mendekatkan  dengan  konsumen. Meski,
bangunannya tidak terkesan mewah dan besar, namun penggemar masakan padang tidak 
terlalu  sulit  mencarinya,  karena  lokasinya  memang  sangat  strategis, di  Jalan  Juanda
Jakarta. Apalagi tamu dilayani dengan ramah. 


Keempat, nama  Sari  Bundo  yang terkenal  itu. Tamu  yang menikmati  sajian 
masakan  padang di  rumah  makan  terkenal, seperti  Sari  Bundo, membuat  para  tamu 
merasa  mantap. Artinya,  sebelum  mereka  ke  Sari  Bundo, seolah  belum  makan  masakan padang. 
Kalau  kesemua  faktor tersebut  tetap  dipertahankan  oleh  manajemen  Rumah 
Makan Padang Sari Bundo, maka pengunjung akan tetap ramai. Omzet akan meningkat, 
apalagi  manajemen  Sari  Bundo  tahu  persis, bahwa  bisnis  ini  didirikan  untuk  sukses 
menjual  produknya. Itu  akan  jauh  lebih  mudah  kalau  citra  yang dipancarkan  selama  ini 
tetap dipertahakan, bahkan kalau mungkin ditingkatkan. 
Hanya  masalahnya, mampu  tidak  Sari  Bundo  mempertahankan  kualitas 
produknya, pelayanannya, demi  kestabilan  usahanya. Itu  juga  penting.  Namun, saya 
yakin, manajemen  Sari  Bundo  paham  sekali  akan  hal  itu. Sebab  Sari  Bundo  sebagai 
rumah  makan  yang sukses  akan  terus  menerus  bertanya, “Bagaimana  saya  bisa  paling 
baik  melayani  keinginan. kebutuhan, dan  keperluan  pelanggan  saya?”  Yah, begitulah 
Manajemen Sari Bundo.


Club The Fish Market 
Membuat  restoran  sekaligus  menjadi  tempat  rekreasi  merupakan  suatu  peluang 
bisnis yang menarik. 
Saat  saya  ada  tugas  di  Jakarta  beberapa  waktu  lalu, saya  sempat  mampir ke 
sebuah  restoran, yang bagi  saya  unik. Namanya:  Restoran  Club  The  Fish  Market. 
Restoran Pasar ikan ini terletak bersebelahan dengan Club Store, di dekat Bengkel Cafe.  
Uniknya,  dan  itu  menarik  bagi  saya, adalah  dalam  ruangan  restoran  itu  ada 
ratusan jenis ikan laut dan ikan tawar yang masih segar-segar. Bahkan, saya lihat ada juga 
seperti  Ikan  Hiu, Ikan  Kue, Ikan  pari, Lobster, dan  lain-lain. Bagi  tamu  yang ingin 
menikmati  sajian  di restoran  ini, dipersilahkan  memilih  sendiri  jenis  ikan  apa  saja  yang 
ingin  dinikmatinya. Nah,  setelah  ikan  itu  diambil  dan  dibeteti  (dibersihkan), dicuci  dan 
dimasukkan  plastik, kemudian  ditimbang berapa  berat  ikan  tersebut. Setelah  itu, kita 
langsung bayar. 
Kita  ambil  tempat  duduk. Dan, pelayan  langsung menanyakan, ikan  yang kita 
pilih itu mau dimasak apa? Tentu, terserah kita. Apakah ikan itu mau dibakar, digoreng
atau dibuat soup. Setelah itu, sambil menunggu ikan tersebut diolah, kita bisa pesan nasi 
dan minuman. Nah, tak lama kemudian, sajian ikan tersebut telah tersaji  di meja makan 
kita. Dan, tentu sudah siap kita santap. Jangan lupa, setelah kita selesai makan, kita mesti 
bayar lagi nasi dan minuman yang kita pesan tadi, serta cookingfee-nya.  
Ada sebab, mengapa banyak tamu yang tertarik pada restoran ini? Menurut saya, 
karena  restoran  ini  tidak  hanya  menjual  makanan, tapi  juga  menjual  atmosfer.
Manajemen  restoran  ini  mampu  berkomunikasi  dengan  baik  terhadap  setiap  tamu  yang 
datang. Sehingga, menjadikan restoran ini memiliki citra tersendiri.  
Tamu  yang banyak  datang di  Restoran  Club  The  Fish  Market  ini, seolah  tak 
mempedulikan  harganya. Bagi  mereka  yang terpenting, berada  di  restoran  itu  seperti 
sedang rekreasi. Saya  sempat  merenungkan  apa  yang saya  lihat  ini.  Apakah  tidak 
mungkin model restoran seperti ini berdiri Yogyakarta? 
Saya  yakin, jika  restoran  semacam  itu  muncul  di  kota  pariwisata  tersebut, tentu
sangat  tepat  dan  menarik. Hal  itu  mengingat  Yogyakarta  memiliki  banyak  potensi  laut, 
dengan berbagai jenis ikan dari Laut Selatan. Sehingga, tak mustahil hal ini bisa menjadi
peluang bisnis yang menarik bagi kita semua. Siapa mau mencoba? 


NO TIPPING, NO BAKPIA 
Bisnis  kita  akan  lebih  baik, kalau  kita  mau  menaruh  kepentingan  konsumen  di 
tempat pertama, dan menaruh kepentingan kita di tempat kedua. 
Soal  tipping atau  memberikan  tips  di  hotel  tentu  bukan  hal  baru  lagi. Telah 
membudaya. Apalagi, bila kita sebagai tamu hotel, pasti akan tahu dan harus tahu bahwa 
memberi  tips  itu  wajib. Kalau  tidak, maka  bell  boy yang semula  ramah  mengantar kita 
membawakan  barang ke  kamar  hotel, akan  tetap  berdiri  di  pintu  kamar. Apalagi,  kalau 
bukan menunggu tips dari kita. Setelah tips diberikan, dia baru pergi.  
Barangkali, kejadian  yang saya  alami  kali  ini  sebaliknya. Saat  saya  menginap  di 
Hotel  Marcopolo, di  Jalan  Cik  Ditiro, Jakarta  Pusat, semua  bell  boy maupun  karyawan 
bagian  lainnya  menolak  tips. Bahkan, ketika  saya  bawa  oleh-oleh  kue  khas  Yogya,
Bakpia, juga  ditolak  halus. “Maaf  Pak, kami  tidak  dapat  menerima  apapun  dari  tamu,” 
ujar mereka. Manajemen hotel ini rupanya melarang tamunya memberi tips dalam bentuk 
apapun. Bukan hanya no tipping, tapi juga no bakpia. 
Hal itu semakin membuat saya merasa enjoy bila menginap disana. Bahkan, saat 
ada  keperluan  bisnis  yang  harus  tinggal  lama  di  Jakarta, saya  memilih  tinggal  di 
Marcopolo  tiga  bulan  lamanya. Sehingga, saya  tidak  sempat  menghitung  sudah  berapa 
kali saya menginap di sana. Tapi yang jelas, saya pernah menginap pertama kali di Hotel 
Marcopolo sejak sepuluh tahun lalu. 
Hotel  yang accoupancy room-nya  rata-rata  90%  ini, sampai  kini  menjadi 
langganan saya, baik saat ada kepentingan bisnis  maupun keluarga di Jakarta. Larangan 
itu  tentu  ada  maksud. “Hotel  bagus  yang mampu  memberikan  pelayanan  terbaik  bagi 
setiap  tamu  yang  datang”,  inilah  motto  hotel  ini  yang  memang  sangat  cocok  buat 
keluarga, meski banyak  juga kalangan bussinesman merasakan nyamannya menginap di 
hotel  ini. Pokoknya  aman  dan  nyaman. Tak  ada  gangguan  atau  godaan  apapun  juga. 
Sehingga, setiap  tamu  yang menginap  di  sini  akan  selalu  enjoy. Dan, sang suami  yang
menginap di hotel ini membuat sang istri di rumah merasa lebih lega.  
Manajemen  hotel  ini  sengaja  memberikan  citra  tersendiri  pada  hotelnya  dan 
secara tidak langsung membentuk citra kharisma tersendiri yang dapat mempersuasi atau 
mempengaruhi  lingkungan  beserta  orang-orang yang terlibat  di  dalamnya. Maka  tak 
mengherankan, sikap  tegas  dan  disiplin  ditegakkan  di  hotel  ini. Bagi  karyawan  yang 
diketahui  terbukti  menerima  tips  akan  dikeluarkan. Ada  yang berpendapat, bahwa  sikap 
manajemen seperti ini terkesan arogan, defensif serta kaku. 
Namun  saya  rasa, sikap  itu  perlu  juga  untuk  citra  positif perusahaan. Hanya 
masalahnya, kalau  kondisi  ini  tidak  dipertahankan  justru  merupakan  bumerang. Sebab,
belum tentu semua tamu menanggapi positif secara cepat dan tepat akan masalah ini.  
Saya melihat, tampaknya menejemen Hotel Marcopolo mengacu juga pada salah 
satu jurus seperti yang ada dalam buku “Siasat Bisnis Rupert Murdoch”. Dalam buku itu 
disebutkan, bahwa selama kita berhati lunak, maka kita akan tetap menempati peringkat 
ke  dua. Lunak  hati  akan  menuntun  sebuah  perusahaan  pada  kesengsaraan. Maka  tak 
mengherankan, Marcopolo mengatur karyawannya dengan sikap tegas dan disiplin. Tidak 
ada konsep tengah baginya. Pilihannya hanya sedikit. Kinerja karyawan mau bagus atau dipecat! 
Selain  itu, ada  budaya  kerja  lain  yang saya  kagumi  di  hotel  ini, yakni:  Pertama, 
ciri  khas  pelayanannya.  Dimana  segala  fasilitas  yang disediakan  pada  kondisi  ready. 
Sehingga  kita  tak  diberi  kesempatan  complaint. Kedua, harga  bersaing mulai  dari  sewa 
kamar, restoran  dan  drugstore. Makan  pagi  (breakfast) di  dinning room  hanya  Rp 
11.000,-/pax, dan  untuk  makan  malam  (dinner)  kita  cukup  membayar Rp  l4.000,-/pax 
untuk  prasmanan  lengkap, harga  yang sulit  kita  temui  di  Jakarta. Drugstore-nya  yang
mirip mini market mungkin merupakan drugstore terbesar dan termurah di Jakarta.  

Saya  sempat  merenungkan  observasi  ini. Tibalah  pada  hipotesa  saya  yang 
mungkin dapat diakui atau diterima semua pihak, bahwa salah satu kunci sukses meraup 
banyak  tamu  adalah  karena  kejeliannya  menaruh  kepentingan  tamu  di  tempat  pertama 
dan menaruh kepentingan manajemen Marcopolo sendiri di tempat kedua. Artinya, tamu 
tidak  akan  termotivasi  menginap  di  sana  kalau  kepentingannya  diposisikan  di  tempat kedua. 
Sehingga tak mengherankan, semua energi karyawan Marcopolo dipusatkan pada 
kepentingan tamu. Mereka lebih mengutamakan  pelayanan tamu, sehingga tamu merasa 
seperti  tinggal  di  rumah  sendiri. Mereka  yakin  hal  itu  akan  membuat  citra  harum  bagi 
hotel berbintang dua tersebut.


Bisnis Mbah MO 
Tradisi  mentoring  merupakan  cara  yang  ampuh  untuk  alih  pengetahuan, alih 
ketrampilan, transfer budaya, dan etos kerja entrepreneur. 
Anda  penggemar  bakmi  godhog  (rebus) khas  Yogya?  Bila  ya,  pasti  pernah 
mencicipi  bakmi  godhog Mbah  Mo  di  Dusun  Code, tiga  kilometer arah  Timur Kota 
Bantul Yogyakarta, atau kurang lebih 15 kilometer arah Selatan Kota Yogya. 
Mbah Mo, nama panggilan Mbah Atmo, juga berfungsi sebagai “merek dagang” 
dari  jasa, produk, sekaligus  warungnya.  Ia  membuka  dagangannya  mulai  pukul  5  sore 
hingga  pukul  10  malam. Ingin  tahu  siapa  pelanggannya?  Sebagai  gambaran, 90% 
pelanggannya  datang dari  Yogyakarta, Magelang, Klaten, bahkan  Jakarta. Kebanyakan 
pelanggannya menggunakan kendaraan roda empat. 
Berbagai merek mobil dari yang mewah hingga mobil kuno, parkir berderet-deret 
di  depan  “outletnya”  silih  berganti. Saya  sempat  heran, siapa  dan  apa  yang  membuat 
mereka  tahu  ada  “bakmi  super  enak”  di  tengah  perkampungan  pedesaan  ini. Padahal 
untuk  menjangkau  tempat  ini, harus  dilalui  ruas  jalan  yang tidak  lebar dan  tidak  begitu bagus. 
Pada  sebuah  gang di  Dusun  Code  yang belum  beraspal  itu, semua  pelanggan 
datang untuk  mencoba  atau  membebaskan  “rasa  kangennya”  terhadap  bakmi  buatan 
Mbah Mo, yang menurut saya memiliki ciri khas yang tiada duanya. Ramuan Mbah Mo 
yang  spesial  bagaikan  koki  hotel  berbintang itu,  merupakan  jasa  sekaligus produk  yang
memiliki  kelebihan  dibanding produk  sejenis  (deferential  advantage). Hal  itu  masih
ditambah lagi dengan kemasan suasana (atmosphere) pedesaan yang “ngangeni”. 


Menurut  Mbah  Mo,  promosi  pun  tak  pernah  ia  lakukan. Saya  kira, proses  yang
terjadi  adalah  pemasaran  tradisional  dari  mulut  ke  mulut  (word  by mouth) alias  getok 
tular. tentunya  “kesadaran”  Mbah  Mo, bahwa  produk  yang berkualitas  adalah  kekuatan 
pemasarannya. Dan, karena  itulah  setiap  malamnya, Mbah  Mo  mengais  omset  dengan 
menghabiskan 10 kilogram mie, dan 10 ekor ayam. 
Bisnis Mbah Mo dirintis sejak 1986. Memang, bertahun-tahun sebelumnya, Mbah 
Mo pernah berjualan pecel dengan konsumen tetangga dan warga sekitar. Untuk terjun ke 
bisnis  barunya  ini, Mbah  Mo  harus  melakukan  magang atau  mentoring,  guna  menimba 
pengalaman membuat bakmi. Orang yang dijadikan mentor untuk membuat bakmi  yang 
lezat adalah kakak iparnya sendiri, yang juga berjualan bakmi dan tinggal di Yogyakarta.  
Pengalaman  Mbah  Mo  yang mendapat  mentoring dari  kakak  iparnya  ini,
mengingatkan  saya  pada  apa  yang dikatakan  Steven  R. Covey, bunyinya:  “Kalau  Anda 
memberikan  ikan  pada  seseorang, berarti  Anda  memberi  makan  sehari. Kalau  Anda
memberi pancing pada seseorang, berarti Anda memberi makan seumur hidup.” 
Pandangan  Covey ini  oleh  rekannya, Raymond  WY. Kao, dikembangkan 
menjadi: “seandainya Anda memberi pancing, kemudian mendidik cara memancing, dan 
sekaligus  menanamkan  tanggung  jawab moral, maka  Anda  berarti  ikut  membangun suatu negara.” 
Saya  melihat, ternyata  tradisi  mentoring merupakan  cara  ampuh  untuk  alih 
pengetahuan,  alih  keterampilan, sekaligus  transfer budaya, dan  etos  kerja  entrepreneur. 
Seperti  halnya  Mbah  Mo, tradisi  mentoring sebenarnya  dapat  dikembangkan  dalam 
masyarakat, bila  kita  ingin  melahirkan  lebih  banyak  lagi  wirausahawan  baru  dalam masyarakat.


Tak Suka Bisnis Besar 
Ketentraman hati ada kalanya lebih penting dari puda keuntungan bisnis. 
Anda  penggemar soto?  Kalau  ya,  pasti  Anda  telah  mengenal  atau  bahkan  telah 
menjadi pelanggan tetap Soto Kadipiro, yang terletak di jalan Wates Yogyakarta itu. Di 
restoran yang didirikan 1921 oleh Pak Karto Wijoyo (alm), dan sejak 1975 dikelola putra 
sulungnya, Pak Widadi (60 thn) sampai sekarang ini, secara terbuka memaparkan tulisan 
besar pada sebuah papan yang dipasang di restoran tersebut. Isinya, “Tidak Buka Cabang 
di Jakarta dan di kota lainnya”. 


Menurutnya, ia sengaja tak buka cabang di kota lainnya, meski banyak pihak yang 
menawarinya  kerjasama.  Hal  itu, katanya, ia  ingin  hidup  tenteram  dengan  bisnisnya sekarang. 
Selain  itu, ingin  tetap  memegang teguh  nasehat  orangtuanya, yaitu  untuk  selalu
hidup  sederhana, ulet, sabar, jujur dalam  bisnis,  dan  nrimo  dengan  apa  yang di  dapat 
sekarang.  Maka  tak  mengherankan, filosofinya  berbunyi, “Kamulyaning  urip  iku,
dumunung ono tentreme ati.” Artinya, sesungguhnya kebahagiaan orang hidup itu hanya 
pada ketenteraman hati. 
Saya  kira, tak  sedikit  pengusaha  atau  entrepreneur kita  yang justru  lebih  senang 
bisnisnya tidak terlalu besar, seperti pak Widadi dengan Soto Kadipiro-nya. Artinya, dia 
sama  sekali  tak  suka  kalau  bisnisnya  jadi  besar. Karena,  dia  merasa  bisa  menikmati
asyiknya berbisnis dan merasa tentram. Dan, sebenarnya masih banyak contoh pengusaha 
kita lainnya yang seperti itu. 
Contoh  ini  justru  menarik  bagi  saya. Dan, setelah  saya  kaji  lebih  jauh, ternyata 
sikap  mereka  tak  suka  bisnis  besar, karena  Pertama, mereka  masih  ada  perasaan  takut 
kehilangan suasana kekeluargaan. 
Jadi, mereka  itu  sudah  terlanjur kental  dengan  suasana  kekeluargaan  seperti  itu,
apalagi  di  awal-awal  tahun  pengembangan  bisnisnya.  Dimana,  dia  tahu  potensi  setiap 
karyawannya. Bisa  bekerja  langsung dengan  mereka, dan  bahkan  bisa  mengatur 
operasional  kegiatan  bisnisnya. Sebab, jika  bisnisnya  berkembang besar,  tentu  suasana 
seperti  itu  akan  berubah.  Dia  tak  lagi  bisa  langsung bekerja  dengan  karyawannya. Dan, 
tentu saja hal ini akan menyulitkannya untuk mempertahankan suasana kekeluargaan. 
Kedua, mereka  lebih  senang dengan  posisinya  sekarang. Bisa  tetap  memegang
kendali  bisnisnya  dan  tanpa  adanya  delegasi. Ketiga, karena  mereka  lebih  senang pada 
upaya  pemberdayaan  sumber daya  manusianya  atau  karyawannya, dan  bukan  pada kontrol. 
Tipe  pengusaha  seperti  ini  biasanya  visinya  sederhana. Dan, misinya  lebih  pada 
aspek kekeluargaan. Sebab, baginya aspek kesejahteraan yang diinginkannya, dan hal itu 
bisa  diraihnya  tanpa  harus  lebih  dulu  menunggu  bisnisnya  besar. Sehingga, tidak
mengherankan  sosok  pengusaha  seperti  ini  lebih  condong suka  memelihara  pasar lama, 
yang diajadikan sebagai bagian dari sifat kekeluargaan. 
Oleh karena itulah, agar bisnisnya tetap seperti sekarang, mereka biasanya tak ada 
keinginan  membuka  cabang  di  luar kota,  seperti  Soto  Kadipiro  tersebut. Dengan  begitu 
otomatis mengurangi pelanggannya, dan jam operasionalnya. Soto Kadipiro hanya buka 
pukul 08.00 sampai 14.00 WIB. 
Rupanya  orang  seperti  Pak  Widadi  termasuk  orang yang percaya  pada  Craig  J.
Cantoni, seorang pakar entrepreneur yang berpendapat, bahwa “Bisnis besar hanya akan 
mengurung  kita  dalam  kotak-kotak  organisasi  sempit  dan  hanya  menyisakan  sedikit 
ruang untuk kita bisa berkreasi dan meraih kesenangan.”


Berkembang Dengan Franchise 
Pilihan tepat mengembangkan bisnis masa depan adalah model franchise. Sebab,
bisnis franchise tak hanya menguntungkan pemilik merek saja, tapi juga menguntungkan 
pengguna merek. 
Baru saja saya membuka cabang Primagama dengan sistem franchise di tiga kota,
yaitu Pekanbaru, Sampit Kalimantan Tengah, dan Tangerang. Sebelumnya, cabang yang
ada selama ini kami buka dengan dikelola sendiri. Sistem ini, saya kira sangat tepat untuk
kita  kembangkan.  Di  saat  ekonomi  mulai membaik, usaha  kita  bisa  tetap  berkembang 
meski  tidak  dengan  menyiapkan  dana  sendiri. Justru  dengan  sistem  franchise, kita  akan 
mendapatkan dana awal dan royalti. 
Franchise adalah pemberian hak pada seseorang dalam penggunaan merek, untuk
menjalankan  usaha  dalam  kurun  waktu  tertentu.  Sistem  ini  lebih  menguntungkan  untuk 
mengembangkan  usaha  kita  dibanding cara  yang lainnya. Oleh  karena, ketika  kita 
menggunakan  sistem  franchise  terhadap  usaha  kita, maka  jelas  orang lain  membayar
merek dan royalti tiap bulannya pada kita. Biayanya lebih rendah dari pada cara lainnya, 
dan kita tak perlu mengalokasikan uang atau modal untuk tempat usaha dan yang lainnya. 
Selain, tak  perlu  merogoh  kocek  untuk  investasi  lagi, ternyata  keuntungan  yang 
bisa dipetik oleh kita sebagai pemilik merek dari cara berekspansi model ini, cukup besar.
Bahkan, kerap  kali  usaha  yang dikelola  dengan  cara  ini  lebih  maju  ketimbang kita 
membuka  cabang sendiri. Ternyata  sistem  ini, juga  lebih  mudah  segera  menciptakan 
lapangan  kerja.  Jika  kita  tahu  manfaat  sistem  ini, mengapa  kita  tidak  berani 
mengembangkan sistem franchise dalam bisnis kita agar bisa lebih berkembang?  
Menurut saya, bisnis franchise cukup menjanjikan. Maka, sebelum kita membuat 
sistem  ini, kita  harus  jeli  dan  hati-hati  dalam  menentukan  pewaralabanya. Dapatkah  dia 
atau  pewaralaba  menjalankan  usaha  yang kita  jalankan?  Dapatkah  dia  memperoleh 
keuntungan menjalankan usaha kita? Begitu juga lokasi waralaba pun perlu kita cermati.
Dapatkah usaha kita sukses di daerah tersebut? Apakah usaha kita menarik orang lain? 

Sebagai  seorang entrepreneur, saya  sendiri  melihat  sebenarnya  begitu  banyak 
produk  lokal  yang bisa  dikembangkan  dengan  sistem  franchise. Menurut  hasil 
pemantauan Asosiasi Waralaba Indonesia, kini tak kurang dari 292 perusahaan lokal yang 
menyelenggarakan waralaba. 
Saya kira, upaya itu positif. Bahkan, saya punya keyakinan bahwa bisnis waralaba 
merek lokal akan jauh lebih berkembang, karena sebenarnya begiru besar potensi merek 
lokal. Misalnya di Yogya: Soto Pak Sholeh, Soto Kadipiro, Sate Samirono, Ayam Goreng
Ny. Suharti, Bakmi  Mbah  Mo, Bakmi  Kadin, SGPC, dan  Bakpia  Patuk. Sebenarnya, 
masih  banyak  produk  merek  lokal  lain  yang  tidak  harus  berwujud  makanan, yang
ternyata sangat memungkinkan juga untuk masuk ke bisnis waralaba. 
Jika  merek  lokal  tersebut  masuk  bisnis  waralaba, maka  tak  mustahil, tak  hanya 
menjadi  produk  nasional, tapi  juga  produk  global. Hanya  saja, kita  belum  mencobanya. 
Untuk membantu mengembangkan sistem ini, memang perlu ada semacam lembaga yang 
mengembangkan  atau  menyiapkan  sistem  franchise  mulai  dari  persiapan  awal  sampai 
jadi. Kita bisa sebagai konsultannya atau lembaga yang mengantarkan franchise. 
Ini sebenarnya merupakan peluang bisnis yang menarik kita kembangkan. Hanya 
saja, hal  itu  perlu  diikuti  dengan  membuat  Standard  Operating Procedure  (SOP),
Guaranteed  income  level, Complete  Training &  Continued  Support, dan  lainnya  yang 
merupakan  rangkaian  dari  proses  franchise  itu  sendiri. Tentu  saja,  produk  yang
diwaralabakan  itu  harus  merupakan  produk  yang disukai  atau  dibutuhkan  oleh  pasar. 
Cara mengembangkan bisnis dengan melibatkan nama besar sekaligus penularan trik-trik 
dagang dalam  memperoleh  keuntungan  itu, sekarang memang telah  ada. Seperti 
misalnya, merek  lokal  Es  Teler 77,  Mie  Tek-Tek, dan  Ayam  Goreng Mbok  Berek  Ny.
Umi. Sementara,  McDonald’s, Pizza  Hut, Kentucky Fried  Chicken  (KFC), dan  English 
First yang merupakan waralaba asing justru telah mendahului dari pada merek lokal, dan 
ternyata produk itu memikat pasar. 
Bisnis  franchise  ini  sebenarnya  tak  hanya  menguntungkan  pemilik  merek  saja,
tapi  bagi  yang menggunakan  merek  tersebut  juga  memetik  untung  cukup  besar.
Walaupun, untuk  membeli  merek  tersebut, dia  mesti  merogoh  kocek  yang tidak  sedikit,
kendati tidak semahal fee franchise asing. Baik itu, untuk membayar fee franchise, sarana 
pendukung plus pelatihan atau training bagi karyawan. 
Saya yakin, dana yang dikeluarkan pembeli merek itu akan cepat kembali. Sebab 
dalam  sistem  ini, semuanya  telah  ada  hitungannya  secara  rasional. Oleh  karena  itulah, 
jika  Anda  ingin  mengembangkan  bisnis  ke  depan, maka  cara  yang paling cepat  dan 
menguntungkan adalah model franchise.


Belajar Dari Bank Mega 
Menggali  sumur  ada  baiknya  di  saat  musim  kemarau, dan  bukan  di  musim penghujan. 
Terus  terang, saya  acung jempol  buat  Bank  Mega,  yang ternyata  saat  ini  tetap 
eksis, meski  di  saat  krisis  ekonomi  sekalipun. Setahu  saya, memang pergantian 
manajemen  yang terjadi  sejak  1996  lalu, terbukti  telah  meningkatkan  kinerja  bank  itu.
Setidaknya, ini  terlihat  dari  perjalanan  bisnisnya  yang berhasil  meraih  prestasi  demi
prestasi, baik dalam skala nasional, regional, maupun internasional. 
Prestasi  pertama  yang diraih  Bank  Mega  adalah  keberhasilannya  mendapatkan 
peringkat  pelayanan  terbaik  di  antara  34  bank  (pemerintah, swasta, dan  asing).
Keberhasilan  ini  sekaligus  mengawali  pencanangan  tahun  1999  sebagai  “Tahun  Service 
Excellence”. Selaras  dengan  itu, kualitas  pelayanan  terus  dikembangkan  dari  waktu  ke 
waktu, berdasarkan kebutuhan nasabah. 
Mengagumkan  sekali  bahwa  di  dalam  mengantisipasi  kondisi pasar yang  segera 
mengglobal, ternyata  bank  ini  dengan  langkah  pasti  dan  meyakinkan,  berhasil  juga 
meraih  prestasi  berskala  intenasional. Dimana  oleh  SGS  Yarsley International 
Certification  Services  Ltd, United  Kingdom,  bank  ini  dinyatakan  layak  menerima 
Sertifikat ISO 9002. 
Dengan  keberhasilannya  ini, maka  nasabah  akan  memperoleh  standar pelayanan 
yang  sama  (cepat, lancar, dan  tanpa  masalah)  pada  semua  outlet  Bank  Mega  di  seluruh 
kantor cabangnya.  Sehingga  di  tahun  2000  ini, tak  mengherankan,  kalau  lantas 
manajemennya menerapkan sebagai “Tahun Operational Excellence”. 
Kini, pada  tahun  2000,  bank  ini  juga  merencanakan  buka  cabang baru  yang 
semula  jumlahnya  hanya  31  akan  berkembang  menjadi  90  cabang. Tahun  2001  akan 
dikembangkan  lagi  menjadi  140  cabang. Bahkan, saya  dengar pada  bulan  Maret  tahun 
2000  lalu  Bank  Mega  melakukan  go  public. Memang   konsekuensinya, strategi 
pengembangan  pelayanan  yang dijalankannya  harus  memenuhi  standar-standar yang 
diakui secara umum, dan diterima masyarakat. Karena, bagaimana pun juga setiap gerak 
kinerjanya pasti akan terus diamati dan dievaluasi publik. 
Menarik  untuk  kita  amati  adalah, Bank  Mega  justru  berhasil  dikembangkan  di 
saat  krisis  ekonomi. Hal  itu, mengingatkan  saya, pada  orang yang menggali  atau 
membuat  sumur pada  saat  musim  kemarau. Dimana, saat  menggali  sumur pada  saat 
musim  kemarau  itu, agar bisa  meraih  kedalaman  tertentu  sampai  air itu  mengalir,
tentunya membutuhkan tenaga atau kerja keras yang tinggi. 
Nah, saya  melihat, ternyata  Bank  Mega  itu  begitu  piawai  di  dalam  menggali 
“sumur”. Yakni, menggalinya  di  saat  musim  kemarau  tiba, atau  di  saat  krisis  ekonomi 
terjadi. Sehingga, begitu  musim  penghujan  tiba,  air sumur yang mengalir  pun  semakin 
deras. Itu  terbukti  dengan  pertumbuhan  Bank  Mega  sebagai  retail  banking tergolong 
pesat. Bahkan, kini  Bank  Mega  yang terlihat  tetap  eksis, tampak  terus  tumbuh, dan
malahan bertekad menjadi salah satu dari 10 bank terbaik. 
Sedangkan, soal  banyaknya  bank-bank  lain  yang  bermasalah, dan  banyak  tutup,
itu karena memang dulunya mereka suka berlomba-lomba menggali sumur justru di saat 
musim  penghujan. Akibatya, ketika  musim  kemarau  tiba  atau  muncul  krisis  ekonomi,
yang terjadi adalah: mereka “kehabisan air”. Akhirnya, bangkrut atau tutup. 
Karena  itu, saya  kira  wajar dan  tidak  ada  salahnya  bagi  kita  yang berkeinginan 
meraih  sukses  bisnis, bisa  saja  belajar dari  apa-apa  yang terbaik  dari  Bank  Mega. 
Misalnya, jika kita ingin menggali sumur, ada baiknya dilakukan di saat musim kemarau. 
Bukan sebaliknya, di lakukan di musim penghujan. 
Begitu  pula  halnya, sekalipun  terjadi  krisis  ekonomi, jangan  jadikan  hal  itu
sebagai  alasan  bagi  kita  untuk  tidak  memulai  bisnis, dan  jangan  pula  membuat  kita 
berhenti  mengembangkan  usaha. Keraguan  atau  ketakutan  itu  justru  harus  kita  buang 
jauh-jauh. Maka, kita janganlah setengah-setengah di dalam mengembangkan usaha yang 
kita geluti sekarang ini.


“Tukang Jahit” Ala Tanzia 
Pasar dulu kita ciptakan, baru pabrik kita bangun. 
Pernah  suatu  kali  saya  diajak  seorang peserta  “Entepreneur University “, ke 
Jakarta. Tujuan  kita  ingin  melihat  bagaimana  perusahaan  Tensia  Manufacturing yang 
terletak di kawasan Cibubur, Jakarta, dalam menjalankan bisnisnya. 
Apa  yang saya  lihat  sungguh  di  luar dugaan. Bukan  karena  yang saya  lihat 
perusahaan yang cukup besar, tapi yang membuat saya kagum adalah kegiatan bisnisnya, 
yaitu  membuatkan  produk  consumer good  atau  home  care  bermacam-macam  merek. 
Perusahaan  itu  menjalankan  bisnisnya  dengan  membuatkan  produk  atau  barang-barang 
kebutuhan rumah tangga, seperti: shampo, pembersih lantai, pembasmi serangga, parfum, 
sabun  mandi, dan  lain-lain. Mereknya  pun  berbagai  macam, ada  merek  impor, ada  pula 
yang lokal, yang iklannya sering kita jumpai di media massa. 
Saya  jadi  tahu, ternyata  perusahaan  ini  bekerja  seperti  layaknya  “tukang  jahit”. 
Dimana  perusahaan  lain  bisa  meminta  Tensia  untuk  membuatkan  produk  yang mereka 
inginkan. Ini  memberi  keuntungan, bahwa  apabila  kita  ingin  memasarkan  suatu  produk 
tertentu, kita tidak mesti harus membuat sendiri, tapi dapat memesan melalui perusahaan 
semacam Tensia tersebut. Hanya saja, kita tidak semudah itu pesan padanya. Tentu saja,
itu karena ada persyaratannya, yaitu antara lain: tidak boleh memalsu produk orang lain,
dan ada batas minimal order. 
Menurut saya, kita sebagai seorang entrepreneur sebetulnya bisa membuka bisnis
dengan  cara  “menjahitkan”  seperti  ala  Tensia  itu. Asal  saja  kita  punya  ide  bisnis, saya 
kira  ide  bisnis  apapun,  misalnya  kita  ingin  membuat  produk  tertentu, maka  kita  tidak 
harus punya pabrik terlebih dulu. Kita bisa “menjahitkan” pada perusahaan semacam ini,
yang saya  kira  ada  beberapa  perusahaan  yang juga  bergerak  di  bidang yang sama. 
Perusahaan tersebut memang hanya membuatkan produk yang kita pesan, dan tidak ikut
memasarkan  supaya  netral. Karena  bisa  saja  dia  membuat  produk  yang sama, tetapi 
merek  berbeda, sehingga  persaingan  itu  terjadi  di  pasar. Kalau  kita  tak  punya  gudang 
pun, perusahaan itu bisa menyiapkan gudangnya. Sedangkan distribusinya, dia bisa juga
mencarikannya. 
Saya  pikir mereka  cukup  kreatif. Tensia  menciptakan  peluang bisnis  yang kita 
garap. Artinya, tanpa  kita  punya  pabrik  sendiri, kita  bisa  pesan  untuk  dibuatkan  produk 
tertentu, seperti  yang  kita  inginkan. Hanya  saja, kita  memang  harus  berani 
memasarkannya. Setelah  pasar berkembang, kita  bisa  buat  sendiri. Sebab, tanpa  punya 
pasar, tentu apapun jenis produk yang kita “Jahitkan”, kalau tidak laku, kita akan rugi.  
Pendeknya, pasar dulu  yang kita ciptakan, setelah pasar berkembang baru pabrik 
kita bangun. Dengan demikian, kita bisa saja memulai usaha sekalipun tak punya pabrik 
sendiri. Ide  bisnislah  yang menjadi  sangat  penting untuk  kita  miliki. Artinya, begitu  ide 
bisnis  muncul, kita  “menjahitkan”  pada  pihak  lain, dan  setelah  itu  kita  pasarkan.  Anda 
berani mencoba?


Nyontek bisnis sah-sah saja 
Nyontek itu kreatif. Nyontek dalam bisnis itu sah-sah saja. 
APA  boleh  kita  menyontek  bisnis  atau  kesuksesan  pengusaha  lain?  Saya  kira 
dalam dunia usaha, itu sah-sah saja. Apalagi bagi kita yang baru belajar memulai usaha.


Saya sendiri ketika pertama kali buka usaha sewaktu mahasiswa dulu, saya juga bingung 
mau usaha apa. Saya lihat, Sky Mulyono suskes besar buka bimbingan belajar di Jakarta.
Saya pikir, kenapa saya tidak buka bimbingan belajar di Yogya. 
Waktu itu, saya belum punya pengalaman bisnis. Pokoknya saya buka saja. Saya 
tidak pernah menghitung-hitung, apakah bisnis itu fisible atau tidak. Karena saya  yakin, 
kalau usaha Sky Mulyono bisa sukses, maka saya pun juga bisa sukses. Pendeknya, saya 
memberanikan  buka  usaha  bimbingan  belajar itu, baru  hitungan  bisnisnya  menyusul. 
Bukan  sebaliknya, kita  banyak  hitungan  bisnis, tapi  akhirnya  usaha  tak  pernah  muncul-
muncul, dan  hanya  sekedar  ide. Akhirnya, saya  buka  bimbingan  belajar Primagama.
Begitu juga, ketika saya buka restoran padang prima Raja, saya juga meniru kesuksesan 
restoran Padang Sari Ratu di Jakarta. 
Ini  beda  dengan  tradisi  sistem  pendidikan  kita  di  sekolah. Jadi  yang namanya 
nyontek dilarang keras. Padahal, menurut saya, orang nyontek itu kreatif. Nyontek dalam 
bisnis  itu sah-sah  saja. Maka  Bambang Rahmadi  nyontek  membuka  Mc  Donald-nya 
lewat  franchise  bisa  sukses. Begitu  juga, pengusaha  Pizza  Hut, Kentuky Fried  Chicken, 
dan masih banyak usaha lainnya 
Usaha mereka, kini jadi besar, juga bukan karena modal besar. Sebaliknya mereka 
sukses dari modal kecil. Memang tak sedikit tantangan atau kegagalan yang dialaminya.
Tapi, semuanya dilalui dengan sabar karena mereka ingin meraih sukses dalam usahanya. 
Saya  yakin, kita  pun  juga  bisa  demikian. Kalau  orang lain  maju  usahanya, kita 
semestinya  harus  maju  pula. Oleh  karena  itu  menurut  saya,  “Kita  tak  usah  khawatir 
dengan resiko bisnis kalaupun itu muncul. Hadapilah dengan sabar dan penuh percaya 
diri. Kita harus yakin pada usaha kita . 
Memang benar apa yang pernah dikatakan Peter F. Drucker, bahwa, “Sebenarnya 
setiap  orang dapat  belajar jadi  entrepreneur sukses. Sebab  untuk  jadi  entrepreneur tidak 
ada  yang misterius. “Buktinya  coba  kalau  kita  jeli, sebenarnya  peluang bisnis  di  depan
mata  kita, yang kita  jalakan. Namun, memang akhirnya  kembali  pada  kita, “Beranikah 
kita untuk mencoba peluang tersebut?”


Nah Sekarang saatnya beraksi 
BELI RUMAH GAK PAKAI DUIT MALAH DAPAT DUIT


Ini sungguh-sungguh kisah nyata! 
Seorang rekan  saya  di  Lampung membeli  sebuah  ruko  tanpa  uang dan malah dapat uang. 
Ia membeli ruko seharga 450 juta tanpa uang malah dapat uang tunai sekitar 150 
juta, ia dapat ruko dan sekaligus dapat uang tunai.. 
Rekan  saya  di  Bandung  membeli  rumah  seharga  1  miliar langsung mendapat 
keuntungan 250 juta padahal membelinya tanpa uang. 
Di  semarang juga  ada, di  Surabaya  juga  ada, dimanamana  ada  beberapa  orang 
yang  sudah  tahu  rahasia  ini, bisa  membeli  rumah  tanpa  uang sepeserpun, gak  harus bayar! 
Gimana caranya? 
Cepetan dong ajarin! 
Oke, inilah caranya: 
Kita  kupas  lebih  dalam  kasus  kawan  saya  yang  dari  lampung yang  saya  sebut 
diatas tadi dalam membeli ruko tanpa uang malah dapat uang 
Ia  seorang karyawan  swasta, sampai  saya  mengetik  ini  pun  ia  masih  seorang 
karyawan, tapi bisnisnya yang dijalankan oleh orang lain sekarang menghasilkan miliaran rupiah perbulannya. 
Ada sebuah ruko yang mau di jual oleh pemiliknya, harganya 450 juta Kemudian
ia  datangi  bank, ajukan  kpr (kredit  kepemilikan  rumah/ruko) Bank  taksir nilai  ruko
tersebut sekitar 750 juta dan bank memberi pinjaman kepada rekan saya sebesar 600 juta 
sehingga  uang yang ia  terima  dari  bank, untuk  membayar ruko  tersebut  masih  sisa  150 
juta, angka ini di dapat dari 600 juta di kurangi 450 juta  
Dahsyatnya lagi  rekan saya  gak perlu membayar cicilan bulanannya, karena dari 
penghasilan  usaha  yang ada  di  ruko  tersebut  (warnet) perbulannya  cukup  untuk  Singkat 
cerita, kawan  saya  ini  gak  perlu  ngangsur tiap  bulannya  dari  uang kantongnya  sendiri, 
karena rumah itu bisa ngangsur sendiri, juga usaha yang ada dirumah itu.  
Malah  perbulannya  ia  masih  mendapat  cukup  keuntungan  dari  rumah  dan  usaha
yang ada ditempat itu. 
Saya masih banyak sekali cerita tentang orang-orang  yang membeli rumah tanpa 
uang dapat  uang  mulai  dari  rumah  yang  harga  ratusan  juta  sampai  puluhan  miliar, tapi 
gak  akan  ada  gunanya  kalau  sekedar menceritakan  orang, karena  intinya  atau  ilmunya sama saja. 
Ayo, sekarang giliran anda! 
Saya  akan  menunjukan  langkah  demi  langkah  yang harus  anda  lalui  sehingga 
anda  bisa  membeli  rumah  tanpa  uang  malah  dapat  uang  dan  tak  perlu  mengangsur bulanan. 
Anda  yang karyawan  tentunya  berbeda  dengan  anda  yang pengusaha  tentunya, 
juga  beda  dengan  kaum  professional. Langkah  pertama  adalah  anda  membuat  pondasi
yang kuat untuk menjalin hubungan dengan bank, dan ikut aturan bank 
Bank  tidak  akan  memberikan  pinjaman  kepada  sembarang orang, apalagi pengusaha pemula. 
Di sini kita temui hal unik, di satu sisi pengusaha pemula memerlukan pinjaman 
untuk  usahanya  dan  kepentingan  lain, disisi  lain  bank  tidak  akan  memberikan  pinjaman 
kepada  pengusaha  pemula, bank  biasanya  akan  memberikan  pinjaman  untuk 
pengembangan usaha kepada pengusaha  yang usahanya sudah berjalan dengan baik tapi 
tenang saja,  saya  akan  ajari  siasat  kepada  anda  sehingga  siapapun  anda, karyawan,
pengusaha pemula, professional dan pengusaha sukses pun bisa mendapat pinjaman dari 
bank.Karena  bank  sifatnya  administratif, maka  kita  perlu  menyiasatinya  dengan 
administratif  pula.Salah  satu  senjata  utama  atau  terpenting kalau  mau berhubungan 
dengan bank adalah: 
Rekening Koran atau tabungan 
Inilah  kekuatan  utama  yang  harus  anda  miliki  jika  berhubungan  dengan  bank. 
Anda boleh mengaku pengusaha dengan omzet ratusan juta atau miliaran, tetapi jika anda 
tidak  memiliki  aliran  rekening yang bagus, bank  tidak  akan  percaya  anda  seorang pengusaha. 
Sebaliknya  jika  anda  punya  rekening yang  aktif/bagus, walaupun  anda 
pengangguran bank akan mengira anda pengusaha atau orang yang aktif bisnis sehingga 
tidak menutup kemungkinan bank malah yang akan menawari anda pinjaman. 


Tapi saya tidak punya uang untuk membuat rekening saya bagus atau aktif? 
Tenang saja, saya akan tunjukan jalan sekalipun anda tidak  cukup uang untuk membuat 
rekening anda bagus, nih ceritanya: 
Cerita pertama 
Rekan  saya  si  a  dan  si  b  bekerja  sama  dalam  membuat  rekening  yang  bagus, 
caranya tiap hari ia  ganti-gantian transfer, a transfer ke b, besoknya b transfer ke a, dan 
demikian  seterusnya, kadang di  tarik  tunai,  di  masukan  bank  lagi,  dan  demikian 
seterusnya selama tiga bulan, kalau ada uang lebih ditambahkan, pokoknya si a dan si b 
setiap  ada  uang seberapapun  selalu  dimasukan  ke  bank  walaupun  sejam  kemudian 
mereka  perlu  uang tersebut  mereka  tinggal  tarik  tunai  di  atm. Percaya  atau  tidak  si  a 
dengan modal rekening tabungan hasil kerja sama dengan si b, si a sekarang dalam waktu 
3  tahun  nilai  kekayaannya  sudah  melebihi  10  miliar, ia  menjalin  hubungan  baik  dengan 
bank dengan cara seperti itu awalnya. 
Ini cerita ke 2 
Si  C  hanya  punya  uang 5  juta, tapi  dengan  modal  yang hanya  5  juta  ia  tabung, 
tarik, tabung, tarik ia bisa mendapatkan pinjaman hampir 600 juta. Dahsyat!  
Ia  lebih  luarbiasa, bahkan  mungkin  mukanya  tebal  sekali. Setelah  setor, ia  tarik 
berkali-kali, sejuta, 500ribu, dan  lain-lain, kemudian  ia  kumpulkan  dan  setor lagi  ke 
bank, ia melakukan hal ini setiap hari, demi membuat rekening bank yang bagus  
Gila! Memang kayaknya orang ini gila, hehehehehehhe, tapi ia berhasil mendapat 
pinjaman dari bank karena aktifitasnya yang seperti itu demi membuat rekening tabungan 
yang bagus dan aktif. Intinya bagaimanapun caranya anda harus membuat rekening anda 
bagus  minimal  selama  3  bulan, karena  pada  umumnya  bank  meminta  copy rekening
selama 3 bulan terakhir. 
Jadi bukalah rekening tabungan atau rekening Koran segera Kemudian kalau anda 
punya  uang ya, di  buat  aktif, jika  anda  tidak  punya  uang yang bisa  menyiasatinya  kerja 
sama  dengan  kawan  yang  lain, kalau  perlu  juga  jangan  malu  malu  untuk  mencontoh 
orang-orang yang saya ceritakan diatas. Tenang saja, bank gak akan nanya kok, jika anda 
mencontoh si a, b , c dalam cerita di atas. 
Sekarang apa lagi yang anda perlu lakukan? 
Buat npwp pribadi 
Datang  saja  kekantor pajak, bilang buat  npwp,  bawa  fotokopy ktp  dan  surat
keterangan  domisili  dari  kelurahan  atau  kantor desa  anda, sehari  juga  jadi. Buat  npwp gratis 
Kenapa perlu npwp? 
Setiap pinjaman diatas 50 juta wajib mencantumkan 
Npwp. Kalau  anda pengusaha, segera buat legalitas usaha anda. Baik usaha perorangan, 
firma, yayasan, cv ataupun pt segera daftarkan perusahaan anda. 
Buat  situ, siup, tdp  dan  npwp  perusahaan  dan  akte  pendirian  usaha.  Jadi  segera 
datang langsung ke notaris atau lewat biro jasa atau ngurus sendiri 
Nah sekarang anda siap tempur! 
Kalau  anda  sudah  melengkapi  segala  yang saya  sebut  diatas, oh  iya  kalau  anda 
karyawan perlu fotokopy slip gaji terakhir biasanya dan surat keterangan kerja dari atasan 
anda, saatnya anda membuktikan ilmu beli rumah gak pakai duit, malah  dapat duit, dan 
lebih hebat lagi gak perlu ngangsur. 
Sekarang carilah  rumah  akan  di  jual. Temui  pemiliknya  dan  tawar. Tunggu,
tunggu, saya kan gak punya uang, belum punya uang..mungkin ada berkata begitu. Saya 
jawab, nawar itu gak pakai uang..nawar itu gratis 
Tanyakan sertifikatnya, cek apakah hak milik, hak guna banguan atau  yang lain-
lain, bank  nantinya  mau  yang hak  milik  atau  hgb, Tanya  kelengkapan  lain-lainya,  imb,pbb terakhir. 
Jadi tawarlah dengan percaya diri, sekali lagi percaya diri! Kalau sudah oke harga,
mintalah fotokopy sertifikat rumahnya. Minta juga surat penawaran jualnya. 
Datang ke bank, dan bawa copy sertifikatnya dan mengajukan pinjaman ke bank 
Datangi  bank  dengan  percaya  diri  dan  gagah  perkasa, jangan  minder atau  malu atau takut.. 
Pandanglah  bank  sebagai  toko  kecil  dan  anda  akan  membeli  produknya, yaitu 
utang Hehehehehehehhe, gila? Ya memang harus gila kalau mau kaya, gila  yang positif
lho, yaitu percaya diri tinggi. Lagi pula kalau tidak ada yang meminjam, bank tidak akan 
jalan operasionalnya, jadi anda adalah orang mulia, kalau anda pinjam ke bank, dari uang
pinjaman  anda  akhirnya  karyawan  bank  bisa  mendapatkan  gaji  untuk  makan  dan kebutuhan sehari-hari. 
Jadi percaya dirilah! 
Untuk sukses beli rumah tanpa uang anda malah dapat uang anda harus menaikan 
kredit pinjaman anda, misalnya anda akan membeli rumah dengan harga 100 juta, harga 
yang telah  disepakati  dengan  penjual, anda  bisa  mengajukan  pinjaman  kepada  bank 
misalnya 150 juta , nah nantinya bank pun akan memberikan sekitar 80% dari permintaan 
anda, kalau anda minta  150 juta kalau bank setuju kira-kira ia akan memberikan sekitar
120 juta (biasanya pembeli dan penjual perlu kong kalikong/kerja sama dulu..sampaikan 
saja  uangnya  uang  bank, jadi  minta  pengertian  dia.lagi  pula  anda  bisa  bilang uang 
lebihnya mau buat renovasi dan lain-lain. 
Jadi  anda  masih  untung 20  juta, anda  dapat  pinjaman  120  juta  sedangkan  harga 
rumah  100  juta.tentunya  tidak  20  juta  bersih, karena  nanti  anda  akan  dikenakan  biaya 
macam-macam, ada asuransi, notaris, uang jajan pegawai bank yang ngurus dan lain -lain. 
Jadi anda kalau ceritanya seperti ini sudah beli rumah gak pakai uang malah dapat uang 
Nah kalau misalnya anda meminjam 120 juta selama 20 tahun maka cicilan anda 
perbulan {misalnya bunga 14% 
Efektif} maka cicilan perbulannya sekitar: 1,5 jutaan.  
Nah kalau anda mau ringan atau tidak membayar cicilan rumah ini dengan uang 
anda, anda bisa gunakan uang yang 20 juta sisanya untuk usaha, sehingga menghasilkan 
keuntungan yang syukur-syukur lebih untuk cicilan bulanannya, dan lain-lain caranya. 
Kalau  ceritanya  seperti  ini  anda  sudah  memakai  ilmu  membeli  rumah  gak  pakai 
duit, dapat duit dan gak perlu nyicil, karena yang nyicil usaha anda! 
Tapi tentunya mungkin bagi beberapa orang tidak 
sesingkat  ini  ceritanya. Ada  rekan  saya  yang langsung berhasil, ada  yang 3  bank  ia 
datangi baru berhasil ada pula  yang sekitar 8 bank ia datangi dan akhirnya kembali lagi 
ke bank pertama dan akhirnya mendapatkan pinjaman di bank pertama, luar biasa! 
Semoga anda di bank pertama langsung di terima! Lagi pula mereka yang di tolak
berkali-kali karena senjatanya tidak lengkap! 
Jadi lakukanlah! 
Sekarang kita  bahas  permasalahan-permasalahan  yang timbul  biasanya  dari 
mempraktekan ilmu ini, yaitu: 
*   Bank biasanya minta bukti pembayaran dp. Beberapa orang yang memakai ilmu ini:
membuat dp fiktif, kerja sama dengan penjual  
*   Kadangkala  ketika  bank  membayar lebih  ke  anda, ada  penjual  yang minta  uang lagi 
kepada  anda  ya anda bilang baik-baik, misalnya  anda perlu untuk renovasi sehingga 
mengajukan kredit lebih, dan lain-lain  
*   Belum ada imbnya. Bisa anda urus di dinas tata kota sambil proses kpr jalan terus.  


Selamat mencoba! 


Jurus  ini  lebih  efektif biasanya  untuk  membeli  rumah  seken  atau  ruko  seken, dan 
bukan perumahan baru atau ruko baru. 
Setelah anda berhasil membeli rumah dengan cara ini, perbanyak asset property anda 
dengan cara membeli seperti ini kembali atau dengan dp, dll. 


Rahasia 100% berhasil cari pinjaman  
tanpa jaminan, tanpa bunga  dan bebas waktu melunasinya serta 
bagimana menjadi kaya  
dari pinjaman tersebut.


Kaget baca judulnya? 
Yang kami  maksud  dengan  pinjaman  tanpa  jaminan  adalah  dengan  kartu  kredit.
Trus kok tanpa bunga dan bebas waktu melunasinya bagaimana bias. Simak terus…ok. 
Belum  pernah  denger cerita  dengan  judul  tersebut?  Bukannya  selama  ini  sering 
kita dengar orang-orang malah banyak yang tercekik oleh karena kartu kreditnya. 
Ada  yang  sampai  tercekik  karena  memiliki  10  kartu  kredit  dan  semuanya  sudah 
jatuh  tempo, di  kejar-kejar debkolektor, malu  sama  teman-teman  sekantor atau  tetangga 
karena sering ditagih, dan lain-lain. 
Benar banyak  kisah-kisah  orang  tercekik  karena  pemakaian  kartu  kredit  yang 
salah, namun  disisi  lain  banyak  orang yang tadinya  gak  punya  apa-apa  malah  menjadi 
kaya karena memiliki kartu kredit. 
Orang yang  yang tercekik  biasanya  adalah  orang yang memakai  kartu  kredit 
untuk keperluan konsumtif semata dan tanpa hikmat memakainya, asal gesek! 
Sementara  orang yang sukses  dengan  kartu  kredit  karena  memakainya  dengan 
bijak. 
Tunggu, tunggu. 
Bukannkah kartu kredit hanya alat pembayaran, pengganti uang tunai? Betul! 
Tetapi  jika  anda  tahu  sisi  lain  kartu  kredit, anda  bias  memanfaatkannya  dengan baik.
Baiklah saya akan ceritakan kisahnya sebelum kita membahas lebih dalam kisah 
nyata ini : 
Suatu hari si A (demikian nama orang ini untuk menjaga kerahasiaannya), ketika 
masih jadi karyawan memulai usahanya, mulai dari kecil-kecilan. 
Alkisah usaha si A mulai lumayan maju, tapi ia  kekurangan modal. Mau pinjam 
ke Bank, belum tahu cara dan permainannya dan gak ada agunan. Mau pinjam ke kawan, 
kawan-kawannya kebetulan pada bokek juga, juga malu. 
Akhirnya ia datang ke seorang yang dianggapnya pintar bisnis, dan ia di sarankan 
untuk  buat  kartu  kredit, memanfaatkan  jabatannya  sebagai  karyawan, memakai  slip gajinya.
Berapa saya harus buat kartu kredit pak?. Tanyanya Buat saja sekalian di 10 bank,
jangan tanggungtanggung. 
Kemudian ia melakukan apa yang di ajarkan guru bisnisnya. 
Singkat  cerita  akhirnya  setelah  kurang lebih  satu  bulan  ia  keluar masuk  bank  ia 
memiliki 10 kartu kredit dan ia 
mendatangi guru bisnisnya. Pak, saya sekarang sudah memiliki 10 kartu kredit, sekarang harus di apakan?. 
Begini., kata  guru  bisnis  itu:  Sekarang kamu  perlu  berapa  juta  untuk  modal 
usahamu? 15 juta saja pak. Oke, gini : Sekarang dari setiap kartu kreditmu itu, kamu tarik
tunai setiap hari masing-masing 2 juta untuk 8 kartu kredit 
saja, lalu yang 2 jangan kamu pakai dulu... 
Jadi  kamu  akan  mendapat  sekitar 16  juta, 2  juta  perkartu  kredit  di  kali  8  kartu 
kredit, oke..dan  sekali  lagi  yang 2  dari  kartu  kreditmu  jangan  ditarik, untuk  membayar 
nanti jika masing-masing kartu kredit tersebut akan jatuh tempo!. 
Lalu  kamu  bisa  pakai  uang  tersebut  sebagai  modal  usahamu. Nanti  kalau  kartu 
kredit  mu  yang pertama  akan  jatuh  tempo, kamu  tarik  tunai  salah  satu  kartu  kreditmu 
yang tidak  dipakai  -  yaitu  yang 2  buah, ambil  2  juta  atau  secukupnya  untuk  membayar 
kartu  kredit  pertamamu  yang akan  jatuh  tempo, sehingga  kamu  tidak  keluar uang dari 
kantongmu  demikian  seterusnya. Kartu  kredit  yang  telah  kamu  bayar, besoknya  juga 
kamu bisa kamu tarik tunai lagi.... Semoga kamu segera sukses. Kata guru bisnisnya  


Si  A  melakukan  yang di  ajarkan  guru  bisnisnya.  Singkat  cerita  si  A  sukses  dan 
sekarang memiliki  took  dengan  nama  yang ia  berikan  sendiri  di  tokonya  di  beberapa 
tempat. Ia telah menjadi kaya dari kartu kredit. 
Mari kita pelajari lebih seksama kisah nyata ini: 


1. Bagaimana cara membuat kartu kredit? 
Kalau  anda  karyawan  beda  dengan  direktur atau  professional  atau  pengusaha.
Persyaratannya berbeda. Kalau anda karyawan cukup fotokopy ktp dan slip gaji terakhir, 
sedangkan kalau anda professional biasanya di minta fotokopy ktp, surat ijin profesi, dan 
bukti  penghasilan  asli  juga  rekening tabungan/Koran  3  bulan  terakhir,  sedangkan  kalau 
anda pengusaha anda biasanya di minta fotokopy ktp, fotokopy akte pendirian/SIUP/TDP 
dan juga rekening tabungan/Koran 3 bulan terakhir, juga NPWP. 
Sebaiknya siapapun anda lengkapkan fotokopy NPWP, buat NPWP gratis kok di 
kantor pajak,  sehari  juga  jadi. Karena  kalau  mau  pinjam  di  atas  50  juta  wajib  ada 
NPWPnya. Kemudian alangkah baiknya kalau rekening tabungan anda aktif dan bagus. 
Saya  akan  ajarkan  caranya  membuat  rekening tabungan  anda  bagus  walaupun 
anda tidak punya uang. Ini rahasia lho, jadi harus di jaga rapat-rapat, selama ini bank gak 
bisa tahan dengan ilmu ini. 
Sebelum  saya  ajarkan  cara  membuat  bagus  rekeningmu  saya  akan  menekankan 
pentingnya rekening Koran/tabungan bagi sebuah bank apabila anda mau membuat kartu 
kredit atau meminjam uang di bank. Kenapa? 
Anda  mengaku  pengusaha, walaupun  sudah  lengkap  SITU, SIUP/TDP/akte 
pendirian  usaha, dan  lain-lain  . tapi  rekening  anda  tidak  punya  atau  rekening anda 
jelek/tidak  layak, bank  tidak  akan  percaya  kepada  anda, dan  akan  sulit  memberikan 
pinjaman kepada anda.. 
Sebaliknya,  katakanlah  anda  tidak  ada  rencana  meminjam, tapi  rekening anda 
sangat  bagus  dan  aktif, mungkin  malah  bank  yang  akan  mengejar-ngejar anda  untuk 
menawarkan pinjamannya. 
Jadi kekuatan utama anda untuk berhubungan dengan bank, apalagi berhubungan 
dengan  pinjam  meminjam  adalah  transaksi  di  rekening anda, baik  rekening Koran  atau 
rekening tabungan. 


Jangan sedih dulu..saya akan ajarkan anda cara membuat rekening anda aktif dan 
bagus sehingga memudahkan anda dalam membuat kartu kredit atau mengurus pinjaman-
pinjaman jenis lain. 
Inilah yang telah dilakukan oleh salah satu miliarder ternama di bandung /kawan 
saya dan juga oleh beberapa orang yang telah sukses meminjam dibeberapa bank.. 
Yang jelas  setelah  buka  rekening, kamu  harus  buat  aktif rekening  tersebut. Hari 
ini anda setor. Besok atau dua hari lagi anda tarik. Anda setor lagi.kalau bisa di tambahin 
.kalau  gak  ada  ya  pinjam  uang teman  atau  orang hanya  untuk  dimasukan  nanti  juga ditarik lagi.. 
Lakukan  aktifitas  tarik  setor, tarik  setor  selama  kurang  lebih  3  bulan  dan seterusnya. 
Maka transaksi di rekening anda sangat bagus dan akan membuahkan hasil. 
Tenang saja  bank  gak  akan  nanya  kok.. Cara  inilah  yang  telah  dilakukan  oleh 
ribuan pengusaha sukses yang awalnya tidak banyak duit, dalam mengawali usahanya. 
Terus agar anda berhasil mendapatkan kartu kredit, pastikan anda mengisi dengan 
tepat dan selalu ingat apa yang telah anda isikan di aplikasi kartu kredit, karena nanti dari 
pihak  bank  akan  mengeceknya, baik  kepada  anda, teman  terdekat  anda  yang anda 
tuliskan di aplikasi, dan tempat kerja anda. Oke saya memberikan masukan kepada anda 
yang menjadi pengusaha, segera usaha anda dibadan 
hukumkan, entah  itu  dalam  usaha  perorangan, firma, yayasan, cv  ataupun  pt, dan  urus
surat menyuratnya dengan lengkap, supaya anda bisa meminjam ke bank lebih gampang
di samping ada ketentuan-ketentuan lainnya. 
Jadi  pastikan  sekali  lagi  syarat-syarat  dalam  membuat  kartu  kredit  anda 
lengkap.pasti anda akan mendapatkannya 


2. Bekerja sama dengan merchant! 
Kartu kredit bisa digunakan untuk menarik tunai di atm-atm, namun terbatas nilai 
penarikannya, paling banyak  60%  dari  kredit  limit  anda, belum  lagi  bank-bank  tertentu 
hanya membatasi jumlah yang kecil  yang bisa kita tarik tunai dalam atm, dan ada biaya 
yang cukup  besar lagi, misalnya  setiap  kali  menarik  di  atm  anda  di  kenai  biaya  50.000 
dan  juga  bunga  penarikan  tunai  di  bank-bank  tertentu  lebih  besar dari  pada  bunga pembelanjaan.. 
Oleh  sebab  itu  alangkah  baiknya  jika  anda  bisa  bekerja  sama  dengan  merchant-merchant. 


Merchant  adalah  toko-toko  atau  tempat-tempat  yang menerima  pembayaran 
dengan kartu kredit (kalau di Kediri anda bias dating ke Armada Kuak).  
Itulho yang di kaca-kacanya atau pintu masuknya ada tulisan visa atau mastercard atau bca card. 
Tanyakan  kepada  ownernya, bisa  tarik  tunai?  Biasanya  bisa, dan  memberi  tahu 
potongannya, anda tawar saja. 
Lebih  baik  lagi  kalau  owner merchantnya  kawan  anda  sendiri, bisa  gak  pakai 
biaya/potongan.heheehehehhe 
Kalau  di  Jakarta  dan  kota-kota  besar lainnya, banyak  yang mengiklankan  tarik 
tunai  dengan  potongan  dari  2  sampai  5  persen, rata-rata  3  persen  (lihat  saja  iklan-iklan 
tersebut seperti di Koran post kota, dan lain-lain. 
Ada juga yang dengan teknik membeli emas lalu jual lagi, biasanya potongannya 
malah lebih besar, jadi cari merchant saja, nego potongannya/casnya 


3. Bayar sebelum jatuh tempo agar tidak kena bunga  
Semoga  anda  tercerahkan, dan  segera  bertindak,  hati-hati  yang diajarkan  disini
bukan untuk kredit konsumsi tapi untuk usaha/bisnis. 
Bunga  kartu  kredit  memang  cukup  besar, karena  termasuk  kredit  konsumtif,
segera  setelah  anda  makmur/sudah  membaik  keuangannya  gantilah  ke  kredit  modal 
usaha  atau  lainnya, sehingga  kartu  kredit  anda  kembali  ke  fungsi  awal  sebagai  alat pembayaran. 


JALAN MENJADI PENGUSAHA TANPA MODAL SEPESERPUN


Inilah kisah pak A dalam memulai bisnis tanpa modalnya: 
Setelah berpikir dan merenung dan banyak bertanya kepada diri sendiri, kemudian
ia  mendapat  pencerahaan  Ia  datang ke  Tanah  Abang, dan  menemui  beberapa  orang 
pedagang pakaian disana, dan ia minta ijin untuk menjualkan baju-baju mereka. 
Setelah  keliling kesana-kemari  akhirnya  ada  beberapa  pedagang yang
mengijinkan  ia  menjualkan  pakaiannya  Kepada  pedagang yang setuju  kepada  dia  untuk 
menjualkan pakaiannya, ia minta foto-foto baju yang akan di jualnya. 
Kemudian dengan uang pinjaman sekitar Rp 35.000 ia memasang iklan di harian 
terkenal  di  Kalimantan,  oh  iya  pak  A  ini  tinggalnya  di  Jakarta  Bunyi  iklannya  kira-kira begini:  
Di  cari  agen  baju  muslim  untuk  daerah  Kalimantan  dan  sekitarnya, kualitas
bagus, harga murah, hub no 08xxxxxxx. 


Ternyata  ada respon dari iklan tersebut ada beberapa orang yang berminat untuk 
menjadi  agen  di  Kalimantan. Maka  pak  A  putar otak, akhirnya  ia  membuat  penawaran, 
agar bisa menjadi agen minimal pesanan sekian juta. 
Ternyata  ada  yang setuju  Kemudian  orang yang  setuju  jadi  agen  ini, meminta 
contoh barang untuk dikirim. Yang di lakukan pak A adalah mengirim foto-foto tadi dan 
menyuruh agen yang di Kalimantan untuk memilih sekaligus jumlah barang yang diminta 
Ajaibnya  si  agen  memesan  banyak  jenis  baju  yang ada  di  foto  dan  jumlahnya  cukup banyak. 
Akhirnya  si  agen  mentransfer sejumlah  uang kepada  pak  A. Dan  setelah  pak  A 
mendapat uang transferan ia datang ke Tanah Abang dan membeli barang  yang diminta 
sang agen, lalu mengirimkan ke Kalimantan. 
Demikian  usaha  ini  dimulai, Lama-kelamaan  pesanan  semakin  banyak  dari 
daerah.  Bahkan  sekarang bukan  hanya  Kalimantan, tapi  Sulawesi  dan  Indonesia  timur
lainnya pun digarapnya! 
Sampai-sampai kalau pak A belanja ke Tanah Abang ia harus membawa beberapa 
kuli, karena banyaknya pesanan. 
Setelah beberapa tahun dari usaha ini pak A memiliki uang yang cukup banyak, hasil dari 
keuntungan bisnisnya, bahkan sangat banyak.  
Suatu hari ia jalan-jalan ke daerah, ia ngobrol dengan 
seorang ibu. Ibu itu bercerita bahwa ia memiliki anak yang cerdas lulusan ITB dan pintar 
membuat barang-barang elektronik yang unik. 
Pak A timbul ide untuk menemui anak ibu ini. Setelah bertemu dengan anak ibu 
tersebut pak A mengajak kerja sama kepadanya untuk membuat barangbarang elektronik 
yang unik, ia  sanggup  menjadi  pemodal  dan  pemasarnya  sekaligus.  Anak  tersebut 
mengajak kawan-kawannya yang pintar elektronik bergabung dengan dia. 
Singkat cerita akhirnya pak A mendirikan PT untuk memproduksi barang-barang 
elektronik  yang unik  dan  di  butuhkan  masyarakat,  seperti  penghemat  listrik, penghemat 
telepon, remote pengendali mobil jarak jauh dan banyak lainnya. 
Pak  A  memiliki  karyawan-karyawan  terbaik  dari  negeri  ini  yang pintar-pintar
elektronik. Padahal pak A sendiri hanya lulusan D3 pariwisata 
Omzet  perusahaannya  sangat  besar, dan  setiap  6  bulan  sekali  perusahaan  ini 
mengeluarkan produk baru yang sangat dibutuhkan masyarakat. 
Ia kini telah menjadi miliarder! Ia menjadi miliarder tanpa modal sepeserpun!  
Sekarang mari kita simak cerita pak B 
Pak  B  memulai  bisnis  rekamaman  dvdnya  sebagai  berikut:  Suatu  hari  akan 
diadakan seminar bisnis oleh pembicara  yang cukup terkenal di negeri ini Ia mempunya 
ide untuk merekam acara tersebut dan di buat vcd. Ia datang kepada tukang video syuting
yang biasa  syuting pernikahan  dan  acara  hajatan. Kebetulan  orang tersebut  adalah 
kawannya. Ia bilang ke  kawannya itu, .Tolong kamu syuting acara ini, kamu buatin aku
vcdnya  100  dulu, sebulan  kemudian  saya  lunasi  semuannya, karena  jujur  saya  saat  ini 
tidak punya uang.. 
Dan  temannya  kebetulan  setuju. Akhirnya  acara  seminar itu  terdokumentasikan.
Dan si B dibuatkan dvd seminar itu sekitar 100 biji Kenapa tidak jadi dibuat vcd?  
Karena datanya tidak cukup kalau dibuat vcd akhirnya dibuat dvd. Lalu si B iklan 
kan di internet. Ngiklannya gratis lagi, karena di internet banyak tempat iklan bagus dan gratis! 
Ajaib! Pesanan banyak sekali! 
Dalam bulan pertama ia berhasil menjual sekitar 250 
keping! Anda  bayangkan  berapa  keuntungannya! Harga  satu  dvd  seminar itu  ia  jual 
Rp125.000. Jadi  akhirnya  ia  bisa  membayar  lunas  kawannya,  mendapat  untung  yang 
banyak dan akhirnya ia mendirikan PT nya dari sini.. 
Dan  penjualan-penjualan  berikutnya  lebih  fantastis  lagi, karena  memang
poduknya unik dan sangat diburu banyak orang di Indonesia ini. 


Dan si B sudah tidak mengurus bisnis rekamannya lagi karena sekarang ada orang
yang mengurusnya  sementara  si  B  banyak  membuka  bisnis  lainnya  yang lebih  Dahsyat 
lagi, seperti  bisnis  perkapalan  internasional, memiliki  bisnis  service  mobil  paling
bergengsi, perusahaan IT dan lain-lain. 
Si B telah menjadi miliarder! 
Sebenarnya banyak sekali teman-teman saya yang berhasil membangun bisnisnya 
tanpa modal. Tapi saya akan menceritakan dua lagi, karena yang penting intinya. 
Ini kisah sebut saja pak Hery 
Setelah  ikut  seminar entrepreneur, ia  memutuskan  untuk  memulai  bisnisnya.
Seperti kebanyakan orang, biasa.masalah modal Ia gak punya modal! 
Tapi ia mendapat pencerahan. Ia ingin memiliki bisnis percetakan. Ia mendatangi 
kawannya  yang memiliki  percetakan, ia  minta  dibuatin  kartu  nama  atas  nama  dirinya, 
disitu  ia  minta  ditulis  jabatannya  sebagai  bisnis  owner, dan  ia  memberi  nama  usahanya 
pada kartu namanya. 
Dan  ia  mencari  order dan  nanti  akan  dicetak  di  percetakan  kawannya  ini. Ia 
kemudian  mendatangi  Koran  lokal  untuk  memasang iklan  percetakannya, dan  bayar 
belakang.ngutang. 
Ia memberikan sentuhan berbeda dalam melayani customernya, dalam iklannya ia 
menuliskan: .Anda hubungi, kami datang melayani anda.. 
Ia juga memberikan nilai tambah yang tidak dimiliki oleh percetakan besar, antara 
lain, antar jemput naskah dan hasil, harga lebih murah dan lain -lain. 
Ternyata  memberikan  hasil, banyak  yang  akhirnya  mencetak  di  tempat  pak  hery
ini. Ia  memulai  bisnisnya  tanpa  modal, dan  sekarang kurang lebih  sudah  3  tahun  dari 
mulai  bisnis  ini, omzetnya  cukup  besar, karyawannnya  ada  beberapa  orang, ia  bisa  beli 
rumah, kendaraan, dan ajaibnya..sampai sekarang ia belum punya mesin cetak walaupun 
kliennya  sudah  banyak, baik  dari  kantor pemerintahan, swasta, perbankan  dan  lain-lain,
saya gak tahu kenapa alasan khususnya. Yang jelas ia bisa memulai bisnis percetakannya 
tanpa modal sama sekali.  
Ini kisah dari kota gudeg/jogjakarta 
Suatu  hari  ada  seminar  wirausaha. Sang pembicara  menyampaikan  ide  bisnis
kepada peserta, katanya: 
Di jogja ini banyak sekali mahasiswa, dan semuanya perlu makan, kalau rata-rata 
mereka  makan  sehari  3  kali, maka  kalau  jumlah  mahasiswanya  puluhan  ribu.jumlah
rupiah yang akan kita dapat betapa banyaknya.. 
Lalu  pembicara  itu  melanjutkan  pembicaraannya,  .Jadi  kesimpulannya  bisnis 
makanan di sini sangat bagus. Seminar selesai. 
Kemudian  sang pembicara  masuk  keruangan,  dan  ada  seorang mahasiswa 
mengikutinya. “Pak” sapa sang mahasiswa .”Ya, bisa dibantu?” 
“Tadi bapak katakan peluang bisnis makanan di sini sangat bagus, tapi kalau saya 
lihatnya lain pak, saya melihat semua orang/mahasiswa perlu mencuci baju. Dan ini saya 
lihat sebagai peluang yang luar biasa”. 
“Bagus, kalau  begitu  mulai  saja  bisnis  cuci  pakain”. “Gimana  caranya  pak?”
“Sekarang  kamu  tulis  apa  saja  hal-hal  yang  baik  dan  menguntungkan  bagi  para 
mahasiswa  sehubungan  dengan  bisnis  mencuci  pakaiannya. Kalau  sudah, kamu  buat 
brosur”. “Tapi kan saya belum punya mesin cucinya pak”. 
“Memangnya  buat  brosur harus  punya  mesin  cuci?”  kata  sang  mentor sambil  becanda.
“Buat brosur dulu”. 
Singkat  cerita  brosur telah  jadi, dan  mahasiswa  ini  menghadap  sang mentornya 
“Ini  pak  brosur sudah  jadi, terus  bagaimana?”, “Ya  dibagikan, disebar di  tempat-tempat
yang banyak anak kost dan mahasiswanya”. “Tapi saya belum punya mesin cucinya pak”. 
“Memangnya bagi brosur kamu perlu bawa-bawa mesin cuci?” 
Sambil  bingung sang mahasiswa  menuruti  nasehat  sang mentor. “Tunggu  dulu”.
“Kamu  sekalian  bawa  tas  besar ini, siapa  tahu  ada  yang langsung mau  mencuci”. “Pak! 
Bapak ini gila ya, kan saya belum punya mesin cuci”. “Sudah nurut saja, kan belum tentu
ada yang nyuci”. 
Akhirnya  ia  membagi-bagikan  brosur. Dan  benar  saja, ada  beberapa  orang yang 
langsung  ingin  mencuci, sehingga  tas  yang  ia  bawa  penuh  dengan  pakaian  kotor Ia 
langsung menghadap sang mentor. 
“Pak, anda  harus  bertanggung jawab!”. “Lihat  cucian  ini!”, sambil  membanting
tas  berisi  pakaian  kotor. Orang akan  marah  dan  bisa  membunuh  saya  kalau  tidak 
dicucikan  pakaiannya  ini, sedangkan  bapak  tahu  saya  belum  punya  mesin  cuci. “Bapak 
yang ngajarin gila, jadi bapak harus bertanggung jawab!”. “Tenang... Tenang”. 
“Silahkan  minum  dulu”, kata  sang mentor. “Ini  ada  telepon, silahkan  kamu
hubungi  orang-orang yang punya  mesin  cuci, dan  kamu  ajak  kerja  sama, kamu  cuci 
ditempat dia”. 
Setelah menelpon beberapa orang akhirnya ia menemukan orang yang bisa diajak 
kerja sama, akhirnya cuciannya bisa dicuci. 

Dan  ia  mendapat  untung dari  selisih/untung dari  pemasukan  dikurangi 
pengeluaran. Dan hari demi hari makin banyak order cucian. Dan sangat banyak!  
Saat  ini  loundry  ini  menjadi  salah  satu  loundry terbesar di  kota  jojga, dan 
menginspirasi berdirinya loundry-loundry di kota-kota besar diseluruh Indonesia! 
Sekarang saya  akan  menceritakan  bisnis-bisnis  saya  yang tanpa  modal  sama 
sekali dalam memulainya. 


Yang pertama bisnis event organizer. 
Saya  mulai  dengan  pelatihan-pelatihan  kewirausahaan  di  hotel-hotel  terkeren  di 
kota  saya. Saya  hubungi  beberapa  pakar kewirausahaan, kemudian  menawarkan  kerja 
sama, untuk mengadakan pelatihan di daerahku. 
Setelah  setuju  saya  menetapkan  jadwal. Saya  datang ke  hotel  yang akan  buat 
tempat latihan dan pesan tempat untuk hari dan tanggal saya akan pakai. Kemudian saya 
memasang iklan  di  harian-harian  terkenal  di  kota  ini, dan  bayar belakang, sekitar 30 
hari...pasang iklan boleh ngutang dulu lho...coba saja!  
Saya  juga  membuat  brosur-brosur yang menarik, dan  sekali  lagi  bayar  di belakang! 
Iklan  tayang! Brosur tersebar dimana-mana. Dari  iklan  dan  brosur ada  beberapa 
pendaftar! Dan  setelah  cukup  pendaftar saya  mengkonfirmasi  pelatih  dan  hotel  bahwa 
pelatihan  jadi  dilaksanakan. Beberapa  pakar kewirausahaan  berbeda-beda, ada  yang 
minta DP/bayar di muka dan ada yang percaya saja, yang penting dibayar nantinya. 
Yang minta  DP, ya  saya  bayar, karena  saya  juga  sudah  mendapat  uang dari 
peserta! Acara bisa berjalan dengan sukses, pelatih bisa saya bayar, iklan dan brosur dan 
pengeluaran yang lain bias saya bayar dan saya masih memiliki sisa yang cukup lumayan. 
Dari  awal  seperti  itulah  saya  mengembangkan  bisnis  event  organizer saya  yang 
berkembang ke acara-acara lainnya... 
Benar-benar gak pakai modal! 
Dan  ajaib  lagi  saya  sekarang  pasang iklan  sebagaimanapun  besarnya  dan 
memesan  hotel  kapanpun  di  tempat  saya  semuanya  oke, walaupun  saya  bayarnya  entah 
kapan, karena sudah terjalin hubungan yang baik dengan mereka! 
Berikut cerita teman dari Lampung 
Dia saat ini sedang dalam proses membuat wisata mainan air dan out bond senilai 
lebih dari 10 miliar. 
Dia  memakai  metode  tidak  keluar uang  sama  sekali/tanpa  modal  sama  sekali.
Mau tahu ceritanya? 
Dia  menemui  salah  satu  anggota  DPR, yang kebetulan  ketua  komisi, dan  yang
sering menjadwal pertemuan-pertemuan dengan pak walikota. 
Dia  presentasi  tentang  wisata  air/water boom  kepada  dia, dan  akhirnya  ia 
membuat  jadwal  ketemu  dia  dengan  walikota. Tapi  ternyata  beberapa  hari  kemudian 
kawan  dia  yang lain, setelah  mengetahui  niat  dia  membuat  obyek  wisata, ia  langsung 
menghubungi  protokoler  walikota  dan  meminta  menjadwalkan  pertemuan  dengan  dia, 
kebetulan sang protokoler ini kawan baiknya kawan dia ini. 
Ajaib, ternyata  sang protokoler ini  bukan  saja  menjadwal  dia  ketemu  dengan 
walikota, tapi  juga  dengan  bupati  di  lain  daerah,  kebetulan  bupati  ini  dulu  kawan  main 
sang protokoler ini. 
Teman saya ini kaget, bingung dan sangat bangga! Jadi ada peluang membuat dua 
tempat wisata, di kota dan di kabupaten tersebut. Akhirnya dia di tetapkan jadwal ketemu 
sang bupati dulu.  
Oke  Akhirnya  dia  mengundang rekannya  sekaligus  guru  dia  yang punya  wisata 
air sangat  terkenal  di  jawa  tengah  untuk  membantu  presentasi, juga  mengundang 
pabrikan waterslide dan fiberglass terbesar di Indonesia, untuk mendukung proyek ini. 
Akhirnya  pertemuan  dilaksanakan  dihotel  berbintang, dan  ajaib  lagi..sampai  saat 
ini dia belum keluar uang sepeserpun.. 
Untuk  pertemuan  besar ini  segala  biaya  di  tanggung oleh  pabrikan  water slide 
yang rencananya mengerjakan proyek besar ini. 
Akhirnya pembicaraan berlanjut, mencari investor dan lain-lain. Dia percaya, jika 
kawan  dia  bisa  membangun  objek  wisata  termegah  di  jawa  tengah  tanpa  modal 
sepeserpun. 
Sekarang mari  kita  ambil  intisari  dari  cerita-cerita  yang telah  saya  uraikan 
panjang lebar baik dari kawan-kawan atau guru-guru saya dalam bisnis dan saya sendiri, 
khususnya bagaimana memulai usaha tanpa modal, usaha apapun. 
Untuk setiap ide usaha yang telah anda miliki, coba anda ajukan pertanyaan pada 
diri sendiri: “Bagaimana saya memulai bisnis ini tanpa modal?” Siapa rekan-rekan  yang 
bisa saya berdayakan? Siapa orang-orang yang bisa diajak kerja sama? Selanjutnya anda 
harus mengambil tindakan. 
Berani memulai! 


Dan  dari  cerita-cerita  tadi  intisari  utamanya  adalah  kreatif, gila, dan  action  dan 
akrobat. Yang ke dua adalah milikilah network yang luas dan baik. Network disini adalah 
kawan-kawan  atau  rekan-rekan  bisnis, sehingga  usaha  anda  cepat  berkembang karena network ini.  
Network  ini  juga  yang bisa  anda  garap  untuk  memulai  bisnis tanpa  modal  anda.
Kawan  anda  usaha  apa?  Bagaimana  anda  bisa  bekerja  sama  degan  kawan  anda 
sehubungan dengan produk-produknya ? 
Oke, jadi  tidak  ada  alasan  lagi  untuk  anda  tidak  segera  memulai  usaha  sendiri,
baik ada modal ataupun tidak ada Peluangnya sama saja! 
Sukses untuk anda 
Jurus ampuh .pasti. memulai usaha/bisnis Coba anda perhatikan dua cerita ini:  
Cerita tentang si A dan si B 
Si A ingin sekali memiliki usaha fotokopy, ia lalu dating ke kawannya yang pinter 
yang  terkenal  pinter  ngitung-ngitung  bisnis, kawannya  adalah  seorang  akuntan  public yang terkenal. 
Ia menceritakan akan menyewa tempat, kredit mesin fotokopy dan memulai bisnis
jasa fotokopynya, dan mungkin sehari minimal bisa satu rim kertas hasil fotokopynya. 
Ia  minta  tolong di  itungkan  untung ruginya  bisnis  ini  kepada  kawannya  yang 
pintar akuntansi  tersebut. Setelah  diitung-itung  dengan  ilmu  akuntansinya,  temannya 
bilang kepada  si  A  :”Usahamu  tidak  layak  kamu  jalankan”. “Karena  BEP  /pulang
modalnya  lama  dan  gak  jelas  dan  penyusutan  mesin  fotokopy cepet  sekali, jadi  jangan 
dijalankan  bisnis  ini., demikian  nasehat  ahli  akuntan  itu. Lalu  si  A  pulang, dan  karena 
mungkin bodoh atau gimana. Si A tetap mulai menjalankan bisnis fotokopynya. 
Ajaib! 
Setelah  6  bulan  berlangsung, kawan  akuntannya  mampir tak  sengaja  ke  sebuah 
tempat fotokopy dan akan memfotokopy dokumennya, dan betapa kagetnya ia ketika tahu 
yang  memiliki  bisnis  fotokopy adalah  kawannya  dulu  yang  berkonsultasi  kepadanya. 
Lebih kaget lagi sekarang mesin fotokopynya sudah bertambah. 
Lalu sang akuntan bertanya:”Ini benar bisnis yang dulu 
kita  hitung dan  bahas  bersama-sama?”. “Betul  pak”, kata  si  A. Lalu  mereka  ngobrol 
panjang lebar tentang bisnisnya. Sepanjang jalan pulang si akuntan merenung. Kok bisa?  
Secara  itung-itungan  bisnis  ini tidak  layak  dijalankan  dan  harusnya  rugi, kok
malah jalan dan berkembang? Apa ada yang salah dengan ilmu akuntasi saya?  


Sekarang coba  kita  simak  cerita  si  B, ia  kawan  akuntan  terkenal  ini  juga  Suatu 
hari si B datang dan berkonsultasi, ia ingin memiliki bisnis angkutan kota/angkot. 
Ia bilang akan kredit mobil untuk angkot, dan ia juga menceritakan tentang kira-
kira pendapatan dan pengeluarannya.  
Akhirnya  dengan  teliti  dan  tepat  sang  akuntan  membuat  perhitungan. Setelah 
selesai  dihitung secara  tepat  dan  teliti  sang akuntan  berbicara  kepada  kawannya  ini/si 
B.”Kawan, menurut ilmu akuntansi..usahamu ini tidak 
layak  dijalankan”. Sang akuntan  menjelaskan  panjang lebar tentang ketidaklayakan  ini 
kepada si B. 
Tapi dasar si B entah bodoh atau ndableg ia tetap saja memulai usaha itu. Singkat 
cerita setelah setahun tidak bertemu, sang akuntan bertemu dengan si B ini. Sang akuntan
bertanya:  “Bisnis  apa  sekarang?”. “Bisnis  angkot  pak”, kata  si  B. Ya  pak, setelah  dulu 
saya  konsultasi  dengan  bapak  tentang bisnis  angkot  yang bapak  sarankan  tidak 
dijalankan, tapi karena saya pengin, maka saya jalankan saja, dan alhamdulilah sekarang 
angkotnya sudah dua. 
Hah?...............  
Singkat  cerita  sang akuntan  pamit. Sepanjang jalan  ia  merenung kembali. “Apa 
yang salah dengan itung-itunganku?”. “Apa ada yang salah dengan ilmu akuntansi?”. 
Setelah  ia  banyak  merenungkan  kisah  si  A  dan  si  B  akhirnya  ia  mendapat 
pencerahan!. 
Ahaaaaaa! 
Ternyata ada yang tidak bisa terbaca oleh ilmu akuntansi! Kalau melihat peluang 
usaha si A dan si B, jelas-jelas tidak akan untung atau malah akan rugi, tapi kenyataanya 
mereka  berkembang dan  maju! Ya! Ada  yang tidak  dibaca  oleh  perhitungan  akuntansi!
Yaitu: peluang! Sekali lagi: peluang! 
Saya akan menjelaskan lebih jelas tentang peluang ini dengan masuk lebih dalam 
kepada  cerita  si  A  dan  si  B  Ketika  bisnis  si  A  mulai  jalan, ternyata  tempatnya  menjadi 
semakin  rame, jalur angkot  banyak  yang lewat  depan  kiosnya, dan  banyak  perumahan 
baru di buka di sekitar daerah tersebut 
Kemudian  ada  orang-orang yang menitipkan  dagangan  di  tempatnya  untuk  dijualkan  di
tempatnya. 
Karena  banyak  orang lewat  ia  juga  sambilan  jualan  snack  dan  minuman  dan  es.
Karena makin banyak yang datang ia juga mulai melayani jilid, laminating dan lain-lain 

Dan  singkat  ceritanya:  ternyata  banyak  peluang-peluang yang  datang  menyusul 
setelah ia memulai usahanya, yang sama sekali tadinya tidak terpikirkan, demikian juga 
tidak bisa dilihat dari ilmu akuntansi. 
Dan semua itu memberikan pendapatan ekstra bagi si A, yang pada akhirnya juga 
bisa menambah jumlah mesin fotokopynya dan karyawannya! Sekarang kita lihat peluang
yang di dapat si B Setelah memulai bisnis angkotnya. 
Ternyata  ada  tetangga  yang  carter  mobilnya  kalau  pas  gak  jalan.  Ternyata  ada 
yang minta tolong untuk membawa barang-barang yang pindah. 
Ternyata ada  yang minta tolong untuk bawa beras. Ternyata ada pedagang sayur 
yang minta  tolong mengantar sayurannya  ke  pasar, dan  lain-lain. Semua  ini  tidak
terpikirkan di awal ia mau memulai usahanya... 
Dan  tentunya  hal  tersebut  diatas  menambah  income  si  B, yang bisa  menambah 
angkotnya  dalam  satu  tahun..dan  bukan  ia  lagi  yang nyupir, karena  ia  punya  supir, 
sehingga ia bisa melihat peluang bisnis lainnya.. 
Ahaaaaaaaaa! 
Kesimpulan sementara dari cerita si A dan si B adalah: 
Usaha  yang  diitung-itung  kelihatan  rugi, kalau  nekat  memulainya  atau 
menjalankannya pun bisa untung dan berkembang! 
Apalagi yang di itung-itung sudah untung! Jadi buka saja usahamu! Ada hal yang 
tidak dapat dibaca ilmu akuntansi dan para ahlinya ...yaitu antiakuntansi..adanya peluang 
yang pasti menyusul setelah kita memulai usaha..... 
Jadi  kalau  anda  ingin  memulai  bisnis  apapun...... Langkah  pertamanya  adalah 
memulai.... 
Mulai sekarang. 
Mulai dulu baru diitung! 
Bukan  diitung dulu, kebanyakan  ngitung gak  akan  mulaimulai! Anda  akan  takut 
dan pusing dengan itung-itungan yang anda mulai! 
Usaha  itu  untuk  dibuka  bukan  untuk  diitung! Buka  dulu....baru  itung-itungan 
dijalankan. Kita  akan  melihat  cerita  lain  dulu  ya, sebelum  kita  bahas  lebih  dalam  trik 
memulai usaha. 
Salah satu mentor bisnis saya menceritakan memiliki teman sebut saja .mister ide. 
yang memiliki ide bisnis luar biasa, banyak sekali ide-ide bisnisnya. Setiap kali ia ketemu
mentor saya itu ia selalu menceritakan ide-ide bisnisnya yang hebat. 
Lalu mentor saya bertanya: “Ide bisnis yang kemarin sudah dijalankan?”. “Belum 
pak, itu dilemari saya sudah banyak sekali proposal-proposal bisnis. Selemari?”. 
Luar biasa.. 
Mister ide ini, banyak ide tapi tidak satupun yang dimulai atau di jalankan. 
Sayang sekali! Jadi jangan seperti mister ide, oke... 
Nanti diduluin orang baru tahu rasa..  
Sekarang kita  lihat  si  akuntan  publik  terkenal  tadi,temannya  si  A  dan  si  B. Apa 
kabar nya dia? 
Ternyata kisah si A dan si B membuat dia banyak berpikir dan banyak menulis. Ia 
menulis buku tentang antiakuntansi. Nanti pasti buku ini laris! 
Tunggu  ya terbitnya. Ada  yang lebih seru untuk diceritakan di sini, tentang sang
ankuntan  publik  itu. Akhirnya  ia  ingin  punya  usaha  sendiri, apalagi  sekarang ia  kalah 
secara  ekonomi  dengan  teman-temanya  yang notabene  lebih  bodoh  dan  lebih  rendah 
pendidikan dan jabatannya dari dia.  
Singkat  cerita  ia  ingin  memiliki  toko mainan  anak-anak. Mungkin  biar kalau 
anaknya  pengin  mainan, tinggal  pakai, nanti  kalau  sudah  bosen  ya  bisa  dijual 
juga...heheheehehehehe 
Tapi, ia tidak punya modal untuk memulai usahanya Lho akuntan publik kok gak 
punya uang? 
Hehheheehehehe 
Jangan  heran, belum  tentu  tuh  yang direktur ini  dan  itu  punya  uang lho, yang 
golongan ini dan itu punya uang... 
Ya, ternyata  sang akuntan  juga  gak  punya  uang. Akhirnya  ia  pinjam  sana-sini, kawan,
mertua, kartu  kredit  dan  lain-lain  untuk  memulai  usahanya.  Akhirnya  ia  mendapatkan 
modal usahanya! 
Ia membuka toko mainan! 
Gila! 
Gila! 
Tahu kenapa? 
Dalam waktu kurang dari 3 tahun tokonya ada sekitar 39 tempat di jabotabek dan 
sekarang sedang pengembangan di seluruh Indonesia.. 
Pokoknya kalau ada toko mainan yang di mana-mana yang sangat terkenal itu ya 
punyanya sang akuntan ini. Lebih hebat lagi, ia tidak perlu menjagain tokonya, karena ia 
punya  system  dan  orang-orang yang bekerja  padanya. Kerjanya  sekarang  sang akuntan 
hanya  jalan-jalan  keseluruh  negeri  ini  sambil  mementori  orang-orang yang mau  jadi 
pengusaha. 
Oke... 
Jadi usaha itu harus di buka 
Segera dibuka 
Buka sekarang 
Dan anda akan jadi pengusaha! 
Setelah usaha dibuka apa yang perlu dilakukan? 
Bagaimana rahasia sang akuntan dalam waktu yang singkat bisa memiliki banyak 
toko dan tak perlu mengurus sendiri? 
Jawaban  yang pertama  adalah  sang akuntan  memiliki  system. Buatlah  sistem 
untuk usaha anda. Sistem yang sederhana saja dulu 
Buat  itung-itunganya  dulu. Buat  kartu  stock! Isi  tiap  hari, atau  seminggu  sekali,
dan  lain-lain. Dan  kalau  sudah  mungkin  segera  cari  karyawan, delegasikan  tugas-tugas 
yang tidak  rahasia  kepada  karyawan  anda, sehingga  anda  bisa  fokus  ke  hal  lainnya,
misalnya buka cabang, berkreatifitas, dan membuat/mencari nilai tambah dari usaha anda 
dan lainlain.  
Catat  setiap  transaksi  harian, buat  nota, catat  juga  setiap  pengeluaran.  Anda 
tinggal  cek, buat  sistem  yang tidak  bisa  karyawan  korupsi, di  samping yang utama 
memiliki hubungan yang baik dengan karyawan.  
Sehingga  anda  tidak  harus  selalu  menunggui  usaha  anda! Oh  ya,  berilah  nama 
usaha anda! Segera legalkan usaha anda. Putuskan mau di buat usaha perorangan, cv atau 
pt dan lain-lain. Supaya ke depan bisa mudah bila mau berhubungan dengan bank! 
Kalau  sudah  oke, segera  franchiskan. Franchise  adalah  cara  cerdas  untuk 
mengembangkan usaha. Orang akan membayar nama usaha anda dan system usaha anda. 
Lihatlah, indomaret, alfamart, primagama, dan  lainlainya. Mereka  besar  karena 
kejeniusan  franchise! Oke  tentang franchise  lain  kali  saja  kita  bahasnya, sekarang
kembali kepada trik memulai usaha Ini salah satu trik penting memulai usaha: 
Itung untungnya saja! 
Kebanyakan orang melihat hal buruknya saja, atau ngitung ruginya! Jelas karena 
yang dilihat hal negatif, maka akan pesimis, dan akhirnya gak berani buka usaha! 
Jadilah  optimis dan  positif. Salah  satu  mentor saya  yang konyol  tapi 
multimiliarder lho. mengatakan: optimis itu: oke, tidak miskin...tapi kalau pesimis: pasti
miskin! 


Hehehehehe 
Optimislah dalam memulai usaha! Jangan dengarkan cerita-cerita negatif tentang 
usaha dari teman-teman atau yang lain-lain Itung untungnya saja! 
Ingin untung berapa? Sehari? Sebulan? Setahun? Terus sikapi masalah  BEP dari 
sisi lain! Ingin BEP sebulan, setahun atau berapa tahun itu tergantung anda! 
Kalau pada umumnya BEPnya setahun bagaimana saya bisa membuatnya menjadi 
6  bulan, 4  bulan  atau  sebulan?  Hal  apa  yang perlu  saya  lakukan  untuk  mempercepat 
BEP? 
Tingkatkan promosikah? 
Tambah jam kerjakah? 
Atau yang lain-lain? 
Apa tidak boleh menghitung ruginya? 
Boleh, sangat sangat boleh! 
Tapi yang ini yang perlu anda hitung: 
Berapa  ruginya  kalau  anda  tidak  segera  memulai  usaha  anda, berapa  ruginya 
kalau  duluan  diserobot  orang  lain?  Betapa  ruginya  kalau  ternyata  usaha  anda 
meledak/booming dan anda tidak terlibat? 
Oke, jadi itung untungnya! 
Optimis! 
Tunggu om.... 
Apa yang perlu ditunggu? 
Modal! Sudahlah 
Take  action 


Artikel Terkait:
10 ALASAN BELAJAR BAHASA INGGRIS
RAHASIA DI BALIK PUASA
BAGAIMANA PACARAN MENURUT ISLAM ?
Facebook - Bermanfaat atau Berbahaya?
TIPS MEMBENTUK MINDSET POSITIF
EMPAT RESEP SUKSES Napoleon Hill
CARA CEPAT MENGHAPAL
Petunjuk Nabi Dalam Shalat ‘Ied

Tidak ada komentar:

Posting Komentar